Pemerintah Afghanistan Tak Mau Lepas 5000 Taliban yang Ditahan, Perdamaian Terancam Batal
Taliban mengatakan pihaknya akan kembali melancarkan serangan ke pasukan keamanan Afghanistan.
Sementara itu pasukan Afghanistan telah berjanji untuk tetap pada status pertahanan aktif selama masa gencatan senjata.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menekankan bahwa jeda ini bukan gencatan senjata sepenuhnya, karena hanya meliputi daerah perkotaan dan area militer tertentu saja.
Untuk area-area terpencil dan pedesaan, ada kemungkinan pertempuran masih terjadi.
Kekhawatiran bahwa salah satu pihak akan memanfaatkan momentum jeda ini untuk mengamankan wilayah, juga muncul jelang pertemuan yang diadakan Sabtu mendatang.
3. Apa yang bisa diharapkan Sabtu besok?
Jika gencatan senjata ini berhasil dilakukan, Washington DC akan menandatangani kesepakatan lebih lanjut dengan Taliban.
Menurut laporan AFP, kesepatakan itu berisi ketentuan Washington DC menarik mundur pasukannya dan hanya menyisakan 8.600 personil saja.
Angka itu turun hampir separuh dari jumlah sebelumnya sekitar 12.000 sampai 13.000 anggota militer.
Pasukan yang tersisa itu ditugaskan untuk berjaga-jaga dan memantau situasi keamanan terkini.
Kemudian bagi Taliban, kesepakatan ini bisa digunakan untuk mencegah Afghanistan jadi tempat berkumpulnya para pemberontak, untuk merencanakan penyerangan ke kubu lawan.
Terkait hal ini keraguan masih menyelimuti AS, karena Taliban diragukan bisa dipercaya melawan teroris.
Sebaliknya jika semua berjalan dengan lancar, prajurit AS bisa saja ditarik semua dari Afghanistan dan tidak menyisakan satu orang pun di sana. Beberapa pengamat memprediksi ini tinggal menunggu waktu saja.
AS dan Taliban sebelumnya memang hampir mencapai kata damai, tapi Trump justru mengingkarinya hanya 11 jam setelah kesepakatan terjalin.
4. Menerka yang terjadi selanjutnya
AFP menyebut, kunci perdamaian sebenarnya ada di perundingan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, bukan antara kelompok tersebut dan Washington DC.