Ramadan 2020
Terowongan Ramadan
Alkisah, ada 3 orang yang sedang mencari kebahagiaan, kepada ketiganya kemudian diperintahkan memasuki sebuah terowongan yang gelap gulita
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Penulis: Nuzli Muchtar SPdi
(Ketua PW Persatuan Guru NU Sulawesi Utara)
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Alkisah, ada 3 orang yang sedang mencari kebahagiaan, kepada ketiganya kemudian diperintahkan memasuki sebuah terowongan yang gelap gulita, mereka diberi harus melewati terowongan itu tanpa alat penerangan dan tanpa alas kaki.
Kebahagiaan yang mereka cari akan mereka dapatkan di ujung terowongan itu, dengan catatan semakin tinggi tingkat kesulitan selama perjalanan dalam terowongan itu, semakin besar pula kebahagiaan yang akan mereka dapatkan.
Masuklah orang yang pertama, belum jauh ia berjalan, kakinya terantuk pada sebuah benda keras yang disangkanya batu, ia pun marah dan bersungut-sungut meratapi kesulitan yang dialaminya.
Disusul masuknya orang kedua, dalam kegelapan kakinya menendang banda keras yang juga disangkanya batu, ia mengambil dua buah batu, dengan harapan mungkin bisa berguna sebagi senjata untuk membela diri jika dalam perjalanan bertemu dengan binatang buas atau ancaman lainnya.
• Benhur Mano Menilai RUPS Luar Biasa PT LIB Dipaksakan
Akhirnya, masuk orang ketiga, seperti dua orang sebelumnya, kakinya pun tersandung pada bebatuan yang berserakan di lantai terowongan itu, namun ia berpikir bahwa batu itu bukanlah batu biasa, sehingga ia mengumpulkan batu itu sebanyak banyaknya, bahkan sampai membuka bajunya untuk dijadikan kantung agar lebih banyak batu yang bisa ia pikul sampai ke ujung terowongan.
Saat sampai ke ujung terowongan, terowongan itu tiba-tiba tertutup. Dan mereka semua terkejut karena ternyata benda yang mereka sangka batu, bukanlah batu biasa melainkan batu permata yang sangat tinggi nilainya.
Orang pertama tentu sangat menyesal, seandainya ia tahu tentu ia tidak akan berkeluh kesah namun apa daya ibarat kata pepatah 'nasi sudah menjadi bubur'. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menyesali keputusannya.
Adapun orang kedua merasa bersyukur karena ia masih sempat menggenggam dua buah batu permata, meski kemudian sedikit disertai penyesalan mengapa ia tidak mengambil batu itu lebih banyak, lumayanlah daripada tidak sama sekali begitu benaknya.
Yang paling berbahagia tentu saja adalah orang ketiga, karena dialah yang berhasil mengumpulkan batu permata sebanyak banyaknya, terbayar sudah kesulitan yang ia alami sepanjang terowongan memikul beban yang sangat berat.
• Singgung Pilpres 2024 pada Sandiaga Uno, Sudah Bagi-bagi Sembako, Refly Harun: Sandi-Erick For 2024
Kisah di atas, adalah sebuah perumpamaan terowongan Ramadan yang saat ini sudah mencapai sepertiga akhir, Allah Swt menyembunyikan keutamaan di balik permata amal yang di sepanjang ramadan ini, entah itu di balik kesulitan hambaNya yang menahan lapar serta hawa nafsu saat berpuasa, dibalik letihnya qiyamul lail, tadarus alquran, sedekah dan berbagai amal lainnya.
Pada akhirnya, semua kembali terpulang pada sikap kita dalam menjalani ramadan ini hingga selesai nanti, apakah kita akan seperti orang pertama yang melewatkan Ramadan ini dengan sia-sia?
Ataukah kita bersikap sebagaimana orang yang kedua yang meraih amal di bulan Ramadan ini sekedarnya saja?
Semoga saja, kita sekalian akan bersikap seperti orang ketiga yang berusaha beramal sebanyak banyaknya di bulan yang penuh kemuliaan ini.
Sehingga benarlah apa yang telah disabdakan Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya bahwa salah satu kebahagiaan bagi orang yang berpuasa adalah saat ia bertemu dengan Tuhannya, dengan amal terbaik yang pernah dilakukannya.
Insya Allah Amiin ya robbal Alamiin. Wallahul a’lam bis showwab. Wallauhul muwaffiq ilaa aqwamith thorieq. (Ang)