Virus Corona
Mogok Kerja, 60 Tenaga Kesehatan Diduga 'Takut' Tangani Pasien Virus Corona
tenaga medis dari perawat hingga pengemudi ambulans di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir Sumatera Selatan dikabarkan mogok kerja.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kemunculan virus corona ini membuat semua masyarakat takut, karena apa bila terjangkit akan diisolasi dan tak akan lagi bisa bertemu keluarga kecuali sudah dinyatakan sembuh
Terkait hal tersebut membuat beberapa orang tak maulagi bekerja, tak mau berkumpul dengan banyak orang, bahkan ada petugas medis pun takut melaksanakan tugasnya karena virus corona.
Kabarnya ada puluhan tenaga medis dari perawat hingga pengemudi ambulans di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir Sumatera Selatan dikabarkan mogok kerja pada Jumat (15/5/2020).
• Akibat Virus Corona Kerjaan Terhenti, Seorang Buruh Bangunan Buat Uang Palsu, Belajar dari Youtube
Menurut sumber Kompas.com, mogoknya puluhan tenaga medis yang berstatus tenaga honorer itu berawal saat tenaga medis dan pengemudi ambulans yang jumahnya 60 orang diminta melakukan evakuasi warga yang terkonfirmasi positif di Kecamatan Sungai Pinang Ogan Ilir.
Namun, karena mereka tidak mendapat surat tugas dari Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Ogan Ilir dan tidak ada kejelasan soal insentif dalam menangani warga positif Covid-19 tersebut, ke-60 tenaga medis itu menolak dan melakukan mogok kerja.
Persoalan APD yang dianggap tidak standar juga menjadi alasan tenaga medis itu akhirnya memutuskan mogok kerja.
Akibatnya, 60 orang tenaga medis itu dianggap mengundurkan diri sebagai tenaga honorer di RUSD Ogan Ilir.
“Tenaga paramedis tidak mau melaksanakan perintah pihak rumah sakit karena tidak ada surat tugas, selain itu tidak ada kejelasan soal insentif bagi mereka. Mereka hanya menerima honor bulanan sebesar Rp 750 ribu, sementara mereka dminta juga menangani warga yang positif Covid-19,” jelas sumber tersebut.
Selain itu, penolakan tenaga medis dalam melaksanakan instruksi pihak RSUD Ogan Ilir itu, juga karena tidak ada kejelasan soal rumah singgah bagi tenaga medis untuk beristirahat atau untuk berganti pakaian sebelum pulang ke rumah.
“Mereka khawatir jika langsung pulang akan menulari keluarga mereka,” tambah sumber tersebut.
Direktur RSUD Ogan Ilir Roretta Arta Guna Riama yang dikonfirmasi melalui telepon Minggu (17/5/2020) membenarkan adanya sejumlah tenaga medis yang melakukan aksi mogok kerja tersebut.
Namun, ia membantah berita yang mengatakan bahwa mogoknya tenaga medis itu karena soal insentif, APD yang tidak standar, atau soal rumah singgah yang tidak tersedia.
“Mereka lari ketakutan saat melihat ada pasien yang positif Covid-19," jelas Roretta
“Tidak ada tenaga dokter, mereka para tenaga medis seperti perawat dan sopir ambulans, mereka itu takut menangani pasien positif Covid-19, itu saja, bukan karena soal lain,” tambah Roretta
Dokter Roretta menambahkan, soal insentif dan rumah singgah sebenarnya sudah disiapkan, namun untuk besarannya ia mengaku lupa.
Untuk rumah singgah bagi tenaga medis juga sudah disiapkan sebanyak 35 kamar di Komplek DPRD Ogan Ilir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona-herd-immunity-adalah-kondisi-ketika-sebagian-besar-kelompok.jpg)