HUT TNI
Daftar Panglima TNI Sepanjang 75 Tahun, Ada Nyaris Dibunuh G30S hingga Jadi Presiden dan Wapres
Sejarah Tentara Indonesia mengalami beberapa fase, hingga menjadi TNI yang saat ini merayakan HUt ke-75
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID -Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari Ulang Tahun ( HUT) ke-75 pada 05 Oktober 2020
Sejarah Tentara Indonesia mengalami beberapa fase, hingga menjadi TNI.
Awalnya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), kemudian berubah lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dalam sejarahnya, pada masa Demokrasi Terpimpin hingga masa Orde Baru, TNI pernah digabungkan dengan Polri.
• Kalimat atau Kata-kata Mutiara Ucapan Selamat HUT ke 75 TNI, 5 Oktober 2020: Jayalah TNI
• Ini Bahaya Jika Kita Biasa Terbangun Tengah Malam, Jam 1-4 Bertanda Buruk Lho
Penggabungan ini disebut dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ( ABRI).
Pemisahan Polri dan TNI, sesuai Ketetapan MPR nomor VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan Polri dan Ketetapan MPR nomor VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan peran Polri.
Sejarah keberadaan TNI pun tak lepas dari kepemimpinan para Panglima.
Saat ini, TNI dipimpin oleh Panglima Marsekal Hadi Tjahjanto yang dilantik Presiden RI Joko Widodo pada Jumat (8/12/2017)
Hadi merupakan Panglima TNI kedua yang berasal dari TNI angkatan Udara.
Panglima TNI adalah pejabat di pucuk pimpinan TNI yang mempunyai wewenang komando operasional militer dalam menggerakkan pasukan.
Dilansir dari wikipedia, Presiden Soekarno menunjuk Suprijadi sebagai Pemimpin Tertinggi TKR pada Oktober1945. Namun Suprijadi tak pernah dilantik karena tak muncul. Sehingga anggota TKR menggelar konperensi memilih pemimpinnya.
TKR inilah kemudian berganti nama ABRI hingga terakhir menjadi TNI setelah pisah dari Polri.
Posisi tersebut pertama kali dijabat Jenderal Soedirman. Namun sebelum, Jenderal Sudirman terpilih oleh anggota TKR. Ada nama Letnan Jenderal Urip Sumohardjo yang menjabat Kepala Staf TKR pada 1945-1946.
Ketika Jenderal Soedirman wafat, tidak dipilih panglima baru. Kolonel TB Simatupang menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) yang membawahi para kepala staf angkatan.
Posisi KASAP dihapus pada 1954 dan diganti dengan jabatan Gabungan Kepala-Kepala Staf, yang ketuanya dijabat secara bergiliran dari setiap angkatan hingga 1962.