Kawanua, Tanah Cinta
Franky Sahilatua ketika berada di atas gunung itu melihat Minahasa bagaikan firdaus yang terlempar di bumi.
Di jalan pulang ke Manado, Franky mengatakan tanah ini penuh cinta, cinta Tuhan, cinta istri, anak, cinta negeri, cinta kampung, dan seterusnya.
JK : Sulut Paling Rukun
Suatu hari, Senin, 19 Maret 2018, saya ikut rombongan dengan Wakil Presiden (waktu itu) Jusuf Kalla (JK) dan Ny Mufidah Jusuf Kalla dalam satu pesawat ke Manado untuk acara pembukaan Sidang Majelis Sinode ke-79 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Di pesawat, saya duduk satu meja dengan Jusuf Kalla dan Ny Mufidah. Dalam perjalanan itu saya terkejut, Pak JK mengatakan, “Dulu Bung Os berteman dengan penyanyi Franky Sahilatua almarhum ya ?”.
Kemudian saya bercerita kepada Pak JK dan Ibu Mufida tentang Franky dan Adhyaksa Dault (dari PKS) yang melantunkan lagu “Kawanua Tanah Cinta”. Saya ceritakan juga tahun 2006, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal 2004 - 2007 Saifullah Yusuf (Gus Ipul yang waktu itu juga Ketua Umum Pemuda Ansor), mengajak saya dan Franky Sahilatua untuk menghadiri acara yang diadakan waktu itu oleh Bupati Minahasa Utara (Minut 2005 - 2008), Vonnie Anneke Panambunan di Minut.
Acaranya di sebuah gereja. Saifullah Yusuf dalam acara itu diminta untuk pidato. Dalam sambutannya itu, Gus Ipul mengatakan, “Nama saya Yusuf, sama dengan suami Maria dan ayah Jesus. Maka orang yang bernama Yusuf selalu membawa cinta kasih.” Para jemaat gereja langsung bertepuk tangan. “Ternyata di sini sudah banyak cinta kasih ya,” lanjut Gus Ipul saat itu yang disambut ketawa para jemaat.
Mendengar cerita saya, Pak Jusuf Kalla tertawa dan mengatakan provinsi ini memang penuh cinta kasih, makanya toleransi dan kerukunan antarumat beragamanya sangat terkenal dan tertinggi di negeri ini. Dalam sambutannya dalam acara di pembukaan Sidang Majelis Sinode GMIM ke 79 itu, Pak JK mengatakan wilayah ini terkenal dengan keindahannya dan kerukunan antarumat beragama.
Sejak Pak Olly Dondokambey mulai kampanye Pemilihan Gubernur Sulut tahun 2015 sampai memerintah provinsi ini bersama Steven Kandouw ( 2020) ini saya telah menjelajah, boleh dikatakan ratusan kampung (negeri) Sulut. Selama itu, tiga kali melakukan perjalanan darat dari Manado sampai ujung selatan Bolangmongondow (Bolmong).
Perlu saya beri catatan kecil perjalanan dari Pinaras (Tomohon) ke Wawalintouan dan Kolongan (Minahasa Utara) pada Sabtu 5 September 2015. Di Pinaras saya menghadiri ulang tahun ke-81 Opa John Samuel Tamuntuan ke-81. Dalam acara ini diperdengarkan lagu Opa, berjudul “May the Good Lord Bless and Keep You (Semoga Tuhan yang baik memberkati dan menjaga Anda)” Lagunya beralun romantik. Ketika Opa Samuel meninggal dunia dan dimakamkan Rabu, 31 Juli 2019, lagu itu diperdengarkan lagi. Mengharukan, ketika peti jenasah di turunkan di liang lahat, salah seorang kakak peremuan Ny Rita Tamuntuan Dondokambey, melambaikan tangan.
Di Wawalintouan, kota Tondano, kalau tidak salah ingat juga ulang tahun mamanya calon Wagub (waktu itu) Steven Kandouw, Ny Mathilda Lompoliuw Kandouw (72 tahun). Saat itu diperdengarkan lagu mars Minahasa : “Minahasa di Ujung Sulawesi”. Lagu ini dibawakan oleh kelompok musik bambu dari Kampung Kamangta Tombulu.
Alunan lagu di Pinaras dan hentakan lagu Mars Minahasa di Wawalintouan membawa angan saya ke masa kecil saya. Dua lagu itu bisa menjadi latarbelakang saya melukiskan Sulawesi Utara yang penuh cinta dalam keluarga dan cinta tanah air atau negeri. Perjalanan antara Pinaras - Wawalintouan itu selalu terkenang di benak saya.
Kebetulan sekali ketika artikel saya tulis, Wagub Steven Kandouw, lulusan SMA Kanisius SMA Kanisius dan Fisip Universita Indonesia itu, mengirimkan foto keluarga yang diberi teks foto, Cinta keluarga, istri dan anak. Wagub Steven Kandouw dalam foto itu bersama dengan istri, dr Devi Tanos dan sang putera, Ernesto Kandouw, taruna Akademi Kepolisian di Semarang, Jawa Tengah. “Jangan lupa Om Osdar kalau menulis, gue anggota World Union Jesuit. Bukan GMIM, GPIP atau HKBP,” ujarnya diiringi suara canda khas Steven Kandouw (SK).
Doa untuk Sulut
Perjalanan saya di Sulut ini selain bersama Pak Olly, sering pula dengan rekan-rekan lainnya seperti Ketua DPR Provinsi Sulut Andre Angauw, Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR Provinsi Sulut Rocky Wowor, Kepala BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Jeffry Lungkang, Anggota DPR Kota Manado Jean (Anne) Sumilat, mantan anggota DPR Provinsi Ruben Saerang, Suratman (biasa dipanggil Batman, polisi lalulintas yang sering ikut rombongan Pak Olly), Pendeta Margaretha Feybe Lumanauw, Elen Lumi, Linda Lapian, Chandra Pateh dan seterusnya.
Ada komentar paling bagus dari Ruben Saerang. “Jalan dengan Bung Osdar, bisa jadi pandai tapi juga bisa jadi gila,” kata Ruben. Sedang Feybe bilang, “Berjalan dengan Osdar, torang bole bakudapa deng Opa Kyai Madja (kuburannya di Tondano) dan Opa Imam Bonjol (kuburannya di Lota, Pineleng).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/wagub-steven-kandouw-cinta-istri-dan-anak.jpg)