Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kawanua, Tanah Cinta

Franky Sahilatua ketika berada di atas gunung itu melihat Minahasa bagaikan firdaus yang terlempar di bumi.

Editor: Sigit Sugiharto
J Osdar
Cinta Istri dan Anak - Wagub Sulut Steven Kandouw bersama istri, Ny Devi Tanos-Kandouw dan sang putera, Ernesto Kandouw, di Magelang, Jawa Tengah, 2 November 2018. 

Untuk melukiskan perjalanan di Sulut, saya lebih suka bercerita tentang keindahan alamnya. Untuk lukisan keindahan alam saya meminjam beberapa kalimat dari buku kisah perjalanan Pendeta dari Belanda, N Graafland. Pendeta ini bertahun-tahun menjelajahi sejuta negeri (kampung) di tanah Minahasa. Ia pernah jadi Direktur Sekolah Guru Pribumi di Tanawangko, Minahasa. Bukunya setebal 540 halaman ditulisnya di atas kapal “Ida Elizabeth” yang sedang berlayar di Samudera Atlantik, 14 Januari 1864, jadi 156 tahun atau satu setengah abad lalu.

Bukunya berjudul Minahasa, Negeri, Rakyat dan Budayanya. Judul aslinya, “De Minahasa : Haarverleden en haar tegenwoordige toestand”. Buku terjemahannya oleh Lucy R Montolalu dan diterbitkan PT Pustaka Utama Grafiti Jakarta 1991. Graaffland selain melukiskan keindahan alam Minahasa dengan kalimat-kalimat doa puitis dan devosi pada Tuhan, juga menyuguhkan dari hal yang kudus sampai yang tidak kudus (”penuh dosa”).

Yang paling mengesankan saya adalah catatan Pendeta Graafland dalam perjalanan dari Tondano, Amurang, Manado, Kolongan dan di atas Gunung Kelabat.

“Dari puncak gunung (Kelabat) kami dapat pemandangan indah di sebagian besar tanah Minahasa. Terlihat semua gunung-gunung tinggi, lembah-lembahnya dan celah-celahnya. Terlihat pula permukaan Danau Tondano yang berkilau itu, begitu elok dan beraneka warna dikitari jajaran gunung-gunung. Kami dapat melihat sekian banyak negeri bagai ditaburkan dimuka permukaan tanah. Di sebelah utara terlihat daerah Minahasa dilingkari untaian pulau-pulau kecil dan besar.”

Pendeta Graafland juga mencatat “Negeri Kolongan” dan “Negeri Matungkas”. “Di negeri-negeri ini, di sekolah-sekolah, kami dikejutkan dengan sebuah nyanyian terjemahan dari lagu “Das ist Tags des Hern “(Hari ini harinya Tuhan).(Halaman 484 - 485).

Ketika saya (Osdar) selesai mendaki gunung Kalabat bersama Jeffry Lungkang, Sabtu 26 Maret 2016, saya melporkan kepada Gubernur Olly Donkambey dan Bupati Vonnie Annke Panambunan (kebetulan baru menghadap gubernur) di Kolongan. Saya mengatakan, dari gunung Kalabat saya melihat garis segitiga imajiner, Gunung Kelabat, Gunung Manado Tua dan Gunung Lokon, dan titik pusatnya di Desa Kolongan.

Sedangkan Franky Sahilatua ketika berada di atas gunung itu melihat Minahasa bagaikan firdaus yang terlempar di bumi.

Tapi, ketika melintasi pantai Negeri Kema, Pendeta Graafland antara lain mencatat, “Tidak ada harapan ada kehidupan suci . Banyak di antara mereka hidup bersama selir di luar ikatan perkawinan (bakupiara). Perempuan dan pria suka minum saguer tanpa batas, main kartu Cina dan berbagai perbuatan tak senonoh lainnya”.(halaman 472) .

Tapi, di halaman selanjutnya (526), Pendeta Graafland mengatakan :”Di seluruh Kepulauan Nusantara ini, dimanakan tempat lebih aman, lebih taat dan lebih sukabekerjasama, kecuali di daerah Minahasa.” Sang Pendeta rupanya mengatakan seperti yang dikatakan JK, Minahasa adalah wilayah yang paling aman, rukun antar-agama/kepercayaan, terbuka, dan toleran.

Pendeta Graaflanda menutup buku catatan perjalannya dengan harapan doa yang sangat indah mempesona, menembus waktu hingga saat Minahasa dan Sulut dipimpin trio (tiga serangkai) Olly Dondokambey - Steven Kandouw - Andre Angauw. Doa harapan itu nampaknya akan menembus waktu/masa mendatang.

“Memang, Minahasa sedang menuju masa depan yang indah. Semoga Tuhan memberkati tanah yang baik ini, pemerintahnya, dan semua orang yang telah bekerjasama dan meningkatkan kesejahteraan sejati rakyatnya.” Demikian doa dan harapan Pendeta Graafland (Halaman 530).

Saya jadi ingat ketika kampanye Pilgub Sulut 2015 lalu. Ketika itu saya duduk di sebelah Pak Olly di satu mobil masuk ke sebuah lorong kecil sempit yang dikitari rumah-rumah petak. Saya membuka kaca jendela dan seorang ibu tua berkata :”Tuhan memberkati Pak Olly dan Sulut”
(Josef Osdar)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved