Breaking News
Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Dua Pria Terpapar Covid Tulari Dua Wanita: 40 Pasien Positif Corona di Sulut

Perlahan tapi pasti! Jumlah orang positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid-19) bertambah di Sulawesi Utara.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun Manado / Jufry Mantak
Dokter Steaven Dandel selaku jubir satgas Covid-19 Sulut 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Perlahan tapi pasti! Jumlah orang positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid-19) bertambah di Sulawesi Utara. Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Sulut kembali mengumumkan empat orang positif terpapar virus. Mereka tersebar di Kota Manado dan Bitung (lihat grafis). Hingga Minggu (26/4/2020), Sulut sudak ‘mengoleksi’ 40 orang positif Corona.

Netizen Doakan Keluarga Gubernur Olly

Pada Jumat malam pekan lalu, ada 36 kasus Covid-19 di Sulut. Hanya berselang sehari, Minggu malam, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut, dr Steven Dandel mengumumkan, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah empat sehingga berjumlah 40 kasus.

"Iya, benar bahwa hari ini pihak kami menerima laporan hasil swab, bahwa di Sulut ketambahan empat kasus positif Covid-19. Sehingga berjumlah 40 kasus," kata Dandel melalui video conference bersama jurnalis Covid-19, tadi malam.

Dikatakan Dandel, keempat pasien yang baru terkonfirmasi positif Covid-19 ini adalah warga Bitung dan Manado. "Kasus ke-37 jenis kelamin laki-laki, umur 39 tahun, warga Kota Bitung. Bersangkutan memiliki riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal," ujar Dandel.

Lanjutnya, kasus ke-38, jenis kelamin perempuan, umur 32 tahun. "Kasus ke-38 ini juga warga Kota Bitung. Bersangkutan punya kontak erat berisiko tinggi dari kasus 37," ujar dia. Kata Dandel, untuk kasus ke-39, seorang pria umur 53 tahun asal Kota Manado. Dia punya kontak erat berisiko tinggi dari pasien kasus 35.

"Untuk kasus ke-40, jenis kelamin perempuan, umur 19 tahun, warga Manado. Bersangkutan punya kontak erat risiko tinggi dari pasien kasus nomor 35 dan 39," ujar Dandel.

Pengamat kesehatan dari Universitas Negeri Manado, Jonesius Manoppo menilai, pertambahan orang positif Covid disebabkan tidak maksimalnya tracking dan tracing kepada orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). "Ada kontak erat yang luput saat wawancara kepada mereka yang berstatus ODP dan PDP, karena ada yang tidak jujur. Ada kontak erat risiko tinggi atau rendah dan pelaku perjalanan tidak jujur kepada petugas medis," ungkap Manoppo kepada Tribun Manado.

Dosen Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Unima ini mengatakan, hal yang paling berisiko juga terdapat pada orang tanpa gejala (OTG). Menurutnya, ada OTG yang tidak sadar sedang menebar virus di mana-mana atau ODP dan PDP yang melanggar karantina pribadi di rumah, dan bebas ke mana saja.

Ramadan di Benua Biru: 18 Jam Berpuasa di Kota Manchester 

Kemungkinan besar tidak menggunakan masker karena menganggap tidak sakit dan merasa tidak punya kontak dengan mereka yang PDP atau ODP. Hal inilah yang luput dari pengawasan. "Padahal, kita tidak tahu lagi siapa kawan dan siapa lawan di sini, jika tak waspada risiko terpapar virus Corona terbuka lebar," sebut Manoppo.

Lanjutnya, kalau sampai kebobolan itu pasti karena hal di atas, ada protokol yang dilanggar, seperti tidak mencuci tangan kemudian menyentuh muka, tidak menerapkan penjagaan jarak fisik, tidak menggunakan masker dengan tepat dan benar.

Selain itu, tidak menyemprot disinfektan untuk barang dari luar seperti tas dan uang, juga penanganan sampah masker yang tidak sesuai prosedur. "Itu semua terjadi selain karena ketidaktahuan atau karena menganggap enteng virus ini. Juga karena rasa aman semu akibat karantina lokal, yang menganggap virus belum mencapai lokasi mereka," ujar Manoppo.

Dikatakannya, sekarang kemungkinan penularan Covid dari luar daerah sangat kecil, karena penerbangan sudah dihentikan dan pelabuhan laut ditutup, namun jangan membuat lengah untuk tetap disiplin menerapkan kebersihan pribadi.

"Setidaknya 14-21 hari ke depan kita tetap waspada, jangan mempercayai siapapun dan menerapkan secara disiplin protokol pencegahan Covid, jaga jarak fisik, sekalipun memakai dan tidak membuka masker, tetap jaga jarak," ujarnya.

Tak hanya Manado dan Bitung, Kabupaten Bolaang Mongondow juga terus mewaspadai penyebaran Covid-19. Enam siswa yang sekolah di Jawa yang masuk Bolmong pekan lalu, dijadikan sebagai orang tanpa gejala (OTG).
Kadis Kesehatan Bolmong melalui Kabid Yusuf Detu mengatakan, keenamnya berada di Kecamatan Passi Timur. "Mereka langsung diperiksa kesehatan dan menjalani isolasi," katanya.

Sebut Detu, Bolmong kini mengoleksi 10 OTG dari tiga klaster. Punya riwayat perjanan ke Gowa-Sulawesi Selatan, penumpang KM Doloronda dan dari perjalanan dari Jawa. Kluster Gowa satu orang sedang Doloronda tiga orang. "Keempatnya bermukim di Lolak," kata dia.

Pasien Covid-19 Terbangun Setelah Dinyatakan Meninggal, Keluarga Terlanjur Simpan Abu Kremasi

Menurut dia, para OTG menjalani isolasi di rumah singgah di desa dengan pengawasan ketat dari aparat serta petugas Dinkes Bolmong. Bebernya, seorang OTG di Lolak, hingga kini masih menanti hasil swab tes. "Pada rapid
tes dia positif," katanya.

Dari Kota Kotamobagu, tiga tenaga medis yang dinyatakan reaktif saat rapid tes telah menjalani isolasi. Hal ini diungkapkan Jubur Satgas Covid-19 Kotamobagu, dr Tanti Korompot, Sabtu (25/4/2020). Ia mengatakan protokol penanganan Covid-19 telah diberlakukan kepada tiga tenaga medis itu sembari menunggu hasil swab.

"Kita juga melakukan tracking siapa saja yang telah melakukan kontak erat dengan ketiga tenaga medis itu. Nantinya kita juga akan turut melakukan rapid tes kepada orang yang telah di-tracking," bebernya.

Korompot mengatakan, sudah ada enam orang yang dinyatakan positif terpapar Covid-19. Tiga merupakan pelaku perjalanan, sedangkan tiga lainya adalah kontak erat. "Meski begitu kami berharap masyarakat tetap tenang dan selalu menerapkan physical distancing, rajin cuci tangan, menjaga pola hidup bersih dan sehat serta olahraga teratur," ujarnya.

Jumlah pelaku perjalanan di Kotamobagu cukup banya. Terpantau Sabtu (25/4/2020), sekira 2.246 orang yang terdata sebagai pelaku perjalanan. Korompot mengatakan, jumlah terus meningkat setiap harinya satu minggu terakhir. "Memang pelaku perjalanan ini, mayoritas adalah mahasiswa serta orang yang bekerja dari luar daerah, yang memilih kembali pasca mewabahnya Covid-19," bebernya.

Ia mengatakan, saat ini seluruh pelaku perjalanan tetap dipantau dan wajib mengisolasi diri selama 14 hari. "Nantinya ada tim medis yang turun langsung memantau langsung kesehatan mereka, sehingga masyarakat tidak perlu resah. Di sisi lain, seluruh pelaku perjalanan ini juga, telah dilakukan pemeriksaan kesehatan," ucap dia. 

Prof dr Boetje Herry Moningka
Prof dr Boetje Herry Moningka (istimewa)

Prof dr Boetje Moningka
Pengamat Kesehatan

Apresiasi untuk Kotamobagu

Tindakan Pemerintah Kota Kotamobagu melakukan penanganan wabah Coronavirus disease 2019 (Covid-19) patut diapresiasi.

Kotamobagu daerah pertama yang menginisiasi melakukan tracking dan pemeriksaan kepada sejumlah orang yang mengikuti kegiatan keagamaan di Gowa, Sulawesi Selatan.

Dan dari pemeriksaan ini akhirnya ditemukan, ternyata sudah ada yang teridentifikasi, terpapar Covid-19. Tentu kesigapan Pemkot dalam bekerja, patut diancungi jempol. Meski tak ada penutupan gerbang, namun program tracking mereka sangat efektif.

Saya berharap pemerintah kabupaten dan kota lain dapat mengikuti apa yang dilakukan Pemkot Kotamobagu dengan melakukan tracking kepada pelaku perjalanan.

Kebutuhan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendiagnosa Covid-19 di Provinsi Sulut, sangat mendesak. Sejauh ini keterlambatan maupun kesalahan dalam mendiagnosa pasien yang diduga terpapar Covid-19, perlu menjadi perhatian serius pemerintah.

Tentu ini yang membahayakan masyarakat, sebab sejauh pengamatan saya, ada banyak kasus overdiagnosis. Ada PDP yang belakangan diketahui positif namun hasilnya sangat lambat, bahkan harus menunggu waktu sekitar 10 hari. Tentu ini dapat menyebabkan suspek melakukan kontak erat dengan seseorang. Sehingga keterlambatan hasil tes ini, menjadi polemik yang sangat merugikan masyarakat. 

Wali Kota Kotamobagu Ir Hj Tatong Bara
Wali Kota Kotamobagu Ir Hj Tatong Bara (Don Papuling/tribun manado)

Tatong Bahas Usulan PSBB

Wali Kota Kotamobagu, Tatong Bara mengatakan, saat ini, pihaknya tengah membahas sejauh mana kesiapan sebelum dilakukan pengajuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). "Kami ingin melakukan kajian yang komprehensif dan terukur sebelum mengajukan usulan,” ujarnya, Minggu (26/4/2020).

Menurut Tatong, dalam pengajuan PSBB ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebagaimana diatur dalam Permenkes 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Coronavirus disease 2019 (Covid-19).

"Sejak 7 warga Kotamobagu reaktif positif Covid-19 melalui rapid tes pekan lalu, saya sudah meminta Tim Gugus Tugas mempelajari kemungkinan pengajuan PSBB, dengan mempertimbangkan peningkatan jumlah kasus yang ada, maupun kajian epidemiologis. Kami sudah membahas ini sebelum lima warga terkonfirmasi positif. Kriteria dalam PSBB cukup ketat, mulai dari jumlah kasus dan kematian yang meningkat tajam, penyebaran yang mulai meluas ke beberapa wilayah melalui transmisi lokal, serta terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah lain," kata dia.

Pemerintah daerah, tambahnya, juga harus menyiapkan beberapa informasi pendukung dalam pengajuan PSBB ke pemerintah pusat dalam hal ini ke Menteri Kesehatan. "Informasi kesiapan daerah dalam penyediaan kebutuhan hidup dasar masyarakat, fasilitas kesehatan, ketersediaan anggaran dan operasional jaring pengaman sosial, serta aspek keamanan dan perekonomian daerah, juga harus disampaikan bersama kriteria yang ada," katanya.

Wali Kota menambahkan, data dan informasi yang menjadi kriteria ini harus benar disajikan secara terukur agar bisa disetujui oleh pemerintah pusat. "Sudah banyak daerah yang ditolak pangajuannya karena tak bisa memenuhi kriteria yang ditentukan, sementara jumlah kasus di daerah tersebut juga sudah tergolong cukup mengkhawatirkan,” katanya.

Lanjut Tatong, Gorontalo misalnya yang sudah memiliki kasus 12 pasien berstatus positif Covid-19, tapi masih ditolak oleh pemerintah pusat. Saat ini di kita 6 pasien berstatus positif, 6 pasien dalam pengawasan (PDP), serta 14 orang dalam pemantauan (ODP). “Inilah yang harus kita kaji dan persiapkan dengan matang. Kriterianya harus bisa terpenuhi agar nantinya usulan kita bisa disetujui," papar dia

Selain penyedian data dan informasi, ujar Wali Kota, pemda juga harus melakukan kajian terhadap berbagai aspek, mulai dari masalah sosial, ekonomi, maupun keamanan, terutama kemampuan ketersediaan anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak langsung selama penerapan PSBB.

“Ketika PSBB ditetapkan, maka akan ada pembatasan terhadap berbagai aktivitas masyarakat, mulai tempat kerja yang tutup, pembatasan kegiatan sosial, keagamaan, aktivitas di tempat umum, maupun transportasi,” ungkapnya.

Sebab, tambah dia, dari data yang ada, di beberapa daerah yang telah menetapkan PSBB ternyata penambahan kasus tetap terjadi setiap harinya. Hal ini juga menjadi salah satu bahan kajian pemerintah kota. "Penerapan PSBB pun belum merupakan jaminan bahwa jumlah kasus akan mulai berkurang. Kita bisa melihat Jakarta, Tangerang Selatan dan Tangerang, serta beberapa daerah lainnya.

Meski sudah PSBB tapi hampir setiap hari ada penambahan kasus baru, ini juga patut dijadikan pertimbangan, karena pada dasarnya semua kembali ke masyarakat, terutama bagaimana mereka disiplin dan menaati protokol Covid-19," tandasnya.

Kadis Kesehatan Kotamobagu, dr Tanti Korompot mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan tracking, mencari orang yang mempunyai kontak erat dengan salah satu pasien, yang diketahui merupakan penjual sayur. "Kami sudah selidiki rute penjualannya, dan turut melacak keluarga terdekat yang pernah melakukan kontak dengan yang bersangkutan," jelas dia.

"Khusus tenaga medis yang reaktif dalam rapid tes juga sudah kita isolasi sembari menunggu hasil swab. Nantinya dalam waktu dekat kami juga akan melakukan tracking mencari orang yang mempunyai kontak erat dengan mereka," kuncinya. (juf/drp/art/mjr/drp)

EMPAT KASUS BARU

Kasus 37
- Pria berumur 39 tahun
- Kota Bitung
- Riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal

Kasus 38
- Perempuan berumur 32 tahun
- Kota Bitung
- Kontak erat berisiko tinggi dari kasus 37

Kasus 39
- Pria berumur 53 tahun
- Kota Manado
- Kontak erat berisiko tinggi dari pasien kasus 35

Kasus 40
- Perempuan berumur 19 tahun
- Kota Manado
- Kontak erat risiko tinggi dari pasien kasus 35 dan 39
- Riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal

Sumber: Satgas Covid-19 Sulut (Jumat 26/4/2020)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved