Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Nasional

Waduh, Tahun 2020 Dana Lebaran Rp 10,8 Triliun Tak Mengalir ke Daerah, Ini Penyebabnya

Untuk Lebaran 2020 peredaran uang diperkirakan turun signifikan sebesar Rp 158 triliun.

Editor: Frandi Piring
Kristianto Purnomo (KP)
Ilustrasi. 

Demi keselamatan bersama dan untuk mempercepat matinya penyebaran virus Covid-19, larangan mudik sesuatu yang harus ditaati.

ILUSTRASI - Pemudik menggunakan sepeda motor membawa anak dan sejumlah tas berisi barang bawaan melintas di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin(11/6/2018). Meski rentan dengan kecelakaan, mudik menggunakan sepeda motor jumlahnya masih banyak dan akan terus mengalir hingga H-1 Lebaran.
ILUSTRASI - Pemudik menggunakan sepeda motor membawa anak dan sejumlah tas berisi barang bawaan melintas di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin(11/6/2018). Meski rentan dengan kecelakaan, mudik menggunakan sepeda motor jumlahnya masih banyak dan akan terus mengalir hingga H-1 Lebaran. ((TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN))

Pada kondisi normal, aliran uang dari kota ke daerah tujuan mudik saat puncak Idul Fitri selalu naik dari tahun ke tahun.

Jika dalam kondisi normal uang yang mengalir ke daerah tujuan mudik tahun 2020 ini diperkirakan sebesar Rp 10,8 triliun naik 13,7% dari tahun 2019 sebesaar Rp 9,5 triliun.

“Jika tidak ada Covid-19 maka diperkirakan jumlah pemudik dari Jabodetabek ke berbagai daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai 7.640.288 jiwa atau setara 2.546.763 keluarga.

"Jika setiap keluarga membawa uang rata rata Rp 4,25 juta per keluarga, maka dana yang mengalir ke daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai Rp. 10,8 triliun,” ujar dia.

Seperti tahun tahun sebelumnya aliran uang dari kota ke daerah akan mampu menggerakkan perekonomian karena para pemudik akan banyak membelanjakan uangnya di kawasan destinasi pariwisata,

oleh-oleh khas daerah, aneka produk UMKM seperti makanan atau kuliner dan kerajinan daerah, batik dan uang lebaran/saku kepada keluarga.

Disamping itu dalam perjalanan mudik,uang tersebut sudah mulai mengalir pada usaha transportasi bus, kereta api, travel, rental, SPBU, restoran makanan sepanjang jalan arus mudik atau rest area.

Ilustrasi Mobil Trevel - Rombongan orang pemudik tertular virus corona
Ilustrasi Mobil Trevel - Rombongan orang pemudik tertular virus corona (Traveloka.com)

Umumnya uang pemudik lebih banyak beredar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Yogyakarta serta sebagian di Sumatera (Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan) dan sisanya daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Namun dampak Covid-19 ini perputaran uang dan aliran ke daerah tidaklah seperti tahun tahun sebelumnya,

yang tadinya diperkirakan aliran uang dari Jakarta ke daerah tujuan wisata sekitar Rp 10,8 triliun diperkirakan akan turun 80% atau hanya sekitar Rp 2 triliun.

Dana itupun hanya mengalir melalui kiriman atau transfer via bank atau kantor pos dari warga yang masih punya simpanan atau kelebihan untuk dibagikan kepada keluarga di kampung.

Alhasil, Sarman menyebut Idul Fitri tahun ini tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Harapan para pelaku UMKM untuk mendapat omzet dan keberuntungan saat momen lebaran kali ini pupus.

Akan tetapi masih ada peluang pada akhir tahun, dimana pemerintah akan memindahkan libur Lebaran ke akhir tahun dengan catatan bahwa kondisi ekonomi sudah mulai normal

dan pendapatan masyarakat sudah mulai membaik, sehingga ada kemungkinan mudik dan liburan ke kampung halaman.

Sumber: KONTAN.ID

Tautan: https://nasional.kontan.co.id/news/duh-uang-lebaran-rp-108-triliun-tak-mengalir-ke-daerah-tahun-ini

Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved