Asal Mula Sapi
Sejarah Masuknya Sapi ke Indonesia, Ternyata Diimpor Penjajah hingga Jenis-jenisnya Kini
sapi sebagai hewan ternak biasanya untuk dimanfaatkan susudan dagingnya sebagai pangan manusia.
Ketika melakukan evaluasi pada 1970, pemerintah menyimpulkan bahwa semen atau sperma cair perlu diganti dengan semen baku yang lebih awet dipakai dan dibawa ke berbagai lokasi inseminasi.
Pada 1973, pemerintah Selandia Baru memberikan sumbangan semen beku secara cuma-cuma kepada pemerintah Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, inseminasi buatan telah berhasil mendongkrak perkembangbiakan sapi dalam negeri sejak dekade 1960.
Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor sapi potong pada tahun 1968 sebanyak 34.541 ekor.
Jumlah ini naik menjadi 72.490 ekor pada tahun 1970.
Untuk menyebarluaskan sapi-sapi jenis unggul dan sapi-sapi hasil persilangan, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan Dan Kesehatan Hewan.
Di dalamnya termaktub upaya pemerintah untuk menyebarkan ternak secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Istilahnya “pewilayahan ternak”.
Usaha mengimpor sapi unggulan kembali dilakukan ketika Soeharto mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri, terutama Australia.
Di Tapos, sapi-sapi tersebut hendak dikawinkan dengan sapi-sapi lokal Indonesia untuk mendapat bibit berjenis sapi unggul.
Taun 1978 merupakan tahun terakhir Indonesia mengekspor sapi potong dengan jumlah hanya 400 ekor.
Sejak saat itu, peternakan rakyat lebih banyak memasok kebutuhan daging dalam saja, bahkan keran impor daging dari Australia mulai dibuka.
Tapos tampaknya menginspirasi pengusaha ternak untuk melakukan impor bibit.
Tercatat mulai tahun 1990, Indonesia mulai melakukan impor sapi bakalan.
Menurut ahli peternakan dari Universitas Padjajaran, Sri Rahayu, impor sapi bakalan mulai dilakukan sejak tahun 1990 sejumlah 8.061 ekor.