Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jokowi Kesal Bunga Kredit Tak Turun-turun

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pelaku industri perbankan segera menurunkan suku bunga kredit.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Antara Foto: Wahyu Putro
Jokowi Saat Membawakan Sambutan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pelaku industri perbankan segera menurunkan suku bunga kredit. Hal ini seiring dengan telah dipangkasnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) beberapa kali. "Saya mengajak untuk memikirkan secara serius untuk menurunkan suku bunga kredit," katanya.

Begini Upaya Pemkab Ini Wujudkan Smart City

Jokowi kemudian membandingkan dengan negara lain yang bunga kreditnya sudah lebih kompetitif. Jokowi pun menunggu perbankan segera menurunkan bunga kredit. "Negara lain sudah turun, turun, kita BI-rate sudah turun, banknya belum, ini saya tunggu," kata Jokowi saat acara Peresmian Pembukaan Indonesia Banking Expo 2019, Jakarta, Rabu (6/11).

Permintaan Jokowi agar pelaku industri perbankan menurunkan suku bunga kredit itu kemudian mendapat tepuk tangan dari para hadirin. Jokowi pun menganggap tepuk tangan itu sebagai sikap setuju dari para pelaku dunia perbankan. ”Tepuk tangan berarti setuju. Oke saya catat lagi,” ujarnya.

Menurut Jokowi, penurunan suku bunga kredit ini sangat penting, khususnya terhadap keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah yang membutuhkan akses permodalan. ”Kawal mereka yang mikro dan kecil-kecil ini. Gede banget jumlahnya, data saya, ada 60 juta (UMKM),” katanya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) pada 24 Oktober lalu telah menurunkan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5 persen.

10 Cabor Dicoret di PON Papua 2020, Toni Bilang Alasannya Kesiapan Tuan Rumah

Penurunan suku bunga kredit itu diharapkan dapat menarik minat pengusaha meminjam permodalan di perbankan dengan tujuan berekspansi atau meningkatkan level usaha. Salah satunya terhadap pinjaman modal ke pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Jokowi pun meminta perbankan membuka akses kepada masyarakat untuk mendapat kredit UMKM. Kemudian di saat yang sama juga meningkatkan likuiditas dalam negeri. ”Berikan prioritas ke sana, agar (gap) kesenjangan kita bisa ditekan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di bawah,” tuturnya.

Tak hanya itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu juga mengajak sektor perbankan tak hanya membantu pembiayaan perusahaan yang besar saja. Ia juga tak ingin perbankan hanya memberi pinjaman kepada perusahaan yang sama setiap tahunnya. ”Sekali lagi jangan membiayai yang besar-besar saja. Dan jangan membiayai yang itu-itu saja. Tepuk tangan lagi artinya setuju," katanya.

Selain itu, dia meminta perusahaan asuransi serta perbankan agar berkonsolidasi memajukan inklusi keuangan. Sebab, Jokowi menilai perbankan dan asuransi masih memfokuskan pada pelayanan dan bisnis mereka masing-masing.

Dia mencontoh, penggunaan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang masih dikeluarkan dari bank-bank yang berbeda. Tidak mengefisiensikan penggunaan satu kartu.

"Jangan kerja sendiri-sendiri. Saya ingat 5 tahun lalu saya perintah ke Menteri BUMN ngapain sih ini bank bikin ATM sendiri-sendiri, buat satu saja cukup, tapi bisa dipakai empat bank, semua bank," papar Jokowi.

Permintaan terakhir sebelum membuka event dari Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Jokowi menyebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar berinovasi menggulirkan insentif. Disertai agar OJK membuka cabang di kawasan atau daerah terpencil.

"Terakhir saya minta, mengajak pelaku sektor perbankan, terutama OJK sebagai regulator dan pengawas kegiatan sektor perbankan untuk perkuat insentif dan disinsentif terkait yang saya sampaikan. Kalau mau buka cabang di Wamena, berikan insentif,” pintanya.

Golkar Buka Pendaftaran Bakal Calon Kepala Daerah 11-16 November, Nama-nama Ini Mencuat

Tergantung Cost of Fund
Menanggapi sindiran dari Presiden Jokowi itu, beberapa pelaku industri perbankan mengaku belum berani menurunkan suku bunga jika biaya dana atau cost of fund masih tinggi.

”Kita lihat pelan-pelan, kalau cost of fund turun, kita baru berani menurunkan, jadi intinya kami turunin cost of fund baru bisa review bunganya,” kata Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (BNI), Ario Bimo.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved