Update Virus Corona Sulut
Pengamat Unsrat Sebut Kebijakan New Normal Seperti Orang Putus Asa
Euforia masyarakat menyambut New Normal sudah mulai dirasakan saat ini. Begitu pula dengan dunia pekerjaan, tak terkecuali ASN
Penulis: Nielton Durado | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Euforia masyarakat menyambut New Normal sudah mulai dirasakan saat ini.
Begitu pula dengan dunia pekerjaan, tak terkecuali ASN yang harus kembali bekerja mulai tanggal 5 Juni mendatang.
Meski begitu, menurut pengamat Kebijakan Fispol Unsrat Manado yakni Josef Kairupan, mengatakan pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan New Normal tersebut.
Menurut Kairupan, jika kebijakan New Normal terkesan sebagai keputusan yang pengecut dan putus asa.
"Bisa dibilang ini kebijakan putus asa dan pengecut, karena pemerintah lebih takut dengan kelumpuhan ekonomi dan anjloknya uang negara, tapi mengorbankan ribuan nyawa," ujarnya ketika dihubungi Tribun Manado, Selasa (2/6/2020).
Ia menambahkan, walaupun menjalani kehidupan New Normal dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat, apakah itu dapat menjamin minimnya penularan?
• Ini Sebaran PDP di Kabupaten dan Kota se-Sulut, Manado Tertinggi
Bisa jadi nantinya akan muncul kluster baru penyebaran Covid-19, yaitu kluster perkantoran (swasta maupun pemerintah).
Jika dicermati New Normal adalah satu kebijakan yang sangat dipaksakan.
Karena jika karena alasan perekonomian dan keuangan negara, sebenarnya ada beberapa langkah solutif.
Sebut saja seperti opsi pensiun dini bagi ASN yang rentan terinfeksi karena ada penyakit penyerta, dan telah berusia 50 tahun keatas, mengingat pos belanja pegawai memberikan sumbasih terbesar pada pembiayaan negara.
"Selanjutnya pemerintah dapat lebih memaksimalkan usaha-usaha kreatif home industri masyarakat, yang pemasarannya dapat menggunakan modernisasi teknologi informasi," tambah dia.
• Dua Warga Dumoga Alihkan BST untuk Warga Miskin
Kairupan mengingatkan sedangkan tenaga medis yang sudah menggunakan APD lengkap, disinfektan, sanitazer masih banyak yang terjangkit.
Apalagi masyarakat non-medis yang cuma menggunakan masker?
Apa bisa dijamin keluarga, orangtua yang sudah lansia, anak balita, bahkan kita yang sudah ada penyakit penyerta akan terbebas dari penularan?
Bukan tidak mungkin penularan akan semakin masif.
Bahkan rumah sakit tidak akan mampu lagi menampung pasien positif karena terlalu banyak yang terjangkit.
Jika terjadi seperti ini bisa saja tim medis akan kewalahan, Rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien covid-19.
Yang paling buruk tim medis akan selamatkan diri dan keluarganya masing-masing, seperti yang terjadi di Ekuador, karena tim medis juga hanya manusia biasa.
• Alasan Pemerintah Batalkan Keberangkatan Haji: Arab Saudi Tak Kunjung Membuka Akses Bagi Jemaah Haji
"Justru ini akan menjadi abnormal, bahkan new disaster," aku dia.
Josef menegaskan jika memang pemerintah ingin menyelamatkan dan melindungi rakyatnya.
Keputusan tegas dan berani harus dibuat, bukan memutuskan berdamai dengan corona, atau hidup berdampingan dengan corona.
Itu keputusan gila, manusia mungkin saja mau berdamai, tapi apa virusnya mau berdamai?
Kehidupan new normal mungkin bisa dilakukan saat kurva penularan zero growth.
Tapi sekarang lagi tingginya penularan, jika tetap diberlakukan new normal sama saja bunuh diri.
Sebagai pelajaran ada beberapa negara yang gagal memberlakukan new normal yaitu, Swedia dan Korsel.
• Petugas Jaga Perbatasan Dapat Dana Operasional dari Tiap Puskesmas
Hal ini membuktikan bahwa new normal tidak menjamin perkenomian negara akan pulih.
Karena pelaku perekonomian itu adalah manusia, jika manusianya sakit atau bahkan meninggal, mau berjalan bagaimana perekonomian?
Perlu diingat saat ini, Indonesia belum masuk dalam gelombang ke dua penularan.
Sesuatu yang sangat parah akan terjadi, mengingat jumlah penduduk yang banyak, dan kurangnya kedisiplinan masyarakat.
"Masih banyak yang mengganggap remeh, tidak patuh dan taat terhadap protokol yg ditetapkan," tandasnya. (Nie)
• Kepala Dinkes Minsel: Sudah Ada 2 Pasien Covid-19 yang Meninggal