Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal: Hawa dan Maria, Perempuan Adalah Penolong yang Sepadan
Sebuh Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal: Hai ibu-ibu bertanggungjawablah atas kehidupan anak-anak yang kau lahirkan.
Ada banyak isteri yang mengalami kekerasan oleh suaminya.
Ada banyak anak perempuan yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengannya.
Kekerasan ini ada dalam berbagai bentuk seperti seksual, fisik (pemukulan/penganiayaan), psikis dan ekonomi serta pendidikan.
Menurut data tahun 2010 dari Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mengungkap bahwa sepertiga (1/3) dari kekerasan ini adalah kekerasan seksual dalam bentuk perkosaan, perdagangan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, intimidasi/serangan bernuansa seksual.
Termasuk ancaman/percobaan perkosaan, kontrol seksual termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama, pemaksaan aborsi, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, pemaksaan perkawinan termasuk kawin paksa dan cerai gantung.
Berdasarkan catatan dari LSM Swara Parangpuan SULUT pada tahun 2011,
KDRT (yang korban adalah isteri) terjadi dalam bentuk kekerasan fisik atau penganiayaan (47%), kekerasan psikis (24%) dan kekerasan ekonomi (29%).
Juga, kaum perempuan menjadi korban HIV/AIDS yang ditularkan oleh laki-laki/suami yang berakibat kesehatan ibu dan anak-anak.
Perempuan diperjualbelikan (trafficking) menjadi pelacur.
Pendek kata, perempuan yang kemudian menjadi ibu dari semua yang hidup tidak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik dan benar menurut kehendak Penciptanya.
Paham patriarkhat (bapa/laki-laki sebagai yang menentukan) dan adrosentrisme (laki-laki menjadi pusat) masih mempengaruhi cara pandang, cara pikir, cara berlaku/prilaku, cara bicara baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri.
Pada kesempatan yang khusus ini yaitu merayakan Hari Ibu dan Hari Natal, saya ingin membagi beberapa pokok pikiran teologis yaitu :
1. Kaum perempuan dan kaum ibu sama berartinya dengan kaum laki-laki dan kaum bapak dalam melanjutkan kehidupan dari generasi ke generasi.
Keduanya adalah penolong yang sepadan, setingkat dan semartabat.
Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang setara, sederajat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/hari-ibu_20171221_152836.jpg)