Dosen IPB Berencana Lempar Bom di Roxy: Gagalkan Pelantikan Jokowi

Polisi menyebut puluhan bom ikan milik dosen (nonaktif) Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith hendak diledakkan bersamaan

Dosen IPB Berencana Lempar Bom di Roxy: Gagalkan Pelantikan Jokowi
Kolase Tribun Jabar (Shutterstock via Kompas.com)
Ilustrasi- profil Abdul Basith dosen IPB yang ditangkap terkait bom molotov 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Polisi menyebut puluhan bom ikan milik dosen (nonaktif) Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith hendak diledakkan bersamaan Aksi Mujahid 212 di Jakarta, 28 September lalu. Tujuannya menciptakan kerusuhan guna menggagalkan pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI.

Hal ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto, saat dihubungi, Rabu (9/10).

Baca: Buya Syafii Usul Muhadjir Tetap Mendikbud

Suyudi mengungkapkan, Abdul Basith bersama kelompoknya berencana melemparkan bom-bom berisi paku buatan anggotanya di beberapa tempat pusat perbelanjaan dan bisnis di wilayah Grogol sampai dengan Roxy, Jakarta Pusat. "Jadi target utama tujuan mereka adalah membatalkan pelantikan Jokowi sebagai presiden. Mereka berencana meledakkan bom ikan berisi paku yang disiapkan di sepanjang wilayah Grogol sampai dengan Roxy," kata Suyudi.

Diketahui, kawasan Grogol menjadi salah satu titik awal kerusuhan yang terjadi pada 13 Mei 1998 silam. Dan Roxy merupakan kawasan pusat perbelanjaan telepon seluler dan barang elektronik lainnya di Jakarta Barat. Roxy juga menjadi salah satu tempat yang menjadi sasaran perusakan dan penjarahan pada saat kerusuhan Mei 1998.

Menurut Suyudi, saat aksi Mujahid 212, Abdul Basith dibantu delapan rekannya membawa misi menurunkan Jokowi sebagai presiden dengan isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).

"Jadi, tahapan rencana mereka setelah kerusuhan tercipta, yakni menurunkan presiden dengan isu karhutla dan revisi UU KPK. Lalu, terakhir yang menjadi target utama mereka adalah membatalkan pelantikan presiden terpilih," ujarnya.

Baca: Pelantikan Jokowi-Maruf Pukul 14.00 WIB

Abdul Basith bersama empat anggota kelompoknya ditangkap polisi di rumahnya di kawasan Tangerang pada Jumat, 27 September 2018, atau sehari jelang Aksi Mujahid 212 di Jakarta. Ditemukan 29 bom berisi paku dari dalam rumah tersangka.

Abdul Basith dijerat dengan pasal berlapis, di antaranya Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 atas pembuatan dan kepemilikan bahan peledak.

Selain Abdul, polisi menangkap sembilan tersangka lain dan seorang di antaranya merupakan pensiunan TNI AL, Sony Santoso. Mereka saat ini ditahan di Mapolda Metro Jaya. Proses hukum terhadap Sony dilakukan bersama-sama dengan Puspomal karena Sony merupakan pensiunan TNI.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan barang bukti yang disita dari rumah dosen IPB Abdul Basith di Tangerang, Sabtu (28/9/2019) lalu adalah bom ikan berisi paku. Sebelumnya polisi menduga itu adalah molotov. "Itu adalah bom ikan yang di dalamnya ada paku. Jumlahnya 29," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved