Breaking News
Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bolmong

Pandemi Covid-19, Umat Kristen Gelar Ibadah Perjamuan Kudus di Rumah

Ibadah Jumat Agung memperingati kematian Yesus Kristus di Gereja Masehi Injili di GMIBM, Jumat (10/4/2020), berbeda dari biasanya

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Arthur Rompis
Ibadah Jumat Agung di Bolmong 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Ibadah Jumat Agung memperingati kematian Yesus Kristus di Gereja Masehi
Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) Kabupaten Bolmong,  Jumat (10/4/2020),  berbeda dari biasanya.

Ibadah berlangsung secara berkelompok di rumah. Dituntun oleh pendeta dari sebuah tempat. Suara pendeta dipancarkan lewat pengeras suara. Yang dipasang berlapis agar dapat menjangkau umat pada jarak ratusan meter.

Gereja kosong. Waktu ibadah berbeda pula. Sudah jadi tradisi kaum Calvinis, bilamana ibadah jumat agung berlangsung pada pukul 3 sore, bersamaan dengan waktu kematian Yesus.

Tapi kali ini berlangsung pukul 6 pagi. Ibadah berlangsung demikian untuk mengikuti himbauan pemerintah mengenai physical distancing untuk mencegah penyebaran virus Covid 19.

Pemakaman Pasien Covid-19 di Desa Wusa, Minahasa Utara, Warga Takut Keluar Rumah

Meski berbeda, tapi kekhusyukan tak berkurang sedikitpun. Malah bertambah khusyuk. Momen kematian Yesus yang dirayakan dalam suasana duka jatuh berbareng dengan sengsara dunia akibat pendemi Covid 19.

Umat makan roti dan minum anggur sambil melafalkan doa untuk dunia agar terbebas dari virus corona.
Tribun mengikuti perjamuan di salah satu rumah di jemaat Calvary Tambolango Lolak.

Ibadah dimulai tepat pukul 6 pagi. Di sana terdapat gabungan dari beberapa keluarga. Semua memakai
baju hitam, tanda perkabungan.

Umat patuh pada arahan pendeta meski suara toa kurang nyaring. Saat berdiri mereka berdiri. Menyanyi mereka
menyanyi.  Berdoa mereka berdoa. Saat khotbah, jemaat dengan segenap daya coba menangkap satu demi satu kata yang merambat di udara.

UPDATE Epidemiologi Covid-19 di Kabupaten Mitra, ODP 14 Orang dan PDP 2 Orang

Biasanya saat ibadah di gereja, ada saja umat yang merogoh tas untuk mengambil permen lantas dikunyah.
Kali ini semua tepekur. Tenggelam dalam konsentrasi. Coba menangkap suara di udara. "Ringan Semua di Kalvari, Kalvari, Kalvari," jemaat menyanyikan dengan sendu.

Tiba giliran perjamuan. Setelah pendeta mengucapkan ayat Matius 26 : 26 - 28, prosesi dimulai. Diaken mengambil roti dan membagikannya ke jemaat.

Kemudian anggur, yang diisi dalam gelas besar. Biasanya wadah anggur adalah sebuah cawan kecil. Dalam wadah itu, anggur diisi penuh.

Dalam gelas, anggur hanya diisi sepertiga. Sebelum santap dan minum, umat berdoa pribadi. Menutup mata, komat kamit, hanya beberapa detik.

Berdoa singkat. Mengenang tubuh dan darah Kristus yang tercurah bagi manusia, sampai ia datang kembali kelak.

Perusahan Ini Bantu Warga Terdampak Covid-19, dengan 400 Paket Sembako, Tangki Air dan Alat Semprot

Momen yang singkat itu begitu khusyuk. Bisa disebut momen paling khusyuk. Kemudian, umat membawa
persembahan dalam amplop.

Sebuah keranjang kecil jadi wadah persembahan. Setelah itu digelar doa umum. Yang kembali justru
lebih khusyuk dari di gereja.

Semua coba menangkap suara di udara. Memang seisi Bolaang Mongondow Raya (BMR) dicekam ketakutan akan virus corona. Di Manado sudah 8 positif. Manado sudah pula menyandang status transmisi lokal. Artinya corona
sudah bisa  menular dari warga ke warga di satu kota.

Tidak lagi dari luar kota atau luar negeri. Seisi BMR minta lockdown.  Kepala daerahnya yang biasanya beda pendapat kini bersatu. Kami ingin lockdown.

Agaknya itu belum bisa terwujud. Birokrasi menuju PSBB sungguh rumit. Hingga kini hanya Jakarta yang
bisa terapkan PSBB. Di sisi lain, warga kian menderita.

UMKM yang biasanya jadi benteng krisis, kini tumbang. Banyak warga kehilangan mata pencaharian.

Operasi Keselamatan Samrat 2020 Kedepankan Keselamatan dan Kamseltibcarlantas

Masih untung lagi panen hingga kaum petani bisa menebus barang yang digadaikan di pegadaian kala musim tanam.

"Benar-benar zaman yang sulit. Saya saja hampir tak bisa pulang rumah. Jam 10 malam desa sudah
blokir jalan," kata Yohanes seorang warga.

Setelah ibadah itu, umat tak langsung pulang. Mereka bercakap cakap. Hal itu serasa mewah. Makanya riuh.
Mungkin karena sudah lama berada dalam rumah, mengunci diri mengikuti anjuran pemerintah
soal physical distancing.

Yang dicakapkan adalah corona. Sempat jadi bahasan ulah sejumlah hamba Tuhan di ibu kota yang mengklaim bisa  membuat mujizat mengusir corona.

"Kalau kami sih ikut pemerintah saja, bukannya pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia, yang perlu bagi kita
adalah bertobat minta belas kasihan padanya," kata seorang warga bernama Marthen.

Pandemi Covid-19, Peternak Babi Keluhkan Harga Turun

Topik kembali pindah ke Lockdown atau PSBB. "Kami ingin lockdown, jangan BMR ini dimasuki virus
corona," kata dia lagi.

Semua setuju. Tapi jika itu belum terwujud juga, semua pasrah. Ibadah di rumah itu yang lain dari biasanya telah memberi kekuatan iman bahwa Tuhan akan menyertai dalam keadaan apapun.

"Tak ada suatu penderitaan, penganiayaan atau wabah yang dapat memisahkan manusia dari kasih Tuhan," ucap seorang diaken. Seperti lagu tadi. Ringan semua di Kalvari. (art)

Puluhan Kantong Darah Terkumpul Pada Aksi Kemanusiaan Ditpolairud Polda Sulut

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved