Kehidupan di China
Kehidupan di China Mulai Kembali Normal Setelah Wabah Virus Corona, Sekolah Segera Dibuka
Melansir pemberitaan South China Morning Post, Minggu (15/3/2020), para pekerja secara bertahap kembali melakukan aktivitasnya
Setiap tahun, ia melakukan perjalanan ke Yunnan, pada akhir November, untuk mengembangbiakkan lebah madu. Biasanya, ia baru kembali pada awal Maret.
Namun, pada tahun ini, karena wabah virus corona, apa yang dirasakan Wu berbeda.
Hampir 60 juta orang dikarantina pada akhir Januari 2020 karena penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19.
Akibat karantina itu, Wu dan teman-temannya terjebak di Yunnan.
Mereka menelepon pihak berwenang setempat dan meminta izin untuk kembali ke Hubei mulai 1 Maret 2020.
"Kami melakukan panggilan setiap hari, hingga pejabat lokal tidak (ingin) menjawab telepon, mereka saat tahu itu nomor kami," ujar Wu.
Tak lama setelah itu, akhirnya permintaan tersebut disetujui.
Wu dan beberapa temannya diizinkan kembali ke Hubei pada Senin (16/3/2020). Ia dibekali dengan sertifikat kesehatan dari Yunnan dan surat penerimaan yang diberikan oleh pihak berwenang di Hubei.
Saat kembali, Wu membawa truk bermuatan lebih dari 150 sarang lebah.
"Saya merasa lebih baik. Akhirnya, saya kembali ke rumah," ujar dia.
Namun, penundaan kembali ini menelan biaya sekitar 30.000 yuan atau sekitar Rp 62.699.836 (kurs Rp 1 setara dengan 2.089 yuan).
Sebab, sepersepuluh lebahnya diracun dengan pestisida.
Kisah imigran di Guangzhou
Cerita lainnya, seorang pekerja imigran di Guangzhou, China, Wang Faji (26), naik bus dari kota asalnya di Guizhou, Rabu (11/3/2020).
Wang telah bekerja jauh dari desanya selama empat tahun terakhir, dan kembali untuk liburan pada Tahun Baru Imlek. Biasanya, ia kembali bekerja setelah Festival Lentera berakhir.