Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

‘Habitus New Normal’ dalam Pengembangan Budaya

Apapun situasi dunia, kita patut berkebudayaan terus menerus, dengan pelbagai model berkebudayaan.

Editor: maximus conterius
Dokumentasi pribadi
Ambrosius Loho, Dosen Unika De La Salle Manado 

Oleh:
Ambrosius Loho M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
Pegiat Filsafat-Estetika

MANUSIA adalah makhluk potensial. Setiap kerja-kerja di bidang kebudayaan, selalu ada potensialitas. Terkait itu, dunia kini (baca: Era new normal), membutuhkan ekspresi budaya yang masif, juga karena ada sebuah kewajiban untuk memanfaatkan semaksimal mungkin, dengan platform online. Ya, manusia memang selalu potensial.

Aristoteles pernah mengatakan bahwa sebuah potensialitas, tidak akan menjadi aktualitas, ketika potensialitas itu tidak digerakkan oleh penyebab efisien (baca: Manusia), karena potensialitas tidak akan bisa ‘berubah’, tanpa gerak untuk sebuah perubahan. Maksud dari Aristoteles, sebetulnya menyatakan bahwa setiap manusia harus mengaktualkan potensinya, supaya bisa menjadikan itu aktualitas.

Maka terkait itu, perlu ditegaskan lagi bahwa manusia adalah subjek yang sangat tepat dan layak untuk mewujudkan aktualitas itu. Bandingkan saat ini, kerja-kerja, terutama di bidang budaya, terus diupayakan, kendati kita sedang berada di tengah wabah pandemi. Kerja-kerja budaya kini, tampak terfokus pada pemanfaatan secara maksimal platform digital, seperti hasil-hasil kerja di bidang budaya yang dilakukan secara virtual.

Kendati demikian, sebetulnya kerja-kerja ber-platform digital yang tampak saat ini, tidak semata-mata dijalankan karena masa pandemi Covid-19 telah melanda dunia termasuk Indonesia, tapi dalam konteks ekspresi budaya di bidang seni, misalnya, dunia kesenian memang sudah berada pada model kerja ber-platform online. Walaupun memang, hal itu semakin terbuka, baik waktu maupun kesempatan, ketika kita berada di masa pandemi Covid-19 ini. Bandingkan model-model peng-cover-an sebuah lagu yang di-upload di berbagai sosial media, yang sudah dipraktikkan oleh banyak seniman (penyanyi-musik) sebelum masa pandemi ini.

Berbanding lurus dengan hal tersebut, dalam diri subjek manusia, perlu usaha yang keras untuk bisa membaca peradaban dan kebudayaan yang ada di sekelilingnya, membentuk diri, dan menafsirkan kebudayaan itu. Demikian pun, kebudayaan harus dilihat sebagai sesuatu yang positif sebagai hal yang baik dan perlu diwariskan turun temurun. Dengan kata lain, manusia pada dasarnya harus selalu terbuka pada tradisi, budaya dan perkembangannya. Tradisi budaya juga sesungguhnya menyimpan hal yang masih harus terus digali dan diperjuangkan (bdk. manusia sebagai pelaku kebudayaan). Jadi fakta bahwa pandemi Covid-19 telah melanda dunia saat ini, harus dibaca dalam kerangka kebudayaan. Maksudnya, apapun situasi dunia, kita patut berkebudayaan terus menerus, dengan pelbagai model berkebudayaan.

Dengan demikian, kebiasaan berkebudayan sepanjang waktu, harus pula dijadikan habitus baru, apalagi di situasi new normal saat ini, dan seterusnya. Adapun habitus atau kebiasan baru dalam pengembangan kebudayaan, akan harus diciptakan oleh setiap subjek kebudayaan. Jika habitus telah tumbuh, maka kebudayaan semakin dimantapkan dalam berbagai model pengembangannya. Semakin dibentuk sebuah habitus baru, terutama di era new normal, kebudayaan baru akan ditemukan pula.

Maka untuk menegaskan ide dan pemikiran di ata, Pierre Bourdieu sang filosof dan Sosiolog Perancis pernah mengatakan bahwa manusia harus menumbuhkan habitus (dalam arti kebiasaan seorang individu, juga berarti struktur mental/kognitif). Habitus digunakan pula untuk menghadapi kehidupan sosial dan budaya (yang senantiasa berubah). Dengan habitus, subjek/manusia dibekali serangkaian fondasi/skema yang digunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia di luar diri manusia. Melalui pola-pola itulah subjek (manusia) memproduksi tindakan (dalam budaya) dan pada akhirnya manusia akan menilainya. (Bdk. Philip Smith, Culture Theory, 2009:128).

Sejalan dengan itu, kita pun harus menyadari bahwa budaya terlekat erat dengan manusia. Kita tidak pernah bisa memisahkan budaya dari manusia. Maka karena kita satu dengan budaya, kita pun akan menyadai bahwa bahwa sebagai subjek, manusia harus membaca kebudayaan dan menafsirkan kebudayaan serta mengartikulasikan makna yang tersembunyi di balik kebudayaan itu. Kita lahir dari budaya yang pada saat yang sama akan menggugah kita untuk memberi tafsiran baru dengan membacanya Dengan membaca kebudayaan sebagai sistem makna, niscaya kita akan menemukan sesuatu, menuju ke arah yang membuat budaya lebih beradab, lebih dipahami dan lebih bermakna. Salam budaya. (*)

Baca juga: Tetty Paruntu -Sehan Landjar Janji Naikan Harga Cengkih Pala & Kopra, Jika Terpilih di Pilkada Sulut

Baca juga: Fakta Tentang Donald Trump, Ternyata Pernah Main Film Home Alone, Berikut Cuplikan Videonya

Baca juga: Tentang Maaher At-Thuwailibi, Nikita Mirzani: Gue Malah Pengin Berantem Sama Dia

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved