Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

HASIL Penelitian, Soal Siapa Yang Lebih Banyak Terpapar Covid 19, Pria atau Wanita

Simak hasil penelitian tentang covid 19 atau virus corona. Mengenai siapa yang banyak terpapar covid 19, pria atau wanita.

Tribunnews
Penelitian tentang siapa yang lebih banyak terpapar covid 19. Pria atau wanita. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini tidak melaporkan kematian COVID-19 berdasarkan jenis kelamin, tetapi para ahli tidak melihat alasan tren tersebut akan berbeda di tempat lain di negara ini.

"Beberapa alasan yang mendasari mengapa COVID-19 mungkin lebih mematikan bagi pria daripada wanita mungkin termasuk fakta bahwa penyakit jantung lebih sering terjadi pada pria lanjut usia daripada pada wanita lanjut usia," ujar ahli penyakit menular dan salah satu pendiri dari Jaringan Penyakit Menular Global dan Epidemiologi (GIDEON), Dr. Stephen Berger.

"Studi juga menemukan bahwa tekanan darah tinggi dan penyakit hati lebih umum pada pria dan ini semua berkontribusi pada hasil yang lebih negatif dengan Covid-19," imbuhnya.

Enzim dan Sistem Kekebalan

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 10 Mei 2020 kemarin melaporkan, pria memiliki konsentrasi angiotensin-converting enzyme (ACE2) yang lebih tinggi dalam darah mereka daripada wanita.

Karena ACE2 memungkinkan virus corona untuk menginfeksi sel-sel sehat, ini dapat membantu menjelaskan mengapa pria lebih rentan terhadap Covid-19 daripada wanita.

Para peneliti juga melaporkan, sistem kekebalan juga bisa menjadi faktor.

Berger menjelaskan genetika mungkin juga memainkan peran besar.

Wanita memiliki kelebihan kromosom X, sehingga sistem kekebalannya lebih kuat daripada pria. (Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)

Beda Pendapat AS dan Cina soal Misi Tim Ahli WHO di Wuhan

Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/01) meminta Cina untuk mengizinkan tim ahli dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mewawancarai "perawat, mantan pasien, dan petugas laboratorium" di pusat kota Wuhan. Hal ini langsung mendapat teguran dari Beijing.

Tim ahli dari WHO yang bermaksud menyelidiki asal-usul virus corona baru tiba di Wuhan pada 14 Januari silam, di mana kemudian mereka mengadakan telekonferensi dengan mitra Cina selama karantina dua minggu sebelum memulai penyelidikan.

AS yang menuduh Cina menutup-nutupi asal muasal wabah, menyerukan "transparansi" dalam investigasi yang akan dilakukan WHO. AS juga mengkritik ketentuan kunjungan ke negara itu, di mana sebelumnya para ahli Cina telah melakukan penyelidikan tahap pertama.

Garrett Grigsby dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, yang memimpin delegasi AS, mengatakan Cina harus berbagi semua studi ilmiah terkait sampel hewan, manusia dan lingkungan yang diambil dari pasar di Wuhan, tempat virus SARS-CoV-2 diyakini pertama kali muncul pada akhir 2019.

"Analisis komparatif dari data genetik tersebut akan membantu mencari sumber yang tumpang tindih dan potensial dari wabah yang memicu pandemi COVID-19," kata Grigsby kepada Dewan Eksekutif WHO.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved