Jokowi Dukung Nadiem Hapus UN per 2021, UN Diganti Asesmen Kompetensi dan Survei Karakter
Jokowi dukung Mendikbud Nadiem hapus UN per 2021. UN akan diganti asesmen kompetensi dan survei karakter.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Sigit Sugiharto
"Nanti kelihatan sekolah mana yang perlu disuntik," tambah Jokowi.
Terpisah, Ikatan Guru Indonesia (IGI) menilai pelaksanaan UN selama ini lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.
Meski sudah dipastikan UN dengan sistem yang sudah berjalan ini tidak akan lagi digunakan pada 2021, hal itu disesalkan IGI.
Pasalnya, IGI menilai hendaknya sudah mulai dihapus sejak 2020.
“Penghapusan UN mulai 2021 sesungguhnya sudah sangat terlambat. Ujian nasional sudah seharusnya dihapuskan mulai 2020 ini.
Mengapa? Karena ujian nasional selama ini lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya bahkan kita tidak menemukan manfaat sama sekali dari ujian nasional,” ujar Ketua Umum IGI Ramli Rahim.
Ramli Rahim menyebut, adanya ujian nasional mengakibatkan siswa dan para guru berfokus menghadapi UN dibanding melatih kemampuan siswa.
Ramli Rahim mengungkapkan sistem UN selama ini mengakibatkan anggapan UN jauh lebih penting daripada bakat, kemampuan nalar, kemampuan sosial dan kepribadian, serta kemampuan dasar siswa.
“Ujian nasional selama ini hanya menghidupkan bimbingan bimbingan belajar dan dengan demikian tes di sekolah-sekolah.
Bimbingan-bimbingan ini tentu saja bukan melatih siswa agar memiliki kemampuan nalar yang baik, bukan pula melatih siswa memiliki kemampuan analisa yang tinggi,” jelas Ramli Rahim.
Lebih lanjut, Ramli Rahim menilai UN membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Meskipun, UN tak lagi menggunakan kertas dalam penyelenggaraannya. Ramli Rahim menyebut pada 2019 Kemendikbud masih menganggarkan Rp 210 miliar untuk ujian nasional.
"Andai saja Rp 210 miliar ini digunakan untuk pengangkatan guru, pemerintah akan mampu mengangkat 3.500 guru dengan pendapatan rata-rata Rp 5 juta per bulan," ujar Ramli Rahim.
Selain anggaran dari pemerintah, Ramli Rahim menilai banyak anggaran yang harus dikeluarkan pihak peserta didik untuk menghadapi UN.
"Bisa dibayangkan, berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh orangtua siswa untuk mempersiapkan anaknya menghadapi ujian nasional yang tidak banyak berguna itu,” kata Ramli Rahim.
Kebijakan penghapusan UN juga didukung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
KPAI menilai UN sudah menjadi momok bagi para siswa di Indonesia.
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, menyambut baik rencana pemerintah tersebut pun disambut baik KPAI.
"UN sudah jadi momok, hapus saja!" ujarnya.
Retno menyebut dampak penghapusan UN akan berpengaruh pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang di sebagian daerah masih menggunakan nilai ujian nasional sebagai tolok ukur.
Lebih lanjut, Retno menyebut penghapusan UN akan sulit diterapkan jika cara mengajar guru di Indonesia tidak berubah.
Retno mengungkapkan dalam 25 tahun terakhir, guru masih mengedepankan metode menghapal dari pada budaya nalar dan budaya baca.
Guru yang tidak punya budaya membaca tidak akan bisa diandalkan sebagai ujung tombak perubahan.
"Guru berkualitas, siswanya juga berkualitas. Kalau para guru dan siswa berkualitas, maka sekolah pasti berkualitas. Jadi kuncinya di guru," kata dia.
(Tribun Network/fah/fel/why/wly)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/nadiem-makarim-dan-muhadjir-effendy-34586r9569.jpg)