Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu Tribun Manado

Memahami Selibat dan Seksualitas Manusia

Mereka merelakan “keintiman hubungan pria dan wanita” dan tidak mau menikmatinya demi Kristus dan demi nilai-nilai positif yang dipersembahkan.

Moh Habib Asyhad
Suster Lucy Agnes, putri keluarga Bos Djarum yang menolak hidup mewah dan memilih jadi biarawati. 

Oleh
Drs Fransiskus Sili MPd
Guru SMK Negeri 5 Manado

DALAM suatu diskusi di kelas, para siswa saya berikan stimulus untuk berdiskusi: apakah para frater, bruder dan suster masih menghayati seksualitasnya? Sering dalam percakapan informal dengan umat non-Katolik, mereka mempertanyakan bentuk hidup selibat dikaitkan dengan penghayatan seksualitas manusiawi. Diskusi dan percakapan inilah yang mendorong saya mendalami pokok ini.

Ada macam-macam istilah untuk menandai bentuk hidup ini dalam Gereja. Namun, istilah yang lazim dipakai untuk itu adalah “selibat”. Istilah ini berasal dari kata Latin “caelebes” yang berarti “sendiri” atau “single” atau “bujang”, yang terutama digunakan dalam hubungan dengan status seorang pria yang tidak menikah, entah karena belum menikah atau menduda. Dalam arti tertentu, istilah ini juga problematis, orang yang hidup tidak menikah (baik hidup sendirian maupun bersama) karena perceraian, pisah ranjang, janda atau demi mempertahankan kebebasan, karier profesionalitas adalah orang-orang yang hidup selibat.

Tetapi hidup selibat yang dimengerti di sini yakni praktik hidup yang dijalani oleh seseorang bukan dalam arti fisik-biologis tetapi suatu sikap religius dalam hubungannya dengan Allah atau “Demi Kerajaan Allah”. Maka mengikuti pandangan Bagus Irawan, saya mengusulkan istilah yang lain, selibat bakti, meski tetap mempertahankan arti aslinya dengan makna orang yang dengan kebebasan dan kerelaan penuh menjawab panggilan Allah untuk berkarya demi Kerajaan Allah.

Orang yang masuk kelompok ini mengikrarkan bentuk hidup yang memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus kepada dunia, dengan meninggalkan nilai tertentu dalam hidup. Salah satu nilai itu ialah kepenuhan seksual. Dengan maksud inilah seorang yang menjadi religius, entah dia seorang imam atau bukan memilihnya.

Dalam hal ini sering kita mengatakan “kaul kemurnian”. Sebenarnya istilah ini kurang tepat. Suami isteri pun harus hidup murni. Kemurnian tidak hanya keutamaan kaum religius. Kaum religius mengucapkan ‘janji’ (kaul) untuk melepaskan diri dari kegiatan seksual, maka lebih tepat dikatakan mereka mengucapkan kaul bertarak. Dan karena menurut orang Kristen, seksualitas diwujudkan dengan layak dan hormat, hanya dalam perkawinan, maka mereka harus tidak kawin. Salah satu motivasi pilihan untuk selibat yang tidak diragukan adalah panggilan untuk berkarya demi Kerajaan Allah.

Injil Matius menyebut tiga macam orang yang tidak dapat kawin: “Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri demi kerajaan surga” (Mat. 19:12).

Sesungguhnya misteri selibat terletak pada alasan “demi Kerajaan Allah” karena selibat itu sendiri mendapat dorongan dan inspirasi dari Allah sendiri. Inilah yang merupakan jantung hidup selibat. Pada hakikatnya, selibat berarti “tertangkap oleh Kristus”. Ia memesona bagi kaum selibater begitu total, sehingga karenaNya, mareka rela untuk tidak kawin.

Di sini selibat dimengerti juga sebagai suatu gaya hidup. Selibat sebagai gaya (bentuk, cara) hidup dalam Gereja kiranya dapat disejajarkan dengan bentuk hidup orang kawin (berkeluarga). Selibat sebagai suatu gaya hidup, tidak pertama-tama muncul dari suatu kesimpulan apriori: selibat adalah ungkapan iman. Selibat sebagai suatu bentuk kehidupan dalam Gereja kiranya muncul spontan dan fungsional pada suatu saat perkembangan sejarah Gereja yang dihayati dan direfleksi terus-menerus dan berkembang, sampailah pada suatu kesimpulan iman. Selibat dihayati sebagai panggilan Allah. Hubungan antarselibat dan motif iman dalam penghayatan dan refleksi yang terus menerus itu, tampak jelas. Artinya, jika orang memilih hidup selibat, motif iman pasti terjamin. “Di balik gaya diandaikan motif”. Selibat secara esensial merupakan pilihan bebas di mana seorang pribadi menanggapinya sebagai panggilan pribadi, dan merupakan kharisma.

Sama seperti perkawinan yang bersifat monogami dan tak terceraikan (kekal), demikian juga hidup selibat dalam Gereja memiliki sifat kekekalan. (Dalam hidup membiara, ‘kaul’ berarti janji untuk memeluk kehidupan tersebut selamanya). Kekekalan panggilan selibat itu berasal dari pihak Allah (unsur panggilan) dan dari manusia unsur jawaban yaitu ‘penyerahan diri’ yang bersifat total dan eksklusif.

Selibat sebagai gaya hidup sekaligus juga menjadi suatu avontur rohani. Selibat itu sungguh suatu pilihan hidup yang dihayati dalam perspektif undangan khusus dari Allah. Suatu pilihan hati yang unik dengan warna rohani yang khas dan ketetapan hati yang jujur dan berani. Keputusan untuk terus-menerus hidup murni yang dianut sebagai model keputusan dalam kerangka suatu pengalaman iman yang luas jangkauannya. Ini berarti suatu putusan unik berkat suatu ziarah hidup rohani. “Selibat itu suatu avontur rohani”.

Selibat itu suatu perkara iman. Sebagai suatu perkara iman, selibat merupakan karunia Roh Kudus yang perlu ditunjang oleh hidup rohani yang baik dan teratur. Selibat, meskipun merupakan suatu karunia Roh, tetapi harus tetap diperjuangkan manusia melalui pengolahan hidup rohani. Singkatnya, iman merupakan landasan pertama bagi hidup selibat. Jika ada orang yang meninggalkan bentuk kehidupan tersebut, pertama akan dikaitkan dengan iman. Sehingga kalau orang yang meninggalkan hidup selibatnya, diartikan sebagai kemerosotan iman. Tetapi benarkah bahwa orang yang meninggalkan selibatnya mengkhianati imannya? Kiranya hal ini perlu dijelaskan dengan proses panggilan Allah. Panggilan Allah itu tidak sekali jadi, tetapi berkembang dalam proses penangkapan manusia. Proses itu bergerak di antara kekaburan dan kejelasan, mengalami masa surut-pasangnya, sesuai dengan daya tangkap manusia tersebut, orang dapat keliru atau jatuh. Maka untuk memahami mengapa ada kaum biarawan yang meninggalkan selibat, kiranya harus ditempatkan dalam kerangka bagaimana orang memahami proses panggilan Allah.

Jadi selibat tak dapat dimengerti tanpa iman, dan hanya dalam terang kebangkitan Kristus. Sebab selibat kristiani adalah pendahuluan atau tanda pemulihan terakhir dalam Kristus, ketika orang tidak kawin lagi atau belum dikawinkan. “Dan Yesus berkata kepada mereka: orang di dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak menerima bagian dalam dunia lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin atau dikawinkan” (Luk. 20:34-35). Lagi, mereka menjadi tanda yang hidup tentang dunia mendatang yang sudah hadir dalam iman dan cinta kasih, dan waktu itu, anak-anak kebangkitan tidak akan kawin atau dikawinkan.
Selibat juga dapat menjadi ingkar diri dalam taraf hidup. Kepada kita masing-masing Kristus bersabda, “Juallah segala milikmu, sangkallah dirimu dan datanglah mengikut Aku” (Mat.16:24). Bila kita tenang dan merenungkan sabda itu, kita akan sampai pada pemahaman bahwa setiap pilihan pasti menyertai konsekuensi, bahwa memilih suatu hal berarti membiarkan pilihan lain itu (tak diambil meskipun hal lain itu baik). Dalam arti inilah ‘ingkar diri’ yang saya maksudkan: apa yang tidak dipilih demi pilihan lain yang lebih tinggi.

Dalam persembahan selibat, selibater tidak mengingkari bahwa ia mempunyai badan dan semua dimensi seksualitasnya pada taraf psikofisik, tetapi kita mempunyai arah yang lain dalam mengungkapkan dimensi ini. Mereka merelakan “keintiman hubungan pria dan wanita” dan tidak mau menikmatinya demi Kristus dan demi nilai-nilai positif yang dipersembahkan dalam hidup selibat. Merelakan di sini tak berarti bahwa kita menyangkal seksualitasnya, sebab kepriaan dan kewanitaan dalam perkembangan dan pengungkapannya tetap indah dan penting untuk keutuhan kepribadian seorang pria dan wanita, entah dalam hidup berkeluarga atau bagi selibater. Dengan demikian harus ditekankan bahwa selibat tidak berarti bahwa seorang selibater kurang mampu dalam hal seksualitas, namun bahwa mereka mau hidup tidak menikah semata-mata demi Kerajaan Allah (Mat. 19:20-12).

Selibat: contra naturam? Manusia dilahirkan sebagai makhluk seksual (sexual being). Dengan demikian seksualitas adalah sesuatu yang sangat eksistensial pada manusia, yang memberi ciri kodrati padanya sebagai pria dan wanita. Seksualitas tidak terbatas pada organ-organ kelamin dan fungsinya dalam reproduksi. Seksualitas manusia itu mempunyai banyak segi dan mencakup pengertian yang lebih luas.

Berdasakan pikiran ini, menjadi jelas bahwa seseorang dapat berperanan dan berkembang secara normal sebagai makhluk seksual, tanpa harus mengadakan hubungan seks (kontak genital). Di sinilah letak alasan mengapa seorang selibater dapat menghayati seksualitasnya secara sehat dalam mencapai keutuhan kepribadiannya, walaupun tanpa berhubungan seks. Tentu sebagai pilihan manusia, dalam pengalaman ada kelemahan individual juga. Meski ada kelemahan, toh berani melangkah juga. (*)

Rapor Penanganan Corona Selama Dua Pekan: Kasus Melonjak, Tenaga Ahli Mundur

Satu Nomor Didaftarkan 100 Orang: Kemendikbud Temukan Kecurangan Bantuan Kuota

Alat Tes Covid-19 Seharga Rp 70.000 Akan Dirilis WHO, Hasilnya Keluar 30 Menit

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved