Warga Priok Ancam Tutup Pelabuhan: Tuntut Yasonna Minta Maaf 2x24 Jam
Warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengancam akan menggelar unjuk rasa dengan massa yang lebih banyak jika Menteri Hukum dan HAM
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Dalam pidato tersebut, kata Yasonna, ada beberapa faktor terjadinya tindakan kriminal, mulai dari kemiskinan, pengangguran, disintegrasi sosial, hingga masalah ekonomi. Karena faktor-faktor itulah, menurutnya, daerah-daerah kumuh cenderung memiliki angka kriminalitas tinggi dibandingkan daerah elite.
Untuk memberikan penjelasan tersebut, ia lalu membandingkan dua daerah di Jakarta, yaitu Tanjung Priok dan Menteng. Saat itu Yasonna menjadikan Tanjung Priok sebagai contoh daerah kumuh dan Menteng sebagai contoh daerah elite.
• Alat Uji Kendaraan Belum Diakreditasi, PAD Mandek
”Contoh daerah slums (kumuh) di Tanjung Priok dibanding daerah Menteng, lebih cenderung (probalitas) memiliki tingkat kejahatan lebih tinggi. Itu bukan karena faktor genetik atau biologis," ucapnya.
Dari contoh tersebut, Yasonna lalu menjelaskan jika perilaku kriminal bukan berasal dari genetik tetapi karena faktor lingkungan. Sehingga, untuk membasmi kejahatan, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menjebloskan pelakunya ke penjara tetapi juga harus dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
”Dan ini tanggung jawab kita bersama. Karena crime is a social product, maka masyarakat juga turut bertanggung jawab secara sosial dan moral untuk membasmi akar masalahnya," tegas Yasonna.
Yasonna menyayangkan isi pidatonya yang dipelintir seolah-olah seluruh masyarakat Tanjung Priok adalah penjahat. Padahal, ia bahkan sudah memberikan contoh ekstrim lainnya untuk menunjukkan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi.
”Saya contohkan, beri saya dua bayi, satu yang lahir dari Ibu PSK dan ayah bandit dari slums area, misalnya di Tanjung Priok, dan anak orang berkecukupan dengan ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha, misalnya dari menteng,” tuturnya.
Kedua bayi tersebut kemudian ditukar satu sama lain dan dididik hingga 20 tahun kemudian. Setelah itu, kata Yasonna, anak yang lahir dari keluarga di Menteng justru akan memiliki kecenderungan berbuat kriminal ketimbang anak yang lahir dari keluarga di Tanjung Priok.
”Karena, crime is determined by socioeconomic factors rather than genetic factors. Inilah inti penjelasan yang diplintir tersebut! Jadi itu bukan menunjukkan daerahnya, tapi socioeconomic conditions, dan sudah tentu tidak mengeneralisasi daerah Tanjung Priok,” tegas Yasonna.
”Memang apa yang saya sampaikan adalah penjelasan ilmiah ketimbang penjelasan politik, saya berharap ditanggapi secara ilmiah, bukan secara politik,” imbuhnya. (tribun network/ans/dod)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ratusan-orang-yang-mengatasnamakan-warga-tanjung-priok-6426.jpg)