News
Tiongkok Harus Belajar Berbagi Agar Konflik Tak Pecah di Laut China Selatan
Memanasnya gerakan militer di wilayah Laut China Selatan, Membuat kegelisahan bagi negara disekitarnya bahkan para nelayan.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Memanasnya gerakan militer di wilayah Laut China Selatan.
Membuat kegelisahan bagi negara disekitarnya bahkan para nelayan.
Terkait hal tersebut dari membuat orang berpikir bagaimana cara agar tak memecahkan konflik di wilayah tersebut.
• VIRAL Jenazah PDP Covid-19 di Surabaya Hanya Dipakaikan Popok Tanpa Kain Kafan, RS Beri Bantahan
• KISAH Putra Asli Papua Pertama Berpangkat Jenderal Bintang 3 TNI AD, Pernah Jadi Buruh Pengaspal
• Ingat Sahabat Al Ghazali yang Dibunuh Ibu dan Kakak Tiri? Pembunuh Dana Kini Divonis Hukuman Mati

Mantan Wakil Direktur Administrasi Keselamatan Maritim Hainan Zhang Jie seolah tak percaya dengan perubahan yang cepat di Kepulauan Spratly.
Tetapi hal-hal mulai berubah pada tahun 2013, ketika Beijing memulai program pembangunan pulau dan pembangunan infrastruktur untuk mengubah gugusan pulau kecil dan terumbu menjadi pusat penelitian kelautan dan menjadi perhatian beberapa tetangganya.
"Saya terkejut ketika melihat foto-foto pesawat sipil mendarat di Fiery Cross Reef [pada 2016], yang hanya berupa batu kecil yang muncul dari laut ketika saya mengunjunginya beberapa tahun sebelumnya," kata Zhang.
"Luar biasa bagaimana mereka mengubahnya menjadi daratan besar dengan landasan terbang sepanjang 3.000 meter," katanya.
Pada tahun-tahun sejak penerbangan pertama itu, pengembangan Spratly terus berlanjut.
Mischief dan Subi reef yang bertetangga sekarang juga memiliki landasan terbang yang mampu menampung pesawat besar.
Ada juga berbagai bangunan dan fasilitas yang cocok untuk keperluan militer atau sipil seperti hanggar untuk jet tempur.
Kehadiran inilah yang paling menimbulkan kegelisahan di antara negara lain dan hak terkait dengan perikanan dan eksplorasi sumber daya yang tersebar di Laut China Selatan.
Keita Beijing mengklaim sekitar 90% dari jalur air yang disengketakan sebagai wilayah kedaulatannya, Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan dan Filipina juga memiliki klaim sendiri.
Demikian juga, Amerika Serikat dan banyak sekutunya di Eropa telah mengkritik apa yang mereka lihat sebagai gerakan China yang semakin agresif di wilayah tersebut.
Tetapi Zhang yang kini bekerja sebagai peneliti di Institut Nasional Studi Laut Cina Selatan, mengatakan hal tersebut tidak selalu seperti itu.
Dalam lebih dari 30 tahun di agensi tersebut, dia bilang ada sejumlah proyek penelitian kolaboratif dengan para ilmuwan dari seluruh wilayah.