Selasa, 19 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

Mendikbud Nadiem Makarim Hapus UN Mulai 2021, Arif Rahman Sebut Perlu Ada Standar Kemampuan Minimum

Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim mengapresiasi keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim menghapus UN

Tayang:
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/DOK. KEMENDIKBUD
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim umumkan penghapusan Ujian Nasional (UN).

Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim mengapresiasi keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim menghapus Ujian Nasional (UN) mulai 2021.

Karena fasilitas pendidikan dan guru yang disediakan pemerintah berbeda-beda di setiap daerah.

"Kalau UN dilakukan kepada fasilitas yang disediakan pemerintah yang berbeda-beda, itu kan tidak adil. Maka UN itu tidak tepat untuk dilakukan secara umum," ujar Arif Rahman Hakim melalui sambungan telepon kepada Tribunnews.com, Rabu (11/12/2019).

"Karena itu saya pikir memang tepat UN dihapuskan sebagai evaluasi seluruh Indonesia," tegas Arif Rahman Hakim.

Dia mengatakan, sudah sejak lama menyuarakan agar UN dihapuskan dari dunia pendidikan di Indonesia.

Dua Bulan Nadiem Makarim Menjabat, 4 Kebijakan Merdeka Belajar Telah Dikeluarkan

Bagaimana dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter sebagai pengganti UN?

Menurut dia, memang perlu ada standar kemampuan minimum yang harus dikuasai oleh setiap anak-anak didik seluruh Indonesia.

Standar kemampuan minimum itu harus dimiliki seorang siswa untuk naik ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

"Misalnya dinyatakan dia lulus dari SMA "A" di Jawa. Lalu di Papua, ada siswa lulus SMA. Mereka dinyatakan lulus setelah dinilai kemampuan minimumnya. Minimum seorang siswa itu menguasai 10 pokok bahasan dari 16 yang ada, umpanya. Itu minimum. Dan itu harus dikuasi para peserta didik," jelasnya.

Kalau tidak menguasai kemampuan minimum, maka seorang anak didik tidak punya kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SD ke SMP, SMP ke SMA dan SMA ke Perguruan Tinggi.

"Jadi ada kemampuan minimum yang memang harus dikuasai oleh setiap anak-anak didik seluruh Indonesia," jelasnya.

Selain itu dia mengingatkan, pendidikan itu bukan hanya untuk capaian keilmuan saja.

Tapi yang paling penting dari pendidikan itu adalah membina karakter dari anak-anak didik dalam setiap fasenya.

Melalui pendidikan kata dia, anak-anak betul-betul bisa diberikan kesempatan berkembang karakternya menjadi jauh lebih dewasa dari posisinya yang ada sekarang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved