Sidang Pembunuhan Guru Agama SMK Ichthus

Dua Siswa SMK Ichthus Pembunuh Guru Divonis 10 dan 8 Tahun Penjara, Keluarga Korban Tak Terima

Keputusan ini mengecewakan pihak keluarga korban, dan juga Aliansi Masyarakat Peduli Korban Pembunuhan Guru dan Forum Keluarga Pendeta

Dua Siswa SMK Ichthus Pembunuh Guru Divonis 10 dan 8 Tahun Penjara, Keluarga Korban Tak Terima
Tribun Manado / Isvara Savitri
Silvia Walalangi (41), istri Korban, bersama tim penasihat hukumnya saat ditemui usai sidang, Senin (2/12/2019). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kedua siswa SMK Ichthus FL (16) dan OU (17) yang membunuh gurunya Alexander Werupangkey, telah mendapat vonis di Pengadilan Negeri Manado, Senin (2/12/2019).

FL mendapatkan hukuman 10 tahun penjara sedangkan OU 8 tahun.

Keputusan ini mengecewakan pihak keluarga korban, dan juga Aliansi Masyarakat Peduli Korban Pembunuhan Guru dan Forum Keluarga Pendeta.

Bahkan anak mendiang Alexander Werupangkey (54), Ais Werupangkey sempat hampir menerobos barisan polisi yang berjaga di dalam ruang sidang untuk menghampiri kedua tersangka.

Pembunuh Guru SMK Ichthus Dituntut 10 dan 7 Tahun Penjara, Keluarga Korban Tak Terima

UPDATE - Dua Siswa Bunuh Guru SMK Ichthus, Divonis 10 dan 8 Tahun Penjara

Sidang Putusan Kasus Pembunuhan Guru SMK Ichthus, Keluarga Korban Teriak Bebaskan Saja Mereka

Namun aparat kepolisian dengan sigap segera mengamankan kedua tersangka dan di satu sisi mencegah agar Ais tidak mengejar.

Istri korban, Silvia Walalangi (41) mengungkapkan bahwa meskipun kecewa, ia tetap menghargai keputusan hakim.

"Apapun itu, saya selaku istri korban menghargai putusan majelis hakim karena mereka sudah bekerja secara maksimal dengan mempertimbangkan sistem peradilan anak," ujar Silvia saat ditemui usai sidang.

Guru Alexander Valentino WeruPangkey dan FL siswanya yang menikamnya
Guru Alexander Valentino WeruPangkey dan FL siswanya yang menikamnya (Kolase Tribun Manado/Facebook)

Ia didampingi tim penasihat hukumnya terlihat tegar meski tidak bisa dipungkiri ia juga kecewa dengan keputusan hakim.

Aliansi Masyarakat Peduli Korban Pembunuhan Guru dan Forum Keluarga pendeta juga mengungkapkan hal yang sama di halaman depan Kantor Pengadilan Negeri Manado.

Dengan adanya kejadian ini, Silvia mengimbau seluruh komponen pemerintah meninjau kembali bahkan melakukan revisi terhadap sistem peradilan anak.

Tak Dihadiri Prabowo, Anies Baswedan Diteriaki Presiden saat Beri Sambutan di Reuni 212

Habib Rizieq Shihab Sebut Dicekal, Mahfud MD: Itu Diulang-ulang, Melapor Saja Tidak Pernah

Ia menyarankan sistem ini jangan hanya terpaku pada usia anak, tetapi juga seberapa berat pelanggaran yang dilakukan sang anak.

"Kalau anak sudah melakukan pelanggaran berat seperti pembunuhan berencana, jangan lagi dilindungi oleh batasan usia. Biar ada efek jera," katanya.

Yuddi Robot selaku tim penasihat hukum korban, juga menyarankan agar dilakukan pengklasifikasian pelanggaran anak dalam sistem tersebut.

"Untuk membantu pemerintah melakukan revisi, kami rencananya akan membentuk forum diskusi lintas LSM supaya dilakukan pengklasifikasian hukuman bagi pelaku di bawah umur,"
(*)

Tak Sengaja Telan Duri Ikan, Pria Ini Malah Selamat dari Maut

Penulis: Isvara Savitri
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved