Minggu, 10 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Fakhri: Kasus Alfin Jadi Teguran untuk Manajemen Timnas

Pelatih timnas sepak bola Indonesia di bawah usia 19 tahun atau U-19, Fakhri Husaini turut merasakan kesedihan

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
jalu
Fakhri Husaini Akui Didekati PSSI soal Timnas U-19 Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelatih timnas sepak bola Indonesia di bawah usia 19 tahun atau U-19, Fakhri Husaini turut merasakan kesedihan mendengar kabar meninggalnya Alfin Lestaluhu.

Eks penggawa timnas Indonesia U-16 di Pra Piala Asia U-16 2020 itu meninggal dunia karena mengalami encephalitis dengan hypoalbumin.

Pengamat Menilai Presiden Sulit Ambil Keputusan, Dampak Pernyataan Jokowi soal Perppu KPK

Encephalitis adalah kondisi di mana otak mengalami pembengkakan karena infeksi atau karena gangguan sistem imun dan infeksi bisa disebabkan karena bakteri atau virus.

Sedangkan hypoalbumin merupakan kondisi medis di mana level albumin, yang merupakan protein utama dalam darah yang diproduksi liver, terlalu rendah sehingga bisa memicu pembengkakan.

Sakit itulah yang membuat Alfin mengembuskan napas terakhirnya di RS Harapan Kita, Jakarta, Kamis (31/10/2019) pukul 22.11 WIB.

Fakhri menilai kepergian Alfin menjadi kehilangan besar untuk dunia sepak bola Indonesia. Sebab Alfin mempunyai kemampuan dan potensi besar dalam bermain bola di lapangan. Peran besarnya sudah terbukti pada saat memperkuat timnas U-16 berlaga di beberapa ajang internasional.

“Ini tentu kita sangat kehilangan salah satu aset masa depan sepak bola Indonesia, Alfin. Kita sudah lihat sama-sama bagaimana dia main ketika bersama timnas U-16," kata Fakhri saat ditemui di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/11/2019).

Pelatih berusia 54 tahun itu turut merasakan kesedihan dan menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan.

"Tentu saya sangat terkejut sekaligus sedih. Tentu saya mewakili keluarga besar (timnas) U-19 mengucapkan turut berduka yang sangat mendalam," ucapnya.

Fakhri awalnya tak mengira pemain jebolan SKO Ragunan tersebut meninggal dunia karena memiliki penyakit. Lambat laun Fakhri mulai mengetahui penyakit yang diidap Alfin.

"Tadinya saya berpikir dia sakit karena gempa. Ternyata ada penyebab lain. Menurut saya, seyogyanya jika di awal ada pemeriksaan medis, pengobatan bisa cepat yah. Tentu ini jadi pelajaran berharga buat manajemen tim nasional," kata Fakhri.

Kepergian Alfin, lanjut Fakhri, menjadi cambuk besar untuk federasi sepak bola Indonesia (PSSI). Ia berharap pembenahan dilakukan terutama ketika pemain membela timnas Indonesia. Dokter yang berada di skuat Garuda harus mendeteksi setiap masalah pemain.

Menag Usul Berdoa di Masjid Gunakan Bahasa Indonesia

"Di satu sisi ini juga menjadi perhatian untuk tim nasional usia muda terutama. Karena di setiap tim kelompok umur ada tim medis, ada dokternya. Kita berharap kasus Alfin ini, penyakit yang diderita Alfin ini paling tidak terdeteksi jauh-jauh hari," ucapnya.

Sakit kepala

Erwin Syahril Lestaluhu, ayah Alfin, sempat menceritakan perjuangan anaknya ketika dirawat di RS Royal Progress, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved