Jumat, 8 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rp 99 Triliun untuk Antisipasi Krisis Pangan

Kementerian Keuangan menyatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan dimaksimalkan.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie Tombeg
Tribun Manado / Hesly Marentek
Stok beras di Pasar Beriman Wilken Tomohon 

"Hampir setengah jumlah penduduk dunia ada di kawasan asia. Termasuk di tiga negara terbesar di China, India, dan di Indonesia. Situasi ini membuka peluang yg menjanjikan bagi sektor pangan. Kebutuhannya sangat besar, pasarnya sangat besar dan akan terus tumbuh," kata Presiden.

Presiden mengatakan bahwa pengembangan produksi pangan harus melompat dengan cara yang baru, dengan skala produksi yang lebih besar. Hal itu bisa dilakukan dengan melibatkan peran sentral korporasi petani. Selain itu dengan mengedepankan nilai tambah pada tahap on farm maupun off farm.

Baca juga: Beli Mobil Baru Wajib Sertakan Surat Punya Garasi dari Kelurahan, Aturan Khusus untuk Warga DKI

"Dan inovasi teknologi modern yang lebih efisien dan produktif. Dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik pada para petani dan sektor pendukungnya," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh paling tinggi yakni sebesar 16,24 persen dibandingkan sektor lainnya pada Kuartal II 2020. "Pertumbuhan PDB kita pada kuartal II, kuartal III (2020) itu kurang lebih tumbuh 16,2 (persen) dibandingkan yang lain," ujar Syahrul.

Berdasar data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), PDB sektor pertanian menjadi penyumbang paling tinggi untuk pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2020 yang turun 4,19 persen (q to q), sedangkan secara tahunan atau year on year (yoy) turun 5,32 persen.

Ia menambahkan bahwa sektor pertanian menunjukkan hasil yang memuaskan."Dalam masa pandemi, lebih khusus pertanian telah menunjukkan prestasi-prestasi yang sangat gemilang," kata Syahrul.

Meskipun kini ekonomi Indonesia memasuki zona resesi karena mengalami minus dua kali berturut-turut, namun dianggap lebih baik. Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III 2020 minus 3,49 persen, dibandingkan pada Triwulan II 2020 yang minus 5,32 persen.

"Artinya dengan triwulan II, triwulan III, minus pertumbuhan ekonomi Indonesia dari minus 5 ke minus 3," jelas Syahrul.

Ia pun meyakini perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut didorong kontribusi dari sektor pertanian. "Saya yakin persis, itu adalah bagian bagian dari kontribusi pertanian yang dijalankan oleh kita semua," papar Syahrul. Menurutnya, Indonesia memiliki klimatologi pertanian yang cukup bagus untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, khususnya demi mendukung ketahanan pangan dan gizi.

"Negara kita adalah negara yang sangat besar tapi sangat kuat, memiliki agroklimat yang cukup baik, dengan berbagai hal. Kekuatan geografis maupun sumber daya alam yang tersedia cukup baik," pungkas Syahrul. (Tribun Network/fik/van/fit/wly)

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved