Efisiensi Mengerek Cuan CEKA

Sepanjang sembilan bulan tahun 2019 ini, PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk mencatatkan penurunan penjualan bersih

Efisiensi Mengerek Cuan CEKA
kontan.co.id
Produk PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sepanjang sembilan bulan tahun 2019 ini, PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk mencatatkan penurunan penjualan bersih sebesar 18,77% year on year (yoy) menjadi Rp 2,25 triliun. Namun strategi efisiensi mengerek kinerja laba periode berjalan hingga lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp 131,09 miliar.

Harga CPO Naik, Saham Agri Gembur

Manajemen Wilmar menyebutkan, penghematan biaya antara lain terjadi dalam pos administrasi dan operasional pabrik. "Misalnya di pabrikan kami optimalkan lini produksi yang telah existing," terang Erry Tjuatja, Presiden Direktur PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk ditemui usai rapat umum pemegang saham (RUPS), Rabu (6/11).

Menurut catatan internal Wilmar, penurunan biaya selama sembilan bulan tahun ini sekitar 10%-15% dibandingkan dengan tahun lalu. Makanya, mereka mampu meningkatkan margin keuntungan.

Sementara jika melihat lebih jauh kinerja keuangan hingga September 2019, beban pokok penjualan Wilmar memang turun lebih besar ketimbang penurunan penjualan bersih. Besar penurunannya hingga 22,31% yoy menjadi Rp 2,02 triliun.

Beban penjualan serta beban umum dan administrasi pun berkurang. Masing-masing biaya itu turun 39,13% yoy menjadi Rp 35,92 miliar dan 34,79% yoy menjadi Rp 29,45 miliar.

Waspadai Hongkong, Indonesia!

Tak heran jika Wilmar masih mampu mengerek cuan. Perlu diketahui, capaian laba tahun berjalan mereka dari Januari-September 2019 bahkan melebihi laba periode berejalan sepanjang tahun lalu. Tahun 2018, laba tahun berjalannya sebesar Rp 92,65 miliar atau sekitar 70,68% dari laba periode berjalan sembilan bulan tahun ini.

Oleh karenanya, Wilmar memastikan laba tahun berjalan 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Hanya saja, perusahaan itu tidak secara gamblang mengungkapkan proyeksi laba tahun berjalan tahun 2019.

Wilmar juga menyimpan informasi mengenai target pendapatan yang dibidik. Meskipun, mereka mulai melihat tren kenaikan harga jual jual crude palm oil (CPO) alias minyak sawit mentah belakangan ini. Manjemen perusahaan berdalih, tidak ingin berspekulasi dengan harga CPO. Acuan utamanya adalah permintaan pasar.

Utilitas pabrik

Dengan alasan yang sama pula, Wilmar mengaku belum tertarik untuk menambah kemampuan produksi. Tahun depan, perusahaan itu tidak menganggarkan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) yang besar. Sementara setiap tahun, biaya operasionalnya tak lebih 10% dari aset tetap.

Sejauh ini, Wilmar mengoperasikan satu pabrik minyak nabati spesialitas di Cikarang, Jawa Barat berkapasitas produksi 210 ton per hari. Perusahaan berkode saham CEKA di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut juga memiliki pabrik minyak nabati di Pontianak, Kalimantan Barat berkapasitas 650 ton per hari. Utilitas pabrik sekitar 90%.

AA Maramis Jadi Pahlawan Nasional: Presiden Apresiasi Perjuangan ODSK

Erry menyebutkan, realisasi volume penjualan hingga September 2019 kemarin sekitar 240.000 ton. Dengan asumsi per bulan Wilmar menjual 26.700 ton, sampai akhir tahun 2019 nanti kemungkinan total volume penjualannya mencapi 320.000 ton.

Mayoritas penjualan Wilmar terjadi di pasar dalam negeri. Selain CPO, perusahaan itu juga menjajakan palm kernel, tengkawang dan produk lain-lain. (lihat tabel)

Informasi saja, Bloomberg mencatat jika harga kontrak CPO untuk pengiriman Januari 2020 di pasar Malaysia Derivatif Exchange pada Rabu (6/11) tercatat RM 2.554 per ton atau tertinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu. Harga CPO pada periode yang sama tahun lalu sebesar RM 2.357 per ton.  (Agung Hidayat)                

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved