Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Heboh

WASPADA Kelas Radikalisme Online via Konferensi Video, ICIS Beri Saran Ini ke BNPT

Melalui video conference, orang bisa mengajarkan ajaran radikal kepada pengikutnya melalui kelas online.

Tayang:
Editor: Alexander Pattyranie
Freepik.com
Ilustrasi video call 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Adanya pandemi virus corona/Covid-19, banyak aktivitas dibatasi.

Bahkan diterapkan pembatasan sosial.

Aplikasi video conference pun jadi populer.

Namun, aplikasi ini bisa saja disalahgunakan penggunaannya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pasalnya, melalui video conference, orang bisa mengajarkan ajaran radikal kepada pengikutnya melalui kelas online tanpa

harus bertatap muka, dengan peserta dari berbagai penjuru daerah di Tanah Air.

Menanggapi fenomena itu, Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun Lc,

MA mengatakan, untuk mewaspadai adanya kelas-kelas online radikalisme yang tumbuh di masa teknologi

informasi dan komunikasi kini.

Untuk mencegah penyebaran paham radikal terorisme, kata Khariri Makmun, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

(BNPT) perlu untuk mengawasi pergerakan kelompok radikal di media online.

"Karena sekarang dengan adanya aplikasi seperti zoom, mereka bisa saja membuat kelas-kelas online untuk menyebarkan

pemahaman mereka dan saya kira itu perlu diwaspadai juga oleh BNPT,” kata Khariri Makmun dalam keterangan tertulis

yang diterima Jumat (26/6/2020) malam.

Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan dalam melakukan komunikasi

dan penyebaran informasi.

Menurut Alumni Universitas Al-Azhar Kairo itu bahwa dulu mereka atau kelompok-kelompok radikal belajar lewat internet

masih sendiri melalui google maka kini sudah dapat menggunakan guru melalui kelas online.

Khariri Makmun mengatakan, kalau pertama mereka masih baca sendiri, di doktrin melalui tulisan.

Nah, kalau sekarang didoktrin melalui pengajaran dan itu jarak jauh, itu tentunya selangkah lebih maju.

"Jadi perlu kita waspadai munculnya generasi kelompok radikal yang hasil dari didikan doktrinasi jarak jauh

melalui kelas online itu,” ujar Khariri Makmun.

Sementara itu, pria yang meraih gelar Master dari Universitas Ulum Islamiyah Wal Arabiyah Damaskus, Syria, ini pun

menyampaikan bahwa perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda

agama atau berbeda paham dengan kita.

“Dengan berpikir moderat, kita akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita.

Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia.

Sehingga siapapun yang berbeda dengan dia dianggap sesat,” ujarnya

Oleh karena itu pria yang juga menjadi Direktur Rahmi (Rahmatan Lil Alamin) Center tersebut mendorong kepada

pemerintah untuk terus mengerahkan upaya lebih dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme di

tengah kemajuan teknologi.

Selain itu, Menurut pria yang pernah menjadi Rais Syuriah NU di Jepang pada tahun 2004-2006 ini bahwa ketika

seseorang bisa memahami agamanya dengan baik, maka secara otomatis orang tersebut akan bisa menerima

Pancasila itu dengan benar.

Hal itu mengingat nilai-nilai Pancasila selaras dengan ajaran Islam.

“Yang terjadi sekarang kan dalam memahami ajaran agama saja mereka banyak memiliki permasalahan dalam

memahaminya, sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu

yang hilang dari pemahaman mereka. Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi, radikalisme seperti yang

terjadi sekarang ini,” katanya menjelaskan.

Itulah kenapa menurut Khariri, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini dikarenakan kurangnya

pemahaman keagamaan.

Untuk itu perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar.

Pancasila selaras dengan Islam

Sementara itu, Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun Lc, MA mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam dasar negara Pancasila tercermin nilai-nilai agama, khususnya agama Islam, sehingga tidak seharusnya terjadi benturan antar-keduanya.

KH Khariri Makmun Lc dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat malam, menjelaskan di dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan cermin dari tauhid (Tuhan yang Esa).

Kemudian sila kemanusiaan yang adil dan beradab di dalam Islam berarti al-insaniyah.

Kemudian sila persatuan Indonesia yang di dalam Al Qur’an disebut wa'tasimu bihablillahi jami'an wala tafarraqu yang artinya kita bersatu jangan tercerai berai.

Lalu sila keempat itu permusyawaratan perwakilan atau as-syura yang dalam Al Quran itu artinya Musyawarah. Dan sila keadilan sosial adalah al-adalah yang artinya keadilan.

Dengan adanya penjelasan yang tercermin di dalam Al Quran tersebut maka Khariri menuturkan bahwa rumusan-rumusan Pancasila itu sudah selaras dengan maqashidu asy-shyariah atau tujuan-tujuan agama.

“Yang tentunya kalau orang bisa memahami agama itu dengan benar, tentu tidak akan ada tuduhan antara Pancasila dengan agama atau dengan Al Qur’an itu sendiri,” tutur Alumni Universitas Al-Azhar Kairo tersebut.

Selain itu menurut pria yang pernah menjadi Rais Syuriah NU di Jepang pada tahun 2004-2006 ini juga menyampaikan bahwa ketika seseorang bisa memahami agamanya dengan baik, maka secara otomatis orang tersebut akan bisa menerima Pancasila itu dengan benar.

Khariri Makmun mengatakan, yang terjadi sekarang dalam memahami ajaran agama saja mereka banyak memiliki permasalahan dalam memahaminya.

Sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu yang hilang dari pemahaman mereka.

"Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi, radikalisme seperti yang terjadi sekarang ini,” kata Khariri Makmun menjelaskan.

Itulah kenapa menurut Khariri, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman keagamaan.

Untuk itu perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar.

Pria yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Algebra International Boarding School, Bogor ini pun menjelaskan bahwa cara untuk mengatasi ini adalah harus sering-sering mengajak mereka berdialog.

Selain itu juga perlu adanya tokoh-tokoh yang bisa menjelaskan secara runut kepada kelompok-kelompok tersebut.

(Antaranews/Hertanto Soebijoto)

BERITA TERPOPULER :

 KSAD Jendral Andika Perkasa Ngamuk! Anak Buahnya yang Tewas Ternyata Ditusuk Oknum Prajurit TNI AL

 Gelagat Anak Buah John Kei Ketika Diperiksa, Tunjukkan Ciri Khas Budaya Mereka, Dirkrimum Jadi Saksi

 Naik Helikopter Mewah, Ketua KPK Dilaporkan ke Dewas, Dinilai Bergaya Hidup Mewah

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Waspadai Kelas-kelas Online Radikalisme Lewat Aplikasi Video Conference, Ini Saran ICIS kepada BNPT

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved