Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kalahkan Bom Nuklir: Virus Corona Bisa Tewaskan 65 Juta Orang dalam 18 Bulan

Cepatnya persebaran virus corona baru (2019-nCoV) dari Wuhan di awal tahun ini rupanya telah diprediksi seorang ilmuwan.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Sky News
Coronavirus di Wuhan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cepatnya persebaran virus corona baru (2019-nCoV) dari Wuhan di awal tahun ini rupanya telah diprediksi seorang ilmuwan. Simulasi pandemi global telah menunjukkan potensi persebaran virus corona.

Begini Harga Minyak dan Saham saat Penyebaran Virus Corona

Kedahsyatan virus ini bisa melebihi senjata nuklir yang dipakai Amerika Serikat ketika menghujani Jepang pada Perang Dunia II. Dua operasi pengeboman di Hirosima dan Nagazaki menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa, tapi virus corona bisa mencapai 65 jita jiwa dalam 18 bulan.

Virus corona juga bertanggung jawab terhadap wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) di Cina awal tahun 2000-an. Sekitar 8.000 orang tertular dengan korban meninggal 774 orang.

"Saya sudah pikirkan sejak lama bahwa virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi baru adalah virus corona," kata Eric Toner, ilmuwan dari Johns Hopkins Center for Health Security, dikutip dari Bussinessinsider, Minggu (26/1/2020).

Wabah di Wuhan memang belum disebut pandemik, tetapi virus corona baru telah menyebar ke berbagai negara. Ratusan orang tertular dengan korban meninggal sudah mencapai puluhan nyawa.

Simulasi tentang virus corona yang dilakukan Toner menunjukkan bahwa dalam 6 pekan, hampir semua negara di dunia akan punya kasus penularan. Dalam 18 bulan, 65 juta orang bisa meninggal karenanya.

Sandiaga Uno Setuju Dengan Jokowi Soal Pilpres 2024, Dia Tak Mau Terjebak

Toner melakukan simulasi dengan virus fiktif yang dinamakan CAPS. Analisis yang merupakan bagian dari kolaborasi dengan World Economic Forum dan Bill and Mellinda Gates Foundation tersebut mengamati apa yang terjadi bila pandemi bermula dari peternakan babi di Brazil.

Mirip seperti virus corona dari Wuhan yang diperkirakan berasal dari pasar hewan. Virus fiktif dalam simulasi Toner disebutkan resisten atau kebal terhadap vaksin modern. Lebih mematikan dari SARS, tetapi menular semudah virus flu.

Dalam simulasi CAPS, ilmuwan diasumsikan gagal mengembangkan vaksin untuk menghentikan pandemi. Asumsi ini dianggap realistis karena virus corona yang ada saat ini seperti SARS dan MERS hingga kini belum ada vaksinnya.

"Jika kita bisa melakukannya, bisa menciptakan vaksin dalam hitungan bulan dan bukan tahun apalagi dekade, itu akan mengubah permainan," kata Toner.
Virus corona menjadi momok yang ditakuti dunia saat ini. Selain belum ada vaksin untuk virus ini, korbannya pun sudah mencapai 1.000 orang dirawat dan 58 orang meninggal. Bahkan salah satu dokter yang menangani virus corona juga meninggal. Sebenarnya apa penyebab dari virus corona ini?

Belum bisa dipastikan, tetapi para peneliti menduga virus ini berasal dari hewan. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa hewan yang disebut sebagai penyebab virus corona.

Peneliti dalam jurnal Medical Virology melaporkan kemungkinan ular jadi asal mula adanya virus corona ini. Spesifiknya adalah ular kobra (Naja atra) dan Krait (Bungarus multicinctus).
Peneliti mengetahuinya dengan memeriksa protein pada virus yang mengenali sel inang. Ini merupakan petunjuk penting karena dapat menjelaskan bagaimana virus dapat berpindah dari ular ke manusia.

Ular kobra dan krait adalah dua jenis ular berbisa yang banyak dijual di pasar hewan kota Wuhan, Cina. Bahkan kedua jenis ular ini kadang dijual untuk dikonsumsi.
Peneliti memperkirakan ada puluhan juta orang yang bisa jadi korban apabila virus corona masuk pada skala pandemi. Hingga kini belum ada vaksin yang bisa mencegah virus corona. Vaksin virus ini baru akan diuji pada April 2020.

Untuk mengembangkan vaksin virus corona yang sudah menyebar hingga 13 negara, beberapa institusi, perusahaan farmasi hingga koalisi dan organisasi kesehatan di dunia turut andil dalam meneliti perkembangan virus corona.

Sebelumnya, University of Queensland (UQ) telah diminta untuk mengembangkan vaksin untuk wabah virus corona dengan kecepatan pengembangan vaksin yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Jumat (24/01/2020).

Ini Penjelasan Lion Air soal Interpreter yang Diduga Terpapar Virus Corona dan Dirawat di Manado

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved