Keluarga Presiden Soekarno
Kisah Perjalanan Cinta Orangtua Bung Karno di Bali Hingga Pindah ke Jawa Timur
Banjar Paketan, Desa Pakraman Buleleng memiliki catatan sejarah penting terkait kisah kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.
“Pemerintah pernah berencana akan memberikan penghargaan Wijaya Kusuma pada keluarga Almarhum Gede Mendra. Namun itu terhalang karena tidak memiliki bukti foto,” ungkapnya.
Nama Eka Wakya dikatakan Astawa mengadung arti ‘satu suara’.
Entah siapa yang membuat nama tersebut, namun diperkirakan sudah ada sejak zaman dahulu. Sekaa Gong KEW kerap kali tampil di berbagai ajang bergengsi, baik ditingkat kabupaten maupun provinsi.
Dalam pembinaan dan pelatihan, masing-masing sekaa memiliki pendalaman tersendiri. Seperti pada gong kebyar dewasa, disiapkan untuk membawakan gambelan khas Buleleng.
Sedangkan sekaa gong remaja dan anak-anak dilatih untuk pengawasan tabuh dan tari kreasi. Namun seluruhnya tetap memegang teguh kekebyaran khas Buleleng.
“Tiap minggu balai banjar kami tidak pernah sepi. Sekaa di sini memang semangat untuk berlatih. Sistem ngayah-nya pun masih sangat mengental. Kami tidak pernah mematok harga. Sudah terbiasa dari kecil menerapkan sistem ngayah. Dan hampir 99 persen anak-anak di sini bisa nabuh,” terangnya.
Disebutkan Astawa, keunikan gong kebyar yang dimiliki oleh Sekaa Gong KEW adalah terdapat pada bagian gongnya yang masih mepacek alias tidak digantung. Barungannya pun berbeda.
Khusus Di Banjar Paketan, pihaknya memiliki barungan delapan gangsa, empat kantilan, dua pemugal, dua penyahcah, empat calung, dua jegog, dua gong, terompong gede, terompong cenik, barangan besar dan lain sebagainya.
“Kalau zaman sekarang kan barungannya hanya empat gangsa. Sedangkan kami punya delapan dan calungnya kami punya empat. Ini artinya barungan kami itu merupakan barungan versi lama. Ini biasanya dipakai hanya untuk kegiatan upacara keagamaan karena identik dengan kesakralannya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kami gunakan, kalau ada pemesanan,” ungkapnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Cerita Cinta Orangtua Bung Karno di Bali Hingga Pindah ke Jawa Timur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/orangtua87.jpg)