Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Virus Corona

Segera Hubungi Dokter Jika Alami 5 Gejala Ini, Kemungkinan Anda Terinfeksi Covid-19

Gejala umum yang dirasakan oleh para penderita di antaranya, demam, batuk, sesak napas, sakit kepala, kehilangan penciuman maupun perasa

Editor: muhammad irham
https://harakatuna.com/
Perawatan Pasien Covid-19 oleh Tim Dokter. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gejala seseorang terinfeksi virus corona, sudah banyak diketahui. Gejala umum yang dirasakan oleh para penderita di antaranya, demam, batuk, sesak napas, sakit kepala, kehilangan penciuman maupun perasa, dan masih banyak lagi.

Selain gejala tersebut, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan agar kita segera mencari perawatan medis darurat jika mengalami tanda-tanda berikut ini:

1.  Kesulitan bernapas

2. Nyeri terus-menerus atau tekanan di dada

3. Merasa kebingungan

4. Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga

5. Bibir atau wajah kebiruan

Namun, sepanjang masa pandemi ini kita terus menemukan gejala-gejala baru pada orang yang dinyatakan mengidap Covid-19 seperti munculnya ruam hingga mata merah.

Menurut dokter spesialis paru, Joseph Khabbaza, MD, sebenarnya beberapa reaksi ini cukup normal. Tetapi ada juga gejala yang masih dibicarakan oleh pakar kesehatan lainnya.

"Saya selalu mendapatkan pesan teks dari orang-orang yang bertanya apakah sesuatu yang mereka alami adalah normal," katanya.

"Nah, tidak ada yang benar-benar abnormal ketika bicara soal Covid-19, secara harfiah hampir semuanya berjalan dan kami tidak tahu persis mengapa," lanjut dia.

Khabbaza mengungkapkan, bahwa dua orang yang mungkin tampak mirip di atas kertas dapat bereaksi dengan cara yang sama sekali berbeda terhadap Covid-19.

Adapun, dia menjelaskan beberapa gejala dari virus corona yang tidak biasa dan sudah sering muncul, seperti yang dilansir dari laman Cleveland Clinic berikut ini.

1. Kabut otak, halusinasi, dan delirium

Gejala-gejala ini cukup sering dialami. Sementara komunitas medis masih berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan kabut otak (brain fog).

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved