Penangkapan Teroris
19 Terduga Teroris Ternyata Anggota FPI Aktif, Akui Berbaiat ke ISIS hingga Siap Bom Bunuh Diri
Sebelumnya Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap 19 terduga teroris tersebut pada 6 dan 7 Januari 2021 di Makassar.
"Adapun saya ditahan atau ditangkap di kantor polisi Polda Sulawesi Selatan, karena saya berbaiat dengan Daulatul Islam. Yang memimpin Daulatul Islam adalah Abu Bakar Al-Baghdadi, saat deklarasi FPI mendukung Daulatul Islam," ujarnya.
Lebih lanjut ia menyatakan, acara deklarasi berbaiat terhadap ISIS tahun 2015 lalu dihadiri oleh beberapa pimpinan FPI seperti Munarman, yang saat ini menjabat sebagai pengurus FPI pusat.Baca Juga: Polisi Temukan Satu Transaksi dari Rekening FPI Mengarah ke Istri Teroris
Ada Satu Keluarga
Karopenmas Polri Brigadir Pol Jenderal Rusdi Hartono menjelaskan tujuh diantaranya merupakan tersangka teroris yang ditangkap di Gorontalo dan sisanya, 19 tersangka teroris ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan.
“Tujuh teroris Gorontalo ini dikenal dengan Ikhwan Pohuwato yang bergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah. Jamaah Ansharut Daulah ini tentunya berafiliasi dengan ISIS,” ujar Rusdi saat jumpa pers di Bandara Soekarno Hatta, Kamis (2/4/2021).
Rusdi menambahkan tujuh tersangka teroris Ikhwan Pohuwato ini telah mempersiapkan diri melakukan pelatihan fisik. Mulai dari bela diri, memanah, melempar pisau, menembak dengan senapan angin serta kemampuan untuk merakit bom.
kelompok ikhwan Pohuwato tersebut telah merencanakan kegiatan penyerangan pada Mako Polri, penyerangan rumah dinas anggota Polri, rumah penjabat di Gorontalo.
“Mereka juga berecana melakukan perampokan pada beberapa toko yang ada di sekitar gorontalo,” ujar Rusdi.
Lebih lanjut Rusdi menjelaskan untuk 19 tersangka teroris dari Makassar ini ditangkap pada 6 dan 7 Januari 2021. Kelompok ini juga bagian dari Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi kepada ISIS.
Menurut Rusdi, kelompok Makassar ini memiliki rencana kegiatan yang akan mengganggu Kamtibmas.
“Kelompok ini memiliki mental untuk melakukan bom bunuh diri,” ujar Rusdi.
Di antara 19 tersangka teroris tersebut terdapat satu keluarga. Mereka yakni anak dari pasangan suami istri, Rullie Rian Zeke dan Ulfa Handayani Saleh, pelaku pemboman Gereja Katedral di Jolo Filipina pada 2019 lalu.
Rusdi menjelaskan keluarga Rullie Rian Zeke memiliki lima anak yang satu di antaranya sekarang ditahan oleh pihak keamanan Filipina karena terlibat aksi terorisme.
“Dua orang anak bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Kemudian satu masih ada di Surah dan satu tertangkap dari 19 orang teroris ini di Makassar,” ujar Rusdi.
Selain anak dan istri, menantu Rullie Rian Zeke bernama Andi Baso juga masuk dalam jaringan teroris. Andi Baso terlibat pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda pada 2016.