Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Vaksin Virus Corona

Meski Tak Dijamin WHO, Vaksin Rusia Sputnik V Telah Dipakai Vladimir Putin untuk Anaknya

Menurut WHO, sebelum vaksin diproduksi secara massal, harus terlebihdulu melewati tahap prakualifikasi.

Editor: Rizali Posumah
Freepik.com/Grid.id
Ilustrasi vaksin virus corona. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kemanan vaksin virus corona (Covid-19) Sputnik V yang diproduksi oleh Rusia masih diragukan. 

Pasalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menjamin keamanan vaksin tersebut.

Menurut WHO, sebelum vaksin tersebut diproduksi secara massal, harus terlebihdulu melewati tahap prakualifikasi.

"Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan prakualifikasi vaksin WHO."

"Tetapi sekali lagi prakualifikasi vaksin apapun mencakup tinjauan dan penilaian yang cermat dari semua data keamanan dan kemanjuran yang diperlukan," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, dalam jumpa pers di Swiss, seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/8/2020).

Sejumlah ilmuwan memang mempertanyakan keamanan dan data uji coba dari vaksin tersebut yang sejauh ini belum dipublikasi.

Ayfer Ali, spesialis obat-obatan di Britain’s Warwick Business School mengatakan, persetujuan cepat yang diberikan Rusia terhadap vaksin Sputnik V itu dapat memberikan efek buruk dari vaksin yang tidak terdeteksi sebelumnya, mengingat Rusia juga belum melakukan uji coba dalam skala besar untuk melihat apakah vaksin bekerja dengan aman atau tidak.

"Rusia pada dasarnya tengah melakukan eksperimen tingkat populasi besar," kata Ali, menyamakan persetujuan vaksin Sputnik V seperti eksperimen.

Francois Balloux, seorang ahli di University College London’s Genetics Institute berpendapat, tindakan Presiden Rusia, Vladimir Putin dengan memberikan vaksin Covid-19 Sputnik V kepada putrinya adalah keputusan sembrono dan bodoh.

Ia juga mengatakan vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji coba secara tidak tepat adalah tindakan salah. Itu bisa menyebabkan bencana bagi kesehatan masyarakat.

Peneliti rekanan senior di Universitas Southampton, Michael Head, juga meragukan kemanjuran vaksin Sputnik V.

Dia menduga vaksin itu hanya diuji ke beberapa orang, dan pemerintah Rusia dinilai terlalu terburu-buru dalam menyetujui vaksin itu.

Menurut standar dunia, uji klinis tahap tiga sebuah vaksin harus melibatkan sekitar 10 ribu orang dan memakan waktu berbulan-bulan.

Tahap itu juga dinilai menjadi satu-satunya tahapan eksperimen untuk menguji apakah vaksin itu aman dan manjur.

Sebagai perbandingan, uji tahap akhir vaksin di Amerika Serikat mewajibkan untuk diuji coba kepada 30 ribu relawan.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved