Dampak Wabah Virus Corona, Sejumlah Saham Turun, Saham Farmasi Malah Naik
Hingga saat ini dampak virus corona terhadap perekonomian hingga pasar saham masih belum dapat dipastikan
TRIBUNMANADO.CO.ID - Virus corona menjadi kekhawatiran dunia.
Jumlah korban yang terinfeksi dan meninggal setiap waktu terus bertambah.
Tercatat sebanyak 1.018 korban meninggal dunia akibat virus corona dan 43.112 orang terinfeksi.

Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menjelaskan, hingga saat ini dampak virus corona terhadap perekonomian hingga pasar saham masih belum dapat dipastikan.
"Masalah virus corona ini masih menjadi black swan event. Kita belum tahu, masih harus lihat perkembangannya," katanya di Jakarta, Selasa (11/2/2020).
Namun, berkaca dari wabah yang sempat terjadi sebelumnya seperti SARS tahun 2003 dan MERS tahun 2014, nyatanya ini tidak ada relevansi antara pasar saham dan wabah.
"(Penyebaran virus corona), masih ongoing, number of cases sudah 43.000-an, tapi tingkat kematiannya masih tetap 2 persen, jadi masih kecil. Kita belum tahu arahnya ke mana.
Tapi berkaca dari dua kejadian sebelumnya terlihat tidak terlalu ada hubungan antara pasar saham dengan wabah," jelasnya.
Freddy mengatakan, sejauh ini belum dapat dilihat pola dari penyebaran virus corona.
Ia mencontohkan, misalkan saja dampaknya terhadap saham maskapai penerbangan atau bisnis perhotelan yang turun.
• Flu Biasa Membunuh Lebih Banyak Orang Ketimbang Virus Corona, Peneliti: Ke Mana Wabah Ini Pergi?
• Peneliti Harvard Sebut Virus Corona Sudah Masuk Indonesia, Menkes Terawan: Itu Namanya Menghina
• Virus Corona Senjata Biologis AS untuk Musnahkan China? Media Rusia Ngotot Sebarkan Teori Konspirasi
Akan tetapi, di lain pihak saham farmasi justru naik.
"Jadi bisa saja offset, tidak bisa dilihat pattern-nya. Tapi yang pasti terkena dampak adalah ekonomi China tahun ini yang mungkin tidak terlalu bagus," jelasnya.
Menurutnya, sampai bulan ini saja, masih banyak pabrik yang tutup, padahal Wuhan merupakan hub yang begitu penting untuk perdagangan.
Wabah SARS tahun 2003 yang menimpa China, mencapai 8.100 kasus dan dengan kematian hampir 10 persen.
Sementara dari sejak awal penyebaran, indeks Asia Pasifik turun 5,5 persen.