Begini Harga Minyak dan Saham saat Penyebaran Virus Corona
Harga minyak mentah dunia anjlok sebagai imbas merebaknya virus corona ke-12 negara, dalam beberapa hari terakhir.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia anjlok sebagai imbas merebaknya virus corona ke-12 negara, dalam beberapa hari terakhir. Penjualan minyak mencatatkan angka terburuk sejak Juli 2019 lalu, pasca-merebaknya virus corona. Para pelaku pasar modal pun galau mengetahui penyebaran virus ke berbagai negara.
Penurunan permintaan otomatis membuat harga minyak tertekan. Banyaknya penerbangan yang dibatalkan di kota-kota di Cina serta beberapa negara yang bolak-balik ke negara itu, membuat permintaan minyak untuk maskapai penerbangan mengalami penurunan tajam.
• Sandiaga Uno Setuju Dengan Jokowi Soal Pilpres 2024, Dia Tak Mau Terjebak
Cina merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia. Tahun 2019, Cina mengimpor minyak rata-rata 10,12 juta barel per hari. Cina juga tercatat sebagai negara dengan konsumsi minyak terbesar dunia setelah Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan terakhir hari Jumat (24/1) lalu, dikutip dari CNBC International, Minggu (26/1), harga minyak mentah di West Texas Intermediate jatuh hingga 2,5 persen atau 1,4 dolar AS yang saat ini bertengger di harga 54,19 dolar per barel.
Minyak mentah sempat menyentuh harga 53,85 dolar per barel atau berada pada level terendahnya sejak Oktober tahun lalu. Penurunan harga minyak ini merupakan kerugian dalam empat hari berturut-turut. Adapun kontrak penjualan minyak sudah turun 7,4 persen selama tiga minggu terakhir.
Sementara itu, minyak Brent yang jadi rujukan harga minyak dunia, juga turun 2,2 persen menjadi 60,69 dolar per barel. Harga ini sudah turun 6,4 persen sejak tiga minggu lalu.
Melansir Reuters Jumat (24/1) harga patokan tembaga di London Metal Exchange (LME) ditutup merosot 2 persen menjadi 5.987 dolar AS per ton, sehingga menempatkan kerugian sepanjang pekan ini menjadi sekitar 4,5 persen.
"Jika angka kematian meningkat dan semakin banyak orang yang tertular virus ini, harga akan turun lebih jauh," kata analis Commerzbank, Daniel Briesemann.
Persediaan berdasarkan pesanan di gudang LME pun otomatis mengalami kenaikan menjadi 162.875 ton dari 90.000 ton minggu lalu.
Bukan hanya harga minyak mentah yang anjlok. Harga komoditas tembaga pun jatuh ke level terendah dalam enam pekan terakhir pada Kamis (23/1) karena meningkatnya jumlah kematian akibat virus corona.
• Ini Penjelasan Lion Air soal Interpreter yang Diduga Terpapar Virus Corona dan Dirawat di Manado
Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran atas dampak potensial wabah tersebut terhadap perekonomian Cina.
Harga logam dasar lainnya di kompleks LME sebagian besar tertekan, timbal ditutup merosot 1 persen menjadi 1.967 dolar per ton.
Aluminium turun 0,9 persen menjadi 1.795 dolar, seng anjlok 2,2 persen menjadi 2.343 dolar, nikel menyusut 2,1 persen menjadi 13.360 dolar AS dan timah ditutup 2,3 persen lebih rendah menjadi 17.030 dolar per ton.
Virus Corona telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Virus corona saat ini sudah merebak ke 12 negara di berbagai belahan dunia. Virus yang disebut mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) ini telah membunuh 58 orang di Cina hingga, Minggu (26/1).
Dalam laporan stasiun televisi CCTV yang dilansir Reuters, Beijing juga mengonfirmasi 1.975 orang telah terinfeksi virus baru ini. Virus Corona tersebut dipercaya mulai menyebar dari Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Cina, yang berpenduduk 11 juta orang.
Sejak laporan pertama pada 31 Desember 2019, virus tersebut telah menyebar ke sejumlah negara seperti AS, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Australia, Prancis, Hong Kong, Macao, Vietnam, Taiwan dan Kanada.
Virus ini menjadi berbahaya karena masih belum diketahui dengan jelas seberapa mematikannya dan sangat mudah menyebar di antara manusia. Sejumlah negara juga sudah menghentikan penerbangan dari dan ke Wuhan.
Saham Merosot