Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kawanua, Tanah Cinta

Franky Sahilatua ketika berada di atas gunung itu melihat Minahasa bagaikan firdaus yang terlempar di bumi.

Editor: Sigit Sugiharto
J Osdar
Cinta Istri dan Anak - Wagub Sulut Steven Kandouw bersama istri, Ny Devi Tanos-Kandouw dan sang putera, Ernesto Kandouw, di Magelang, Jawa Tengah, 2 November 2018. 

Oleh J Osdar, Wartawan Senior

Menteri Pemuda dan Olahraga (2004 -2009) Adhyaksa Dault belum lama ini mengatakan tidak pernah melupakan lagu “Kawanua Tanah Cinta”, ciptaan penyanyi balada Franky Sahilatua.

Senin pagi, tanggal 28 September 2009, saya, Franky Sahilatua dan Adhyaksa tiba di Manado, Sulut. Kami datang, antara lain untuk menghadiri acara hari ulang tahun berlian (75 tahun) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Stadion Kelabat, Manado, Rabu sore , 30 September 2009. Kami sampai dua hari sebelum acara itu.

Di hotel di tepi pantai Teluk Manado, di jalan Boulevar, kami bertiga sarapan tinutuan di lantai paling atas. Ketika itu Adhyaksa memutuskan tidak mau memberi sambutan atau pidato dalam acara ulang tahun GMIM itu. Ia ingin sambutannya disampaikan dalam sebuah lagu saja. Ia minta Franky mempersiapkan lagu itu. 

CINTA ISTRI DAN ANAK - Wagub Sulut Steven Kandouw, bersama Istri Ny Devi Tanos dan Sang putera, Ernesto Kandouw ( taruna Akademi Kepolisian) di Magelang, Jawa Trngah, 2 November 2018.
CINTA ISTRI DAN ANAK - Wagub Sulut Steven Kandouw, bersama Istri Ny Devi Tanos dan Sang putera, Ernesto Kandouw ( taruna Akademi Kepolisian) di Magelang, Jawa Trngah, 2 November 2018. (J Osdar)

Sambil memandang laut di Teluk Manado, Franky bicara pada saya. “Bung Osdar bisa antar saya ke tempat lebih tinggi lagi dari hotel ini untuk memandang laut ?”. Selain itu, Franky juga bertanya, kalau kosa kata “memandang” bahasa asli di sini apa Bung Os ?. “Manembo-nembo,” kata saya asal jawab saja.

Saya antar Franky ke kampung Oma saya, Levina Rory, Warembungan, 15 kilometer selatan Manado. Franky membawa gitar. Sebelum mencari posisi untuk memandang laut, kami singgah di rumah sepupu saya, Raymond Ngenget. Kebetulan di situ sementara berlangsung ibadah kolom. Franky dengan serius mendengarkan pembacaan nas Al Kitab. Rupanya ia terkesan.

“Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Begitu Nas Al Kitab yang dibacakan saat itu. Kebetulan ihwal kasih ini dikaitkan juga dengan kehidupan dalam keluarga. “Waduh saya jadi rindu istri dan anak-anak saya,” komentar Franky saat itu.

Tapi, Franky belum puas memandang laut dari Warembungan. Hari belum menginjak siang hari. Maka oleh sopir kami diantar ke Gunung Tumpa, Tongkaina. Ternyata Franky belum juga puas, oleh sopir kami dibawa ke Gunung Kelabat. Dari Gunung Kelabat rupanya Franky melihat danau dan dia bertanya kepada pemandu kami. “Itu Danau Tondano,” kata sang pemandu. “Besok kita ke danau itu pagi-pagi ya,” kata Franky.

Cinta Keluarga dan Tuhan - Gubernur Sulut dan Ny Rita Tamuntuan Dondokambey sedang mengikuti ibadah Paskah keluarga di Kolongan, Minahasa Utara, Minggu 12 April 2020.
Cinta Keluarga dan Tuhan - Gubernur Sulut dan Ny Rita Tamuntuan Dondokambey sedang mengikuti ibadah Paskah keluarga di Kolongan, Minahasa Utara, Minggu 12 April 2020. (J Osdar)

Sore hari, saya, Franky, dan adik saya, Huibert (Hep) Pusung makan di sebuah rumah makan di dekat Mega Mas, pantai Manado.. Saat itu banyak orang, termasuk “nona-noa” pelayan rumah makan ikut menyanyi. “Para perempuan Minahasa ini suka sekali lagu cinta ya ?,” tanya Franky pada saya. Kemudian Franky minta para penyanyi amatiran itu berhenti. Sambil memetik gitar, Franky mengatakan, “Saya sudah dapat lagu dan syairnya, mari kita latihan di kamar hotel”.

Malam itu, Franky memetika gitar sambil melantunkan dua buah kata-kata yang diulang-ulang seperti mantra atau doa rosario. “Kawanua tanah cinta, kawanua tanah cinta, kawanua tanah cinta......Manembo-nembo dari Warembungan, Gunung Tumpa dan Gunung Kelabat, aku melihat berkah Allah yang turun dengan cinta di negeri Firdaus ini, “ nyanyi Franky.

Ia minta Adhyaksa Dault (dari PKS) melantunkan dengan mengulangi kata-kata itu sepuasnya dalam acara di panggung acara ulang tahun berlian GMIM di Stadion Kelabat yang akan berlangsung lusa sore.

Rabu Sore, 30 September 2009, Adhyaksa Dault tampil di panggung acara ulang tahun GMIM. Diiringi petikan gitar Franky, Adhyaksa Dault melantunkan tiga kata, “Kawanua Tanah Cinta” berulang-ulang seperti mendaraskan sejuta mantra untuk sejuta negeri atau sejuta kampung cinta. Tiba-tiba bergemalah suara hadirin ikut melantunkan lagu mantra cinta itu. Seorang pendeta perempuan yang duduk di sebelah saya di atas tribun kehormatan ikut menyanyi sementara airmatanya berlinang di pipinya yang putih.

Cinta istri dan Sulut - Gubernur Olly Dondokambey dan istri, Ny Ir Rita Tamuntuan sebagai rasa cintanya pada masyarakat Sulut memberi contoh menanam jahe merah di Kolongan, Minut,  masa pandemi covid19,  Rabu 29 April 2020.
Cinta istri dan Sulut - Gubernur Olly Dondokambey dan istri, Ny Ir Rita Tamuntuan sebagai rasa cintanya pada masyarakat Sulut memberi contoh menanam jahe merah di Kolongan, Minut, masa pandemi covid19, Rabu 29 April 2020. (J Osdar)

Semua ikut menyanyikan lagu ini, termasuk Ketua PGI (waktu itu), Yewangoe, Menteri Kehutanan (waktu itu) MS Kaban dan Gubernur Sulut (waktu itu) SH Sarundajang. “Kawanua Tanah Cinta, Kawanua Tanah Cinta, Kawanua Tanah Cinta”.

Keesokannya, pagi sekali saya dan Franky ke Kampung Touliang sebentar dan kemudian ke Amurang, Minahasa Selatan. Sebelum ke Amurang, kami makan mie cakalang di rumah makan tepi jalan raya di Kampung Wawalintouan, kota Tondano. Di kawasan itulah ternyata tempat tinggal Wakil Gubernur Sulut saat ini Steven Kandouw.

Di Wawalintouan itu saya bercerita kepada Franky, tahun 1975 sampai 1977, saya tinggal di Pineleng dan Warembungan. Selama itu, saya beberapa kali melakukan perjalanan ke beberapa tempat, seperti ke Kema, Manembo-nembo, Kembes, Rumengkor, Kali, Kamangta, Sea, Aerprang, Aertembaga (Bitung), Lemoh, Lola, Taratara, Tanawangko, Senduk, Amurang, Pulau Bangka dan lain-lainnya.

Di jalan pulang ke Manado, Franky mengatakan tanah ini penuh cinta, cinta Tuhan, cinta istri, anak, cinta negeri, cinta kampung, dan seterusnya.

JK : Sulut Paling Rukun

Suatu hari, Senin, 19 Maret 2018, saya ikut rombongan dengan Wakil Presiden (waktu itu) Jusuf Kalla (JK) dan Ny Mufidah Jusuf Kalla dalam satu pesawat ke Manado untuk acara pembukaan Sidang Majelis Sinode ke-79 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Di pesawat, saya duduk satu meja dengan Jusuf Kalla dan Ny Mufidah. Dalam perjalanan itu saya terkejut, Pak JK mengatakan, “Dulu Bung Os berteman dengan penyanyi Franky Sahilatua almarhum ya ?”.

Kemudian saya bercerita kepada Pak JK dan Ibu Mufida tentang Franky dan Adhyaksa Dault (dari PKS) yang melantunkan lagu “Kawanua Tanah Cinta”. Saya ceritakan juga tahun 2006, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal 2004 - 2007 Saifullah Yusuf (Gus Ipul yang waktu itu juga Ketua Umum Pemuda Ansor), mengajak saya dan Franky Sahilatua untuk menghadiri acara yang diadakan waktu itu oleh Bupati Minahasa Utara (Minut 2005 - 2008), Vonnie Anneke Panambunan di Minut.

Sulut Paling Rukun - Saya (J Osdar), Wapres (waktu itu) Jusuf Kalla  (JK) dan istri Ny Mufidah Jusuf Kalla dalam perjalanan pulang dari Manado ke Jakarta, Senin 19 Maret 2018. Di Sidang Majelis Sinode  GMIM ke-79 di Minahasa Utara, JK antara lain mengatakan Sulut paling terkenal kerukunan antarumat beragama/kepercayaannya.
Sulut Paling Rukun - Saya (J Osdar), Wapres (waktu itu) Jusuf Kalla (JK) dan istri Ny Mufidah Jusuf Kalla dalam perjalanan pulang dari Manado ke Jakarta, Senin 19 Maret 2018. Di Sidang Majelis Sinode GMIM ke-79 di Minahasa Utara, JK antara lain mengatakan Sulut paling terkenal kerukunan antarumat beragama/kepercayaannya. (J Osdar)

Acaranya di sebuah gereja. Saifullah Yusuf dalam acara itu diminta untuk pidato. Dalam sambutannya itu, Gus Ipul mengatakan, “Nama saya Yusuf, sama dengan suami Maria dan ayah Jesus. Maka orang yang bernama Yusuf selalu membawa cinta kasih.” Para jemaat gereja langsung bertepuk tangan. “Ternyata di sini sudah banyak cinta kasih ya,” lanjut Gus Ipul saat itu yang disambut ketawa para jemaat.

Mendengar cerita saya, Pak Jusuf Kalla tertawa dan mengatakan provinsi ini memang penuh cinta kasih, makanya toleransi dan kerukunan antarumat beragamanya sangat terkenal dan tertinggi di negeri ini. Dalam sambutannya dalam acara di pembukaan Sidang Majelis Sinode GMIM ke 79 itu, Pak JK mengatakan wilayah ini terkenal dengan keindahannya dan kerukunan antarumat beragama.

Sejak Pak Olly Dondokambey mulai kampanye Pemilihan Gubernur Sulut tahun 2015 sampai memerintah provinsi ini bersama Steven Kandouw ( 2020) ini saya telah menjelajah, boleh dikatakan ratusan kampung (negeri) Sulut. Selama itu, tiga kali melakukan perjalanan darat dari Manado sampai ujung selatan Bolangmongondow (Bolmong).

Perlu saya beri catatan kecil perjalanan dari Pinaras (Tomohon) ke Wawalintouan dan Kolongan (Minahasa Utara) pada Sabtu 5 September 2015. Di Pinaras saya menghadiri ulang tahun ke-81 Opa John Samuel Tamuntuan ke-81. Dalam acara ini diperdengarkan lagu Opa, berjudul “May the Good Lord Bless and Keep You (Semoga Tuhan yang baik memberkati dan menjaga Anda)” Lagunya beralun romantik. Ketika Opa Samuel meninggal dunia dan dimakamkan Rabu, 31 Juli 2019, lagu itu diperdengarkan lagi. Mengharukan, ketika peti jenasah di turunkan di liang lahat, salah seorang kakak peremuan Ny Rita Tamuntuan Dondokambey, melambaikan tangan. 

Di Wawalintouan, kota Tondano, kalau tidak salah ingat juga ulang tahun mamanya calon Wagub (waktu itu) Steven Kandouw, Ny Mathilda Lompoliuw Kandouw (72 tahun). Saat itu diperdengarkan lagu mars Minahasa : “Minahasa di Ujung Sulawesi”. Lagu ini dibawakan oleh kelompok musik bambu dari Kampung Kamangta Tombulu.

Alunan lagu di Pinaras dan hentakan lagu Mars Minahasa di Wawalintouan membawa angan saya ke masa kecil saya. Dua lagu itu bisa menjadi latarbelakang saya melukiskan Sulawesi Utara yang penuh cinta dalam keluarga dan cinta tanah air atau negeri. Perjalanan antara Pinaras - Wawalintouan itu selalu terkenang di benak saya.

Kebetulan sekali ketika artikel saya tulis, Wagub Steven Kandouw, lulusan SMA Kanisius SMA Kanisius dan Fisip Universita Indonesia itu, mengirimkan foto keluarga yang diberi teks foto, Cinta keluarga, istri dan anak. Wagub Steven Kandouw dalam foto itu bersama dengan istri, dr Devi Tanos dan sang putera, Ernesto Kandouw, taruna Akademi Kepolisian di Semarang, Jawa Tengah. “Jangan lupa Om Osdar kalau menulis, gue anggota World Union Jesuit. Bukan GMIM, GPIP atau HKBP,” ujarnya diiringi suara canda khas Steven Kandouw (SK).

Doa untuk Sulut

Perjalanan saya di Sulut ini selain bersama Pak Olly, sering pula dengan rekan-rekan lainnya seperti Ketua DPR Provinsi Sulut Andre Angauw, Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR Provinsi Sulut Rocky Wowor, Kepala BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Jeffry Lungkang, Anggota DPR Kota Manado Jean (Anne) Sumilat, mantan anggota DPR Provinsi Ruben Saerang, Suratman (biasa dipanggil Batman, polisi lalulintas yang sering ikut rombongan Pak Olly), Pendeta Margaretha Feybe Lumanauw, Elen Lumi, Linda Lapian, Chandra Pateh dan seterusnya.

Ada komentar paling bagus dari Ruben Saerang. “Jalan dengan Bung Osdar, bisa jadi pandai tapi juga bisa jadi gila,” kata Ruben. Sedang Feybe bilang, “Berjalan dengan Osdar, torang bole bakudapa deng Opa Kyai Madja (kuburannya di Tondano) dan Opa Imam Bonjol (kuburannya di Lota, Pineleng).

Untuk melukiskan perjalanan di Sulut, saya lebih suka bercerita tentang keindahan alamnya. Untuk lukisan keindahan alam saya meminjam beberapa kalimat dari buku kisah perjalanan Pendeta dari Belanda, N Graafland. Pendeta ini bertahun-tahun menjelajahi sejuta negeri (kampung) di tanah Minahasa. Ia pernah jadi Direktur Sekolah Guru Pribumi di Tanawangko, Minahasa. Bukunya setebal 540 halaman ditulisnya di atas kapal “Ida Elizabeth” yang sedang berlayar di Samudera Atlantik, 14 Januari 1864, jadi 156 tahun atau satu setengah abad lalu.

Bukunya berjudul Minahasa, Negeri, Rakyat dan Budayanya. Judul aslinya, “De Minahasa : Haarverleden en haar tegenwoordige toestand”. Buku terjemahannya oleh Lucy R Montolalu dan diterbitkan PT Pustaka Utama Grafiti Jakarta 1991. Graaffland selain melukiskan keindahan alam Minahasa dengan kalimat-kalimat doa puitis dan devosi pada Tuhan, juga menyuguhkan dari hal yang kudus sampai yang tidak kudus (”penuh dosa”).

Yang paling mengesankan saya adalah catatan Pendeta Graafland dalam perjalanan dari Tondano, Amurang, Manado, Kolongan dan di atas Gunung Kelabat.

“Dari puncak gunung (Kelabat) kami dapat pemandangan indah di sebagian besar tanah Minahasa. Terlihat semua gunung-gunung tinggi, lembah-lembahnya dan celah-celahnya. Terlihat pula permukaan Danau Tondano yang berkilau itu, begitu elok dan beraneka warna dikitari jajaran gunung-gunung. Kami dapat melihat sekian banyak negeri bagai ditaburkan dimuka permukaan tanah. Di sebelah utara terlihat daerah Minahasa dilingkari untaian pulau-pulau kecil dan besar.”

Pendeta Graafland juga mencatat “Negeri Kolongan” dan “Negeri Matungkas”. “Di negeri-negeri ini, di sekolah-sekolah, kami dikejutkan dengan sebuah nyanyian terjemahan dari lagu “Das ist Tags des Hern “(Hari ini harinya Tuhan).(Halaman 484 - 485).

Ketika saya (Osdar) selesai mendaki gunung Kalabat bersama Jeffry Lungkang, Sabtu 26 Maret 2016, saya melporkan kepada Gubernur Olly Donkambey dan Bupati Vonnie Annke Panambunan (kebetulan baru menghadap gubernur) di Kolongan. Saya mengatakan, dari gunung Kalabat saya melihat garis segitiga imajiner, Gunung Kelabat, Gunung Manado Tua dan Gunung Lokon, dan titik pusatnya di Desa Kolongan.

Sedangkan Franky Sahilatua ketika berada di atas gunung itu melihat Minahasa bagaikan firdaus yang terlempar di bumi.

Tapi, ketika melintasi pantai Negeri Kema, Pendeta Graafland antara lain mencatat, “Tidak ada harapan ada kehidupan suci . Banyak di antara mereka hidup bersama selir di luar ikatan perkawinan (bakupiara). Perempuan dan pria suka minum saguer tanpa batas, main kartu Cina dan berbagai perbuatan tak senonoh lainnya”.(halaman 472) .

Tapi, di halaman selanjutnya (526), Pendeta Graafland mengatakan :”Di seluruh Kepulauan Nusantara ini, dimanakan tempat lebih aman, lebih taat dan lebih sukabekerjasama, kecuali di daerah Minahasa.” Sang Pendeta rupanya mengatakan seperti yang dikatakan JK, Minahasa adalah wilayah yang paling aman, rukun antar-agama/kepercayaan, terbuka, dan toleran.

Pendeta Graaflanda menutup buku catatan perjalannya dengan harapan doa yang sangat indah mempesona, menembus waktu hingga saat Minahasa dan Sulut dipimpin trio (tiga serangkai) Olly Dondokambey - Steven Kandouw - Andre Angauw. Doa harapan itu nampaknya akan menembus waktu/masa mendatang.

“Memang, Minahasa sedang menuju masa depan yang indah. Semoga Tuhan memberkati tanah yang baik ini, pemerintahnya, dan semua orang yang telah bekerjasama dan meningkatkan kesejahteraan sejati rakyatnya.” Demikian doa dan harapan Pendeta Graafland (Halaman 530).

Saya jadi ingat ketika kampanye Pilgub Sulut 2015 lalu. Ketika itu saya duduk di sebelah Pak Olly di satu mobil masuk ke sebuah lorong kecil sempit yang dikitari rumah-rumah petak. Saya membuka kaca jendela dan seorang ibu tua berkata :”Tuhan memberkati Pak Olly dan Sulut”
(Josef Osdar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved