Torang Kanal
Peran Perempuan di HUT ke-75 Kemerdekaan di Tengah Pandemi Covid-19
Semerbak perayaan HUT RI pada 17 Agustus selalu menjadi momentum yang dinanti oleh seluruh masyarakat Republik Indonesia
Penulis: Fistel Mukuan | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Semerbak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus selalu menjadi momentum yang dinanti oleh seluruh masyarakat Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Banyak lomba-lomba 17-an, karnaval kemerdekaan yang selalu mengundang antusias masyarakat di setiap daerah, dimulai dari perkotaan sampai perkampungan.
Setiap tahunnya karnaval Kemerdekaan ditunggu dan diselenggarakan di mana-mana.
Namun, tahun ini cukup berbeda di mana saat ini banyak perayaan yang dilakukan terbatas atau atas bantuan platform digital seperti media sosial.
• Tri Tito Karnavian Promosi Wisata Sulut, Ajak Turis Kunjungi Bumi Nyiur Melambai
• Kala Ibu Fatmawati Saksikan Sikap Tak Biasa Bung Karno di Kamar Sebelum Proklamasi Kemerdekaan 1945
• Di Rengasdengklok, Soekarno: Ini Batang leherku, Seretlah Saya ke Pojok Itu dan Potonglah Leherku
Tentunya semangat perjuangan kemerdekaan yang dilalui Bangsa Indonesia 75 tahun silam seharusnya tidak mengurangi esensinya dalam perayaan tahun ini.
Menjadi pertanyaan bagi perempuan bernama lengkap Vicilia Wenas, di HUT RI kali ini apakah Indonesia benar-benar menikmati kemerdekaan?
"Lebih spesifik mungkin bagi saya ambil contoh perempuan Indonesia saat ini. Pada akhir 2019 sampai pada saat ini Agustus 2020 para perempuan bertambah sibuk, tekanan pandemi Virus Corona, tentunya dirasakan oleh semua orang apalagi perempuan semenjak aktivitas kehidupan dipusatkan di rumah," ucap Vici panggilan akrabnya.
• Rocky Gerung Beri Selamat Kepada Buzzer yang Menemani Pemerintah: Dirgahayulah Buzzer
Menurut perempuan yang hobi jalan-jalan ini, pandemi ini mengubah hampir segala aspek hidup mulai dari pendidikan, bisnis, agama hingga rumah sakit beralih tempat ke dalam rumah menjadi tugas perempuan.
"Sebagai ibu dan istri harus memasak memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari mulai menyiapkan makanan buat keluarga, membersihkan dan menata rumah sesering mungkin agar terhindar dari virus, serta selalu ada mendampingi setiap waktu ketika anak diberikan tugas oleh guru untuk dikerjakan," tambah wanita kelahiran Kinaleosan 1 November 1990 ini.
Bagi anak sulung ini, seorang perempuan di rumah dituntut untuk menjadi dokter, guru, petugas kebersihan, guru pelajaran, guru agama, dan lainnya pada waktu yang sama.
"Intinya, multitasking perempuan bertambah drastis dalam waktu terakhir ini.
Sedihnya data menunjukkan perempuan justru menjadi objek atau sasaran sebagai kekerasan dalam rumah tangga, objek negatif oleh para penjahat atau kriminal yang sering melecehkan kaum perempuan, baik secara verbal ataupun hujatan dalam status ataupun tulisan yang tak senonoh yang seringkali dijumpai di media sosial, perempuan sebagai korban," ucap alumni lulusan, SMA Negeri 4 Danowudu, Bitung.
Baginya, memang tak segalanya suram, apa yang dihadapi perempuan saat ini sangatlah berat, dengan tuntutan serba bisa oleh karena situasi pandemi ini.
• Begini Cara Mendapatkan Uang Rp 75 Ribu, Edisi Khusus HUT RI
Tidak sedikit perempuan yang tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga khususnya, seperti mengembangkan skil masak baik makanan atau jajanan kue yang banyak viral akhir ini, ataupun perempuan –perempuan lain yang mengembangkan teknik menanam bunga, tumbuhan yang saat ini menjadi tren di mana-mana.
Ia berharap bagaimana perempuan menjadi Kartini masa kini di Pandemi, untuk menjadi benteng pertahanan sekaligus senjata melumpuhkan atau menangkal virus corona adalah mengikuti anjuran protokol kesehatan oleh pemerintah.
Peran perempuan sangatlah erat dan sangatlah nyata menjadi pilar penyangga utama bagi setiap aktivitas yang dilakukan agar maksimal mengatasi situasi darurat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/vicilia-wenas.jpg)