Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Korban Bom Samarinda Merasa Tersakiti: WNI Eks ISIS Akan Dipulangkan

Isu wacana pemulangan WNI eks ISIS semakin marak diperbincangkan. Ada yang mendukung, banyak pula yang menolaknya.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Kolase Tribun Manado/Tribunnews.com
Presiden Jokowi Tolak Pulangkan WNI Eks ISIS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Isu wacana pemulangan WNI eks ISIS semakin marak diperbincangkan. Ada yang mendukung, banyak pula yang menolaknya. Sejumlah korban serangan terorisme pun angkat bicara.

Satu di antaranya adalah, seorang Ibu bernama Novita. Novita adalah korban dari serangan bom di Gereja Oikuemene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Meski peristiwa tersebut terjadi empat tahun silam, tapi bekas kepedihannya masih terasa.

Pemulangan WNI Mantan ISIS, Ngabalin: Tidak Boleh Ada Orang yang Desak Pemerintah

Serangan bom tersebut membuat empat korban yang semuanya adalah anak-anak terluka. Bahkan satu di antara keempat korban tersebut meninggal dunia karena luka bakar yang cukup parah. Novita tegas menolak atas wacana pemulangan WNI eks ISIS tersebut.

Menurutnya ia mengaku akan merasa tersakiti jika mereka kembali. Pasalnya, masih banyak bibit-bibit dari ISIS yang bersembunyi di Indonesia. "Saya sudah mengalami, anak saya dan anak gereja kita juga Intan, Alvaro, Triniti dan Anita (sudah menjadi korban). Kalau mereka kembali ke sini kayaknya agak menyakitkan. Karena di sini saja belum selesai, masih banyak bibit-bibit dari mereka," ujar Novita.

Menurutnya perhatian pemerintah kepada para korban serangan bom seperti dirinya belum maksimal. Sementara wacana dari pemulangan WNI eks ISIS terus-menerus menjadi perbincangan yang mengkhawatirkan.

"Dari yang kita alami, perhatian pemerintah untuk anak kita belum (maksimal), sementara mau ada rencana memulangkannya. Saya tidak setuju, cukup hanya kita yang mengalami (serangan bom dari teroris)," ujar Novita.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin mengatakan bahwa pemerintah saat ini sedang membahas mengenai perlu tidaknya 600 WNI Eks ISIS dipulangkan ke Indonesia. Berbagai masukan sedang dikaji untuk kemudian dijadikan keputusan pemerintah terhadap para WNI tersebut.

"Jadi maksudnya begini, makannya dalam beberapa kesempatan saya selalu bilang, bahwa tentu pemerintah menimbang-nimbang. Sebagai sebuah negara demokrasi yang besar dan kepribadian Bapak Presiden seperti itu, maka saya dalam berbagai kesempatan selalu saya bilang ini sedang dibahas. Usulan dalam bentuk apapun juga ini sedang dibahas," ujar Ngabalin.

Secara pribadi Ngabalin berharap para WNI yang meninggalkan Indonesia untuk bergabung dengan kelompok teroris tersebut tidak membebani pemerintah. "Siapa-siapa yang pergi atas nama dirinya, untuk kesenangan dirinya untuk memilih ideologinya kemudian pergi dan keluar Indonesia, kemudian menempuh jalan surgawinya, tempuhlah jalan itu, kau selamat atau kau tidak selamat, itu urusanmu. Jangan lagi membebani, negara pemerintah, serta rakyat Indonesia dengan rencana pemulanganmu," kata dia.

Apalagi menurut Ngabalin, para WNI tersebut pergi atas kemauan sendiri. Mereka bergabung dengan ISIS dengan menjelek-jelekan Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya para WNI tersebut tidak merengek untuk pulang ke Indonesia.

Pelaku Pembunuhan Menyerahkan Diri, Kapolres Minut Sampaikan Hal Ini

"Karena sudah menyebutkan negara ini negara thoghut, negara kafir, dia merobek-robek membakar paspornya, makan itu kau punya paspor," ujar Ngabalin.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan bahwa pemerintah bisa saja tidak memulangkan 600 WNI Eks ISIS yang sekarang nasibnya terkatung-katung. Hanya saja menurutnya pemerintah harus memiliki landasan hukum yang kuat untuk mengabaikan para WNI itu.

"Sepanjang landasan hukumnya jelas internasional juga bisa memahaminya ya enggak ada masalah itu pilihannya," ujar Taufan.

Hanya saja menurutnya bila pemerintah memilih opsi mengabaikan para eks ISIS tersebut, maka akan menuai kritikan baik dalam maupun luar negeri. Ia mencontohkan Inggris dan Jerman yang memilih mengabaikan warganya yang bergabung denga ISIS.

"Ya pasti ada kritik, jangan kira enggak ada kritik, saya bilang Inggris dikritik, Jerman juga dikritik," katanya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved