Breaking News
Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Buku Sedunia

Asal Muasal Hari Buku Sedunia, Pertama Kali Dirayakan pada 1995, Ternyata Ada Peringatan Lain Juga

Pada hari tersebut ternyata tak hanya diperingati sebagai hari buku sedunia saja melainkan ada peringatan lain.

Editor: Alexander Pattyranie
ISTIMEWA
Sejarah Hari Buku Sedunia 

Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith.

Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.

Seorang Teater Terkenal

Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya.

Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial.

Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars.

Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.

Orang-orang zaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat.

Pergi ke teater pada zaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!

Teater-teater zaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai.

Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada zaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor.

Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.

Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" (pelukan), " dawn" (senja).

Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari zamannya. Orang-orang zaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja.

Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee".

Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, maka kata tersebut akan dituliskan "Meee".

Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed').

Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari zaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (kesatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata).

Di dalam budaya oral seperti zaman Shakespeare, orang-orang memedulikan detail intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada zaman dahulu daripada zaman sekarang.

William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini.

Topik yang dicakup beragam mulai dari roman komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia.

Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus kita lakukan?

Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya.

Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual.

Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita.

Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.

Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616.

Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")

Tulisan

Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup.

Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang kadang-kadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.

Data Diri

Nama lengkap: William Shakespeare

Nama Lain: William Shakespeare

Lahir: Warwickshire, 23 April 1616

Pekerjaan: Dramawan, penyair, aktor

Kebangsaan: Inggris

Periode menulis: Renaisans Inggris

Pasangan: Anne Hathaway (1582-1616)

Anak

Susanna Hall
Hamnet Shakespeare
Judith Quiney

Orang tua
Ayah: John Shakespeare
Ibu: Mary Shakespeare

Daftar Karya

Tragedi
Romeo and Juliet
Macbeth
King Lear
Hamlet
Othello
Titus Andronicus
Julius Caesar
Antony and Cleopatra
Coriolanus
Troilus and Cressida
Timon of Athens

Komedi

The Comedy of Errors
All's Well That Ends Well
As You Like It
A Midsummer Night's Dream
Much Ado About Nothing
Measure for Measure
The Tempest
Taming of the Shrew
Twelfth Night, or What You Will
The Merchant of Venice
The Merry Wives of Windsor
Love's Labour's Lost
The Two Gentlemen of Verona
Pericles Prince of Tyre
Cymbeline
The Winter's Tale

Sejarah

Richard III
Richard II
Henry VI, part 1
Henry VI, part 2
Henry VI, part 3
Henry V
Henry IV, part 1
Henry IV, part 2
Henry VIII
King John

Puisi

Shakespeare's Sonnets
Venus and Adonis
The Rape of Lucrece
The Passionate Pilgrim
The Phoenix and the Turtle
A Lover's Complaint

(*)

BERITA TERPOPULER :

 Israel Dinobatkan Jadi Negara Teraman dari Virus Corona, 5 Kabar Baik tentang Covid-19 di Dunia

 Kumpulan Gambar Ucapan Selamat Puasa Ramadan 2020, Cocok Jadi Status WhatsApp (WA)!

 Donald Trump Bersikeras Minta Harvard Kembalikan Uang Rp 133,4 Miliar, Ancam akan Melakukan Sesuatu

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Sejarah Peringatan Hari Buku Sedunia, Diambil dari Hari Kematian Sastrawan Terbesar Dunia

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved