Renungan Kristen
KHOTBAH - Imago Dei
Sekalipun seseorang tampak tidak menarik namun dia lebih bernilai daripada materi, mengapa demikian? Karena pada faktanya
Kejadian 7:26-27
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sekalipun seseorang tampak tidak menarik namun dia lebih bernilai daripada materi, mengapa demikian? Karena pada faktanya setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Image of God/ Imago Dei). Apa artinya gambar Allah? Bagaimana gambar Allah ini menjadi landasan bagi kita untuk mengalami hidup yang berkemenangan?
Kej 1:26-27. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Laki-laki dan perempuan (tidak ada gender ketiga) sama-sama diciptakan Allah.
J.M. Boice mengatakan bahwa tempat yang tepat untuk memulai studi tentang ciptaan Allah adalah manusia karena manusia adalah sentral ciptaan Allah. Dalam ayat ini, keunikan dan superioritas manusia terhadap ciptaan lain diungkapkan dengan tiga cara.
Kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah, dan hal ini tidak dikatakan kepada ciptaan lain.
Kita diberi kuasa (otoritas bukan eksploitasi) atas ikan-ikan dilaut, burung-burung di udara, atas ternak, atas seluruh bumi, dan atas binatang melata yang merayap dibumi.
Ada suatu pengulangan dari kata “diciptakan” pada ayat 27. Kata “cipta” (Bara) hanya digunakan tiga poin dalam kisah penciptaan.
Ketika Allah menciptakan materi dari yang tidak ada (ay 1)
Ketika Allah menciptakan kehidupan yang berkesadaran (ay.21)
Ketika Allah menciptakan manusia (ay.27)
Progresinya adalah dari tubuh (atau materi) ke jiwa (atau kepribadian) ke roh (atau kehidupan dengan kesadaran akan Allah). Jadi manusia berada pada puncak ciptaan. Sayangnya, sering kita tidak menyadari akan hal ini dan tidak menghargai diri kita yang diciptakan sedemikian agung melebihi yang lain. Kita adalah klimaks dari ciptaan Allah. Kemenangan yang pertama yang kita dapatkan adalah kita diciptakan segambar dan serupa ALlah.
Seringkali orang Kristen menjalani hidup yang lemah dan payah karena menempatkan dirinya dibawah ciptaan lain. Harusnya ciptaan lain dibawah otoritas manusia dan manusia di bawah otoritas Allah.
Bisa bayangkan betapa sedihnya Pencipta kita ketika kita diciptakan sebegitu mulia tetapi kita tidak hidup dengan pikiran dan cara-cara yang mulia? Kita menjadi takut dengan ciptaan lain seperti kepercayaan adanya penunggu di pohon besar, batu besar dan benda-benda lain. Itu merupakan penghinaan kepada pencipta kita, bukan?
Itulah mengapa Allah sangat benci kepada penyembahan berhala (lih Yer 10:3,5,8). Berhala adalah materi ciptaan yang mati dan terbatas sedangkan Allah adalah hidup, pencipta dan penguasa segala sesuatu. Yer 10:10. “Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.”
Dalam dunia Timur Kuno (Ancient Near East), konsep “gambar” dan “rupa” adalah konsep penting untuk menandingi kisah-kisah yang muncul di Mesopotania, Kanaaan dan Mesir kuno. Contohnya kisah yang ditulis dalam bahasa Akkadian, Enuma Elish. Cerita ini melukiskan pertarungan antara dewa tertinggi, dewa Marduk dengan si jahat yang bernama Tiamat Qingu.
Marduk menghukum Qingu dan menciptakan manusia dari darah Qingu. Kisah lainnya muncul dari teks Akkadian kedua adalah kisah Atrahasis. Kisah ini menggambarkan pertentangan dewa-dewa yang lebih rendah dengan dewa-dewa yang lebih berkuasa. Dewa yang lebih rendah capek karena buat irigasi jadi mereka demo supaya diciptakan para pekerja baru. Akhirnya manusia diciptakan untuk menjadi budak para dewa. Dari kisah-kisah ini, kita bisa lihat bahwa betapa rendahnya konsep penciptaan manusia yang berlaku pada waktu itu. Manusia dilihat begitu rendah.
Dalam budaya Mesir kuno. konsep “gambar” muncul sebagai perwakilan raja yang memerintah di suatu wilayah. Kehadiran dan otoritas raja diwakili dengan adanya patung (statue/”selem”). Di wilayah mana raja memerintah disitu ada patung untuk melambangkan kehadirannya di setiap provinsi. Alkitab memakai kata “gambar” untuk menjelaskan siapa manusia di tengah-tengah bumi ciptaan-Nya. Kehadiran manusia menjadi presentasi kehadiran Allah di tengah dunia. Manusia ada untuk berkuasa atas semua ciptaan sebagai konsekuensi logis dari membawa gambar Allah (ay 28)
Ada tiga aspek “Manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah”
Manusia memiliki kepribadian (Memiliki perasaan, pikiran dan kehendak).
Manusia memiliki Moral (Memiliki kebebasan dan tanggung jawab). Kata Augustinus (Bapa Gereja), kebebasan kita makin dibatasi sejak kejatuhan. Kalau semula posse non pecarre (dapat tidak berdosa), sesudah kejatuhan jadi non posse non peccare (tidak dapat tidak berdosa).
Manusia memiliki kerohanian. Dengan roh maka manusia dimungkinkan untuk bersekutu dengan Allah yang adalah Roh.
Sejak awal, selalu merupakan keinginan Tuhan untuk membuat kita menjadi seperti Dia. Namun kenyataannya tidak terjadi seperti itu. FAKTANYA MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA. Dosa membuat manusia tidak lagi mencerminkan kemuliaan-Nya tetapi malahan mencerminkan sesuatu yang sangat berlawanan dengan Allah. Gambar Allah menjadi rusak dan menjadi anti-Allah. Ketiga aspek yakni kepribadian, moral dan kerohanian menjadi tercemar oleh dosa. Dosa terlalu kuat untuk dilawan. Perjuangan manusia melawan dosa selalu dimenangkan oleh dosa. Manusia benar-benar diperhamba oleh dosa. Bagaimana manusia mengalami hidup yang berkemengan?