Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal: Hawa dan Maria, Perempuan Adalah Penolong yang Sepadan
Sebuh Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal: Hai ibu-ibu bertanggungjawablah atas kehidupan anak-anak yang kau lahirkan.
Banyak pula orang Kristen/warga gereja menyetujuinya dengan alasan pandangan di atas.
Di kalangan GMIM, kaum ibu dan kaum lanjut usia gereja sering mengadakan lomba busana gereja.
Bagi saya, di belakang ide itu tersirat upaya untuk mengatur penampilan perempuan.
Untunglah hasil lomba-lomba itu hanya berhenti sampai di situ, tidak sampai menjadi peraturan pakaian beribadah.
Artinya lomba itu mubazir, tidak berguna karena memang tidak harus diadakan, tidak ada dasar teologis apapun mengadakannya.
Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa perempuan adalah pembantu laki-laki sebagaimana layaknya hubungan atasan dan bawahan atau antara tuan dan hamba.
Perempuan masih dilihat sebagai pelengkap penderita.
Perempuan belum sepenuhnya dilhat sebagai bagian integral dan utuh dalam kemanusiaan sebagai Imago Dei itu.
Pandangan-pandangan di atas antara lain yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Saya teringat khotbah seorang teman pendeta laki-laki dalam ibadah menyambut natal 2011 wanita/kaum ibu.
Beliau menghubungkan nama Hawa dengan ‘hawa nafsu’.
Saya merasa tidak nyaman mendengar khotbahnya.
Untunglah saya didaulat untuk membawakan pesan.
Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk meluruskan arti nama Hawa.
Dalam pesan ini saya mengatakan bahwa nama Hawa berarti ibu dari semua yang hidup, tidak ada kaitan dengan hawa nafsu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/hari-ibu_20171221_152836.jpg)