Warga Priok Ancam Tutup Pelabuhan: Tuntut Yasonna Minta Maaf 2x24 Jam
Warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengancam akan menggelar unjuk rasa dengan massa yang lebih banyak jika Menteri Hukum dan HAM
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengancam akan menggelar unjuk rasa dengan massa yang lebih banyak jika Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly tidak meminta maaf dalam waktu 2x24 jam. Mereka menuntut Yasonna meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut Tanjung Priok sebagai tempat kumuh dan sumber kriminal.
• Terbaru Hasil Autopsi Lina Zubaedah: Diduga Pembunuhan Berencana, Ada Tanda di 10 Jari Ibunda Iky
Bahkan, ratusan warga yang kemarin berunjuk rasa di gedung Kemenkumham di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, mengancam akan menutup Pelabuhan Tanjung Priok jika dalam waktu 2x24 jam Yasonna tidak meminta maaf.
”Jika dalam 2x24 jam (Yasonna, red) tidak meminta maaf, kami akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar. Kalau perlu kita tutup Pelabuhan Tanjung Priok,” kata koordinator aksi, Kemal Abubakar di Gedung Kemenkumham, Jakarta Selatan, Rabu (22/1).
Aksi unjuk rasa warga Tanjung Priok ini berawal dari ucapan Menkumham Yasonna Laoly yang membandingkan tingkat kriminalitas di Tanjung Priok dengan di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Menurut Yasonna, kejahatan lebih banyak terjadi di kawasan Tanjung Priok karena memiliki titik daerah kumuh yang lebih banyak.
”Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah miskin. Slum area, bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak (banyak kriminalitas). Tapi coba Anda pergi di Tanjung Priok. Di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan,” kata Yasonna dalam sambutannya saat Deklarasi Resolusi Permasyarakatan 2020 di Lapas Narkotika Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (16/1).
Kemal menyebut pernyataan Yasonna itu adalah bentuk pelecehan kepada warga Tanjung Priok. Pernyataan itu menurutnya memberi dampak negatif bagi warga Tanjung Priok. Contohnya sulit mencari lapangan pekerjaan.
”Hari ini di Priok ada pelabuhan internasional, kami punya kawasan industri, kami punya industri otomotif yang bertaraf internasional. Bahwa memang ada kemiskinan di kami, bahwa memang ada pengangguran di kami, tapi ini kami terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi warga agar bisa juga diserap dalam lapangan pekerjaan di sana," ucap Kemal.
Kemal juga menilai ucapan Yasonna itu tidak memiliki dasar. Ia pun mengundang Yasonna untuk melihat langsung kondisi di sisi utara Jakarta itu. ”Kami mengundang Pak Menteri kapan-kapan kita ngopi di Tanjung Priok. Kita pastikan bahwa Priok itu aman, Priok itu tidak kriminal,” tegasnya.
• Pasca-Kebakaran Pasar Serasi Belum Beroperasi, Mencuat Wacana Penutupan
Aksi unjuk rasa di depan Gedung Kemenkumham ini sempat membuat Jalan Rasuna Said lumpuh karena tertutup kerumunan massa yang menuntut permintaan maaf dari Yasonna. Motor-motor warga yang berdemo tampak berjajar memenuhi ruas jalan di depan Gedung Kemenkumham. Hanya satu ruas jalan saja yang bisa digunakan. Selain tertutup kendaraan yang terparkir, lalu lintas juga tertutup oleh warga yang berdemo.
Warga Tanjung Priok sendiri mulai berkumpul di depan Gedung Kemenkumham sekitar pukul 11.40 WIB. Mereka membawa sejumlah poster yang berisi protes terhadap Menkumham Yasonna Laoly. ”Yasonna mana? Yasonna mana? Priok datang bawa pasukan! Priok bukan kriminal!” teriak warga yang berdemo.
Setelah sekitar tiga jam berunjuk rasa, 15 orang perwakilan massa aksi akhirnya diizinkan masuk ke Gedung Kemenkumham untuk berdialog. Namun, Kemal menyebut tidak ada dialog dan pihaknya hanya menyampaikan tuntutan. ”Kami tidak berhasil bertemu (dengan Yasonna). Tidak ada dialog di dalam. Jadi kami beri target 2x24 jam untuk meminta maaf,” ucap dia.
Merasa Dipelintir
Di sisi lain, Yasonna Laoly sendiri berkilah pidatonya di Lapas Narkotika Cipinang telah dipelintir. ”Mengingat kesalahpahaman, serta akibat tidak mendengarkan pidato saya secara utuh, pidato ini kemudian dipelintir oleh orang-orang tertentu yang pemahamannya tidak benar dan jauh dari substansi yang dimaksud. Untuk itu saya ingin meluruskannya,” kata Yasonna dalam keterangannya, Rabu (22/1).
Yasonna menjelaskan, ungkapan tersebut ia lontarkan saat memberikan sambutan di Lapas Narkotika Cipinang bersama Kepala BNN, Kepala BNPT, dan perwakilan beberapa lembaga. Saat itu ia bermaksud menjelaskan soal faktor criminogenic dari kemiskinan, sesuai dengan disertasinya saat menempuh gelar doktoral di bidang Kriminologi di AS.
”Tujuan saya menjelaskan agar masyarakat tidak mempunyai pandangan yang terlalu punitive terhadap para narapidana, sebab crime is a social product instead of genetic product,” jelasnya.
Dalam pidato tersebut, kata Yasonna, ada beberapa faktor terjadinya tindakan kriminal, mulai dari kemiskinan, pengangguran, disintegrasi sosial, hingga masalah ekonomi. Karena faktor-faktor itulah, menurutnya, daerah-daerah kumuh cenderung memiliki angka kriminalitas tinggi dibandingkan daerah elite.
Untuk memberikan penjelasan tersebut, ia lalu membandingkan dua daerah di Jakarta, yaitu Tanjung Priok dan Menteng. Saat itu Yasonna menjadikan Tanjung Priok sebagai contoh daerah kumuh dan Menteng sebagai contoh daerah elite.
• Alat Uji Kendaraan Belum Diakreditasi, PAD Mandek
”Contoh daerah slums (kumuh) di Tanjung Priok dibanding daerah Menteng, lebih cenderung (probalitas) memiliki tingkat kejahatan lebih tinggi. Itu bukan karena faktor genetik atau biologis," ucapnya.
Dari contoh tersebut, Yasonna lalu menjelaskan jika perilaku kriminal bukan berasal dari genetik tetapi karena faktor lingkungan. Sehingga, untuk membasmi kejahatan, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menjebloskan pelakunya ke penjara tetapi juga harus dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
”Dan ini tanggung jawab kita bersama. Karena crime is a social product, maka masyarakat juga turut bertanggung jawab secara sosial dan moral untuk membasmi akar masalahnya," tegas Yasonna.
Yasonna menyayangkan isi pidatonya yang dipelintir seolah-olah seluruh masyarakat Tanjung Priok adalah penjahat. Padahal, ia bahkan sudah memberikan contoh ekstrim lainnya untuk menunjukkan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi.
”Saya contohkan, beri saya dua bayi, satu yang lahir dari Ibu PSK dan ayah bandit dari slums area, misalnya di Tanjung Priok, dan anak orang berkecukupan dengan ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha, misalnya dari menteng,” tuturnya.
Kedua bayi tersebut kemudian ditukar satu sama lain dan dididik hingga 20 tahun kemudian. Setelah itu, kata Yasonna, anak yang lahir dari keluarga di Menteng justru akan memiliki kecenderungan berbuat kriminal ketimbang anak yang lahir dari keluarga di Tanjung Priok.
”Karena, crime is determined by socioeconomic factors rather than genetic factors. Inilah inti penjelasan yang diplintir tersebut! Jadi itu bukan menunjukkan daerahnya, tapi socioeconomic conditions, dan sudah tentu tidak mengeneralisasi daerah Tanjung Priok,” tegas Yasonna.
”Memang apa yang saya sampaikan adalah penjelasan ilmiah ketimbang penjelasan politik, saya berharap ditanggapi secara ilmiah, bukan secara politik,” imbuhnya. (tribun network/ans/dod)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ratusan-orang-yang-mengatasnamakan-warga-tanjung-priok-6426.jpg)