Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Virus Corona

Pemerintah Sebut 135 Tenaga Medis Diusir dari Tempat Tinggalnya Karena Stigma Negatif soal Covid-19

Munculnya stigma negatif kepada masyarakat membuat beberpa tenaga medis menjadi korban.

Editor: Glendi Manengal
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional
Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Dokter Reisa Broto Asmoro dalam konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional 

TRIBUNMANADO.CO.lD - Munculnya stigma negatif kepada masyarakat membuat beberpa tenaga medis menjadi korban.

Dikarenakan virus corona kini sebanyak 135 Tenaga Kesehatan yang tersebar dibeberapa daerah di Indonesia diusir.

Bahkan diketahui beberapa diantarnya diusir hingga disertai ancaman.

Belum Ditangkap karena Masih Kurang Alat Bukti, Pejabat Desa yang Pacari Siswi SD Masih Berkeliaran

Pria Ini Berurusan dengan Polisi Setelah Melakukan Aksi Pura-pura Menjadi Yesus

Kecelakaan Mini Bus Tabrak Truk, Sopir dan Seorang Penumpang Tewas Mengenaskan, Bagian Depan Hancur

Ilustrasi dokter
Ilustrasi dokter (ipopba)

Tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro menyebut, sedikitnya ada 135 tenaga medis yang mengaku diusir dari tempat tinggal karena stigma negatif.

Bahkan, 66 tenaga medis di antaranya menyebut pengusiran tersebut disertai ancaman.

Angka tersebut berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan terhadap 2.050 tenaga medis di seluruh Indonesia pada awal April 2020.

"135 perawat pernah diminta meninggalkan tempat tinggalnya. 66 responden mengalami ancaman pengusiran," kata Reisa dalam konferensi pers, Sabtu (18/7/2020).

Jajak pendapat ini dilakukan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia.

Jajak pendapat itu juga menunjukkan, sebanyak 140 perawat pernah merasa dipermalukan karena berstatus perawat Covid-19 atau bertugas di rumah sakit penanganan Covid-19.

Sedangkan, 160 perawat juga mengaku dijauhi orang sekitar.

Sementara 71 perawat merasa dijauhi keluarga.

Reisa pun meminta masyarakat berhenti menstigma negatif terhadap tenaga kesehatan dan pasien Covid-19.

Reisa mengatakan, stigma negatif tersebut tidak memberikan manfaat bagi penanggulangan wabah Covid-19.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona ((Pixabay/Tumisu))

Justru pemberian stigma negatif terhadap tenaga kesehatan dan pasien Covid-19 dapat menyumbang angka kematian akibat virus corona.

"Bahkan, menurut pandangan pakar kesehatan malah (stigma negatif) berkontribusi menyumbang angka kematian akibat Covid-19 karena tidak ditangani sejak awal," ujar dia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved