Kematian di Italia Tertinggi di Dunia: Takhta Suci Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Kematian di Italia akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19) mencapai 11.591 orang, tertinggi di dunia, sehingga pemerintah
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, ROMA - Kematian di Italia akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19) mencapai 11.591 orang, tertinggi di dunia, sehingga pemerintah mengajak seluruh warga negeri itu menaikkan bendera setengah tiang untuk menghormati para korban, Selasa (31/3/2020).
• Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Dengan 7 Menu Jus Rumahan Ini
Tahta Suci Vatikan ikut memberikan dukungan terhadap penghormatan kepada para korban tewas tersebut. "Hariini, dalam solidaritas dengan Italia, Takhta Suci mengibarkan bendera setengah tiang, berduka, untuk mengekspresikan kedekatan dengan para korban pandemi di Italia dan di dunia,” ujar sebuh pernyataan yang dikeluarkan Vatikan.
Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins, terdapat 11.591 orang meninggaldi Italia akibat virus corona. Angka tersebut merupakan tertinggi di dunia.
Sedangkan di Amerika Serikat (AS), pada Senin, angka kematian bertambah 575 orang. Iniadalahkematian yang paling banyak dilaporkan di AS dalam satu hari sejak wabah virus dimulai. Di seluruh AS jumlah korban tewas mencapai 3.004 orang.
Presiden Donald Trump mengatakan negara itu menghadapi 30 hari ke depan yang sangat krusial untuk melawan Covid-19. "Masa depan kita ada di tangan kita sendiri, dan pilihan serta pengorbanan yang kita buat akan menentukan nasib virus ini dan nasib kemenangan kita," kata Trump.
Menurutnya, semakin banyak warga AS mendedikasikan diri mereka untuk menjaga jarak sosial, semakin cepat negara itu dapatkembali normal. Di AS, jangka waktu jarak sosial diperpanjang 30 hari lagi, hingga 30 April mendatang.
• Bea Cukai Sebut Pakaian Cabo Berpotensi Sebar Covid-19, Imbau Jangan Dibeli
Kematian di AS menyisakan sebuah drama yang dialami seorang ibu dan anak. Michelle Bennett hanya bisa menyampaikan selamat berpisah kepada ibunya,Carolann Christine Gann (75), beberapa saatsebelummeninggal.
"Sayatidakbisaberada di sana (rumah sakit) dan memegang tangan ibuku, menggosok kepalanya, menceritakan hal-hal yang ingin kukatakan padanya. Aku begitu frustrasi dan tak berdaya karena tidak bisa berbicara dengannya. Ia dalam kondisi tidak sadar selama beberapa waktu,” kata Bennett kepadaCNN,Senin.
Tetapiseorang perawat di Rumah Sakit Issaquah Swedia, Washington, memberibantuan kepada Bennett agar dapat mengucapkan selamat tinggalpada sang ibu. Bennett mengatakan perawat menghubungi dirinya menggunakan ponsel pribadinya dan mengatakan sang ibu tidakakan hidup lebih lama.
"Aku akan mendekatkan telepon kewajahnya agar kamu bisa memberi tahu kamu mencintainya dan mengucapkan selamat tinggal," kata Bennett menirukan ucapan sang perawat. Sekira sepuluh menit kemudian, Bennett dapat berbicara dengan ibunya melaluiaplikasi video call FaceTime.
"Akusangat mencintaimu. Aku memaafkanmu, Bu,” ujar Bennett seraya menambahkan dia sempat bertengkar dengan ibunya sebelum terjangkit Covid-19.
• Ratusan Massa Tolak Pemakaman 2 Jenazah PDP Covid-19, Pemda Kota Makassar Akui Terlambat Dapat Info
Muncul 48 Kasus Baru di China
Terjadi peningkatan kasus virus corona baru di China daratan setelah mengalami penurunan empat hari. Melansir Mirror Selasa (31/3), peningkatan tersebut dipicu oleh infeksi yang melibatkan pelancong yang datang dari luar negeri. Pada hari Senin, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, China memiliki 48 kasus baru. Angka tersebut naik dari 31 infeksi baru sehari sebelumnya.
Semua 48 kasus diimpor, sehingga jumlah kasus impor di Cina menjadi 771 pada hari Senin. Tidak ada kasus infeksi lokal baru yang dilaporkan.
Infeksi yang ditularkan secara lokal di China sebagian besar telah menurun, namun pihak berwenang prihatin dengan kasus-kasus yang melibatkan pelancong yang telah menangkap virus di luar negeri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bapa-suci-paus-fransiskus.jpg)