Jumat, 29 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bitung

Upacara Tulude Pakai 3 Bahasa: Sangir, Indonesia dan Inggris

Tembonangu I Amang Bataha Lahansang Malintoi dingangu inang leadateng seng nasahampi (Bahasa Sangir).

Tayang:
tribunmanado.co.id/Christian Wayongkere
Pelaksanaan Upacara Adat Tulude yang dilaksanakan oleh Ormas Nusa Utara Kota Bitung. 

Kemudian masuk pada Tamong Banua Dumolong Banala atau Kue Adat Tamo Memasuki Bangsal, upacara Adat Tulude.

Dua kue adat Tamo masuk ke bangsal di arak tarian Gunde dan diiringi alat musik Tagongong.

Kue Adat Tamo oleh si pemasak ulung, adalah santapan yang baik untuk semua orang.

Dalam upacara juga berlangsung Menahulending Banua atau Doa Pengakuan penyerahan-permohonan, yang dikalimatkan oleh Yekonia Nanangkong.

Sasalamate atau ungkapan hikmat yang mengandung keselamatan, oleh Nimot Salauhiang.

Tiba pada puncak upacara Adat Tulude Memoto Tamo atau Pemotong Kue Adat Tamo, dilakukan oleh seorang perumpang bernama  Afni Salauhiang dan laki-laki Rafles Masoara.

Lalu ada doa umum dari Agama Kristen dan Islam. Hingga penampilan adat Nusa Utara seperti Tarian Masamper, Turunan dan doa makan oleh Pendeta Jerry Kalebos.

Maurits Mantiri yang juga Wakil walikota Bitung dan Wali kota Bitung terpilih mengaku sangat terkesan dengan pelaksanaan Upacara Adat Tulude, yang menggunakan tiga bahasa.

"Ini sangat luar biasa, kami beri apresiasi yang tinggi kepada panitia pelaksana dan ormas Nusa Utara. Ini menjadi modal bagi kota Bitung lewat pemerintah nanti, sebagai pendukung mengembangkan sektor wisata adat dan budaya untuk wisatawan lokal dan mancanegara," tutur Maurits.

Dia berharap kedepan, bisa dikemas dengan memilih bahasa lainnya seperti bahasa Mandarin.

Karena jika dunia wisata di Sulut sudah di buka kembali, akan menarik minat wisatawan dari Tiongkok untuk datang ke Bitung lalu disungguhkan pagelaran adat budaya yang dipadukan dengan berbagai bahasa.

Wisatawan dari Tiongkok mengalami puncaknya pada medio 2019, oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey membuka jalur penerbangan langsung dari sana ke Manado.

Namun memasuki tahun 2020, wisatawan dari Tiongkok termasuk luar negeri lainnya distop karena pandemi Covid 19.

Johnly Tamaka ketua umum panitia menambahkan, pihaknya sudah sejak awal perencanaan upacara Tulude akan menggunakan Bahasa Inggris.

"Jadi umumnya setiap buat upacara Adat Tulude hanya pakai bahasa Sangir dan Indonesia, tapi kali ini kami buat berbeda menambahkan bahasa Inggris. Ini bentuk menarik simpatik dan perhatian wisatawan untuk menyaksikan," tutur Tamaka.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved