Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tokoh

17 Juli 1918, Kaisar Terakhir Rusia Tsar Nicholas II dan Keluarganya Dieksekusi Kaum Bolshevik

Kematian Nicholas II dan keluarganya mengakhiri Dinasti Romanov yang berkuasa selama 300 tahun di Yekaterinburg. Jenazah mereka kemudian ditemukan.

Editor: Rizali Posumah
VintageNews
Keluarga Tsar Nicholas II berfoto bersama sebelum diasingkan ke Yekaterinburg di pegunungan Ural. Foto lain menunjukkan kegiatan Tsar dan anak-anaknya di rumah pengasingan, serta foto ruang bawah tanah yang dindingnya koyak-koyak akibat terjangan peluru saat keluarga Romanov itu dieksekusi kaum Bolshevik Ural. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Malam antara tanggal 16 hingga 17 Juli 1981 Nicholas Alexandrovich Romanov, atau dikenal dengan Tsar Nicholas II beserta seluruh keluarganya dieksekusi oleh kelompok Bolshevik, Pimpinan Vladimir Lenin.

Kematian Nicholas II dan keluarganya mengakhiri Dinasti Romanov yang berkuasa selama 300 tahun di Yekaterinburg. Jenazah mereka kemudian ditemukan pada 1979.

Tsar Nicholas II adalah kaisar terakhir Rusia yang berkuasa pada 1 November 1894 hingga 15 Maret 1917.

Di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Rusia yang dikenal sebagai salah satu kekuatan dunia baik di bidang ekonomi maupun militer jatuh karena berbagai peristiwa.

Dia dikenal sebagai Nicholas Berdarah oleh musuh politiknya karena peristiwa Tragedi Khodynka, pembantaian pada kaum Yahudi, Bloody Sunday, hingga Perang Dunia.

Sejarawan Uni Soviet menyebut Nicholas sebagai pemimpin lemah yang segala keputusannya kerap mendatangkan kekalahan bagi militer serta kematian jutaan rakyat Rusia.

Diambil dari berbagai sumber, berikut merupakan biografi dari tsar yang juga dijuluki sebagai Santo Nicholas Si Pembawa Gairah itu.

1. Masa Kecil

Nicholas lahir pada 18 Mei (kalender lama 6 Mei) 1868 di Istana Alexander, Saint Petersburg, dan merupakan putra sulung Kaisar Alexander III serta Ratu Maria Feodorovna.

Sang ayah memberikan pengaruh kuat kepada Nicholas di mana Alexander III membentuk nilai agama yang konservatif dan kepercayaan akan pemerintahan otokratis.

Saat kecil, Nicholas menerima pendidikan secara privat dari guru terbaik. Termasuk pejabat Rusia berkualitas saat itu bernama Konstantin Pobedonostsev.

Meski unggul di Sejarah dan bahasa asing, nyatanya sang pangeran kesulitan dengan politik serta ekonomi. Bahkan Alexander III gagal mengajarkan tentang urusan pemerintahan.

Pada 1881 ketika berusia 13 tahun, kakek Nicholas, Alexander II, dibunuh oleh pengebom revolusioner yang membuat ayahnya naik takhta sehingga dia menjadi putra mahkota.

Setelah berumur 19 tahun, dia bergabung dengan militer dan menghabiskan tiga tahun berdinas sebelum menambah masa tugas 10 bulan dalam tur di Asia dan Eropa.

Sangat berbakat di bidang militer, karir Nicholas II terbilang sangat cemerlang dengan terus mendapatkan promosi hingga mendapatkan pangkat Kolonel.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved