Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jokowi Kesal Bunga Kredit Tak Turun-turun

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pelaku industri perbankan segera menurunkan suku bunga kredit.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Antara Foto: Wahyu Putro
Jokowi Saat Membawakan Sambutan 

Bimo lantas mengungkapkan alasan perbankan belum menurunkan suku bunga. Dikatakan, jika saat ini suku bunga perbankan tidak lagi mengikuti pola penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia seperti biasanya.

Ini dikarenakan perbankan saat ini cenderung justru melihat pasar. ”Sekarang sudah tidak bisa rule of time (6-9 bulan setelah penurunan BI rate) kayak gitu lagi. Dia benar-benar melihat dari market-nya sekarang. Kalau rule of time kayak gitu kalau likuiditasnya ada,” ujarnya.

Likuiditas perbankan saat ini juga tidak ada lantaran dibagi oleh pemerintah yaitu antara untuk dana pihak ketiga (DPK) dan surat utang negara (SUN). Itu sebabnya perbankan tidak bisa langsung mengikuti penurunan suku bunga acuan BI.

Intinya, kata Bimo, BNI mendengarkan permintaan Presiden Jokowi. Namun keinginan itu tak bisa langsung direalisasikan jika cost of fund belum turun. "Kalau cost of fund belum turun, ya tidak beranilah. Nanti kalau kita semakin kecil dimarahi investor,” jelas dia.

Saat ini perbankan tengah mengupayakan penurunan cost of fund secara perlahan. Pada Kuartal III 2019, cost of fund BNI berada di posisi 3,2 persen. ”Pak Jokowi kan baru ngomong masa langsung bisa kejawab, ya tidak bisa intinya cost of fund-nya turun dulu," ungkap dia.

Di lokasi yang sama, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan juga mengatakan hal senada. Meski Bank Mandiri mengaku masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga tapi biaya dana dan persaingan pasar juga menjadi pertimbangan.

”Ada sih (ruang penurunan bunga kredit), karena kami juga nurunin cost of fund juga pasti terus melihat persaingan di pasar juga. Pasti dua-duanya bagian dari industri juga. Jadi dalam kaitan itu pastilah kami respons, nggak mungkin nggak respons," tuturnya.

Sementara Direktur Bank Danamon, Rita Mirasari menilai, peluang penurunan bunga kredit di bank masih belum bisa ditentukan. Sebab, menurutnya, pihaknya masih perlu melihat aspek perekonomian secara global. ”Selama ini kami masih melihat kondisi pasar di luar. Kami melihatnya masih terkait eksternal,” ujarnya.

Adapun Menteri Keuangan era 2013-2014, M. Chatib Basri menilai, pemangkasan suku bunga kredit tahun ini tidak akan memberikan dampak signifikan pada permintaan kredit. Pasalnya, ketersediaan likuiditas menjadi persoalan utama perbankan.

Chatib mengatakan dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat kembali melambat. Pemangkasan suku bunga acuan akan membuat imbal hasil deposito ikut turun, sehingga berpotensi mengurangi ketersediaan DPK bank. ”Bank hanya bisa meminjamkan uang kalau DPK naik. Masalahnya DPK itu melambat,” katanya di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Chatib melanjutkan, bahwa untuk mendorong permintaan kredit seharusnya hal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki daya beli melalui kebijakan fiskal. ”Contohnya penjualan sepeda motor ini turun. Pabriknya buat apa ekspansi kalau tidak ada yang beli,” jelasnya. (tribun network/sen/fit/dod)

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved