10 Pahlawan Pencegah Stunting Terima Penghargaan
10 Tokoh masyarakat mendapat pemghargaan dari pemerintah karena berbagai upaya yang telah dlakukan untuk mencegah stunting.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Sigit Sugiharto
Sejak 2017 aktif dalam advokasi Nasional dg beraudiensi dan mendesak komisi 8, 9, 10 DPR RI utk menjadikan stunting program nasional
Pada saat ini PP Nasyiatul Aisyiyah bekerjasama dengan Lazismu dalam program pencegahan stunting bertajuk Tingkatkan Kemampuan Gizi Seimbang (TIMBANG) di seluruh Indonesia, di 34 provinsi dan 462 daerah kabupaten/kota, salah satunya di Desa Rawabelut, Sukaresmi, Cianjur.
NA juga memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas bidan desa dan kader posyandu serta melibatkan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat (Toga Toma) dalam kampanye pencegahan stunting.
Kegiatan utama program TIMBANG adalah
==Family Learning Center, yakni pendampingan masyarakat berbasis keluarga,
==Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah), yakni posyandu Remaja dengan Pelayanan holistik meliputi Pemeriksaan IMT, Pemeriksaan HB, Konseling Kespro, Konseling Psikologi, Makanan Bergizi, dan Edukasi.
4. Zack Petersen
Ia menerima gelar B.A dari University of Northern Iowa dan MA dari Fletcher School of Law & Diplomacy.
Mengawali karir sebagai relawan Peace Corps di Mauritania, kemudian bekerja untuk World Bank Group, Mars International, dan Research Triangle Institute, hingga mengantarkan Zack kini sebagai aktivis pencegahan stunting.
Bekerjasama dengan organisasi relawan lainnya (indorelawan, doctor share, organisasi aktivitas mahasiswa kedokteran indonesia/CIMSA) sampai saat ini telah menjangkau 5,000 keluarga di 18 pulau di seluruh Indonesia, untuk mempromosikan 1.000 HPK.
Zack bersama tim-nya juga telah melatih 200 kader di 65 posyandu, dan berambisi untuk mencapai 10.000 keluarga pada pertengahan tahun 2020.
Terinspirasi dari pertemuan inisiatif Public Private Partnership yang dipimpin KSP pada April 2018, kemudian menjadi sebuah gerakan sederhana di tahun yang sama, kini resmi menjadi sebuah Yayasan 1000 days fund dan sedang bermitra dengan Ikatan Bidan Indonesia, Angkasa Pura, Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL), Bank Dunia, Gates Foundation, dan Japan International Cooperation Agency (JICA)
5. Robyn Soetikno
Ia meraih S1 Bachelor of Arts dari Sarah Lawrence College, NY dengan fokus di psikologi dan kesehatan masyarakat, dan S2 MSc International Health Management dari Imperial College London, UK.
Mengamati kebutuhan ibu-ibu usia muda atas informasi seputar kehamilan dan pertumbuhan balita, Robyn membuat aplikasi Teman Bumil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/anti-stunting-1.jpg)