Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Idul Fitri 2020

Tata Cara Mengerjakan Salat Id di Rumah, Sendiri Maupun Berjamaah

Pemerintah di sebagian besar negara menerapkan berbagai kebijakan untuk menekan penyebaran virus yang menyebabkan penyakit Covid-19 ini.

Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
Row Pixel
Ilustrasi salat Idul Fitri di rumah. 

Namun mengenai tatacara pelaksanaannya, terjadi perbedaan pendapat antara ulama fiqh, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid, I/204.

واختلفوا فيمن تفوته صلاة العيد مع الإمام فقال قوم: يصلي أربعا وبه قال أحمد والثوري وهو مروي عن ابن مسعود. وقال قوم: بل يقضيها على صفة صلاة الإمام ركعتين يكبر فيهما نحو تكبيره ويجهر كجهره وبه قال الشافعي وأبو ثور. وقال قوم: بل ركعتين فقط لا يجهر فيهما ولا يكبر تكبير العيد. وقال قوم: إن صلى الإمام في المصلى صلى ركعتين وإن صلى في غير المصلى صلى أربع ركعات. وقال قوم: لا قضاء عليه أصلا وهو قول مالك وأصحابه.

Artinya: “Ulama berbeda pendapat perihal orang yang luput shalat ‘ied bersama imam, maka sebagian ulama berpendapat; hendaknya orang tersebut shalat empat rakaat, ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad dan ats-Tsauri berdasarkan riwayat dari sahabat Ibnu Mas’ud ra. Sebagian ulama mengatakan; ia harus meng-qadha’ shalat dua rakaat dengan cara yang dilakukan imam, baca takbir dan baca surat dengan jelas (jahr) seperti yang dilakukan imam, pendapat ini dipegang oleh Imam asy-Syafi’i dan Abu Tsaur. Ulama lain mengatakan; ia cukup shalat dua rakaat tanpa suara yang keras dalam membaca surat dan tanpa takbir shalat ‘ied. Ulama lain mengatakan; jika imam shalat ‘ied di mushalla, maka ia shalat ‘ied dua rakaat, akan tetapi jika imam shalat di luar mushalla, maka ia shalat ‘ied empat rakaat. Ada lagi ulama mengatakan; ia tidak perlu meng-qadha’ shalat ‘ied sama sekali, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Malik dan pengikutnya.”

Namun pendapat yang layak dirujuk adalah keterangan dari Imam asy-Syafi’i – karena  mayoritas muslim di Indonesia adalah bermadzhab asy-Syafi’i – yang menjelaskan untuk melakukan shalat ‘ied dua rakaat ketika sendirian tanpa perlu menjelaskan (jahr) bacaan shalatnya dan juga tanpa khutbah idul fitri. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Rusyd dalam Kitab dalan halaman yang sama;

وحكى ابن المنذر عنه مثل قول الشافعي فمن قال أربعا شبهها بصلاة الجمعة وهو تشبيه ضعيف ومن قال ركعتين كما صلاهما الإمام فمصير إلى أن الأصل هو أن القضاء يجب أن يكون على صفة الأداء ومن منع القضاء فلأنه رأى أنها صلاة من شرطها الجماعة والإمام كالجمعة فلم يجب قضاؤها ركعتين ولا أربعا إذ ليست هي بدلا من شيء وهذان القولان هما اللذان يتردد فيهما النظر: أعني قول الشافعي وقول مالك. وأما سائر الأقاويل في ذلك فضعيف لا معنى له.

Artinya: “Ibnul Mundzir menceritakan sebagaimana pandangan dari Imam asy-Syafi’I, di mana pendapat yang menyatakan shalat ‘ied yang dilaksanakan sendiri berjumlah empat rakaat karena menganalogikannya seperti shalat jum’at didasarkan pada analogi yang lemah. Sedangkan ulama yang mengatakan bahwa shalat ‘ied yang dilaksanakan sendiri berjumlah dua rakaat seperti yang dikerjakan imam, merujuk pada prinsip bahwa qadha’ wajib dilakukan sesuai dengan sifat atau cara yang dilakukan secara tunai (ada’an). Sementara ulama yang menyatakan bahwa shalat ‘ied tidak perlu di-qadha’, memandang bahwa pelaksanaan shalat ‘ied disyaratkan secara berjamaah dan bersama imam sebagaimana shalat jum’at sehingga bila luput maka tidak perlu mengqadha dua ataupun empat rakaat, jika shalat ‘ied bukan ganti dari shalat lain (sebagaimana shalat jum’at dan zuhur). Dua pandangan inilah yang patut dipertimbangkan, yaitu pandangan Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik. Sedangkan pandangan selain keduanya dikategorikan lemah, dan tidak ada maknanya.”

Khutbah Idul Fitri di Rumah

Ustad Ahmad Rajafi menjelaskan, pelaksanaan khutbah idul fitri di rumah sama seperti khutbah jum’at yang dilaksanakan sebanyak dua kali dengan cara berdiri di hadapan seluruh anggota keluarganya, dan setelah Khatib selesai membacakan khutbah pertama, maka Khatib duduk beberapa detik sembari membaca surah al-Ikhlash dengan suara yang pelan (sir).

"Sedangkan anggota keluarga yang mendengarkan bershalawat kepada Nabi saw dan bermunajat kepada Allah swt dengan suara yang pelan juga," terangnya.

Setelah selesai membaca surah al-Ikhlash, Khatib kembali bangkit dan menyampaikan khutbah keduanya.

Seorang calon Khatib diperkenankan untuk mencari naskah khutbah, baik dari buku ataupun internet, namun tetap harus memperhatikan beberapa poin-point penting yang tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana keterangan di bawah ini:

1.      Khutbah Pertama

a.       Membaca Takbir sebanyak sembilan kali dan dilanjutkan dengan membaca alhamdulillah;

b.      Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw;

c.       Menyampaikan wasiat takwa;

Sumber: Tribun Manado
Halaman 3/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved