Jumat, 10 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penurunan Harga Saham Sudah Terbatas: IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global

Indeks saham LQ45 masih belum bisa bangkit. Indeks dengan konstituen saham-saham berkapitalisasi besar ini turun 2,77%

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan.co.id
Pergerakan saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks saham LQ45 masih belum bisa bangkit. Indeks dengan konstituen saham-saham berkapitalisasi besar ini turun 2,77% pada September, menggenapi penurunan 4,17% sejak akhir tahun hingga kemarin Rabu (2/10) atau year to date.

Baca: Aliran Kredit Ekspor Impor Masih Melaju

Analis menilai, kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi global menjadi penyebab utama investor meninggalkan pasar saham. Apalagi, OECD telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 3,2% menjadi 2,9%.

IMF juga memangkas pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 3,3% menjadi 3,2%. Keduanya juga menggunting proyeksi ekonomi tahun 2020. “Sehingga, investor lebih memilih aset yang rendah risiko, seperti obligasi pemerintah dari pada saham,” ujar Vice President Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali, Rabu (2/10).

Risiko lain yang masih menahan laju indeks saham LQ45 adalah perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang berlarut-larut.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan, penurunan indeks juga disebabkan harga komoditas yang turun dan indeks sektor manufaktur Indonesia yang merosot ke level terburuk dalam tiga tahun terakhir.

Baca: Bangunan Telantar RS Ratumbuysang Kecipratan Rp 500 M

Kesempatan beli

Tapi, bila investor cermat, tren pelambatan global juga memberi peluang kenaikan harga saham-saham big caps dari.

Sukarno menyebut, PMI AS periode September versi ISM juga merosot ke posisi 47,8%, terburuk dalam 10 tahun terakhir. Kondisi ini membuka peluang penurunan suku bunga AS.

Hal ini akan membawa pelaku pasar kembali ke pasar saham. "Kemudian aktivitas window dressing di akhir tahun biasanya akan memberi peluang LQ45 untuk menguat," imbuh Soekarno. Investor bisa mengoleksi saham di pengujung tahun, bertepatan dengan window dressing.

Frederik menambahkan, ruang penguatan LQ45 di tahun ini masih terbatas. Itu karena kondisi ketidakpastian global masih membayangi. “Suku bunga secara global masih turun, sehingga lebih menarik investasi di obligasi,” jelas Frederik.

Tapi, penurunan saham sudah tidak banyak lagi. Menurut Analis Panin Sekuritas William Hartanto, ini karena rata-rata saham di indeks LQ45 sudah merosot. “Hampir semua jadi penekan indeks, secara khusus lebih banyak dari perbankan,” jelas William.

Untuk tahun depan, seiring dengan berlanjutnya isu resesi, Sukarno merekomendasikan investor masuk ke sektor kebutuhan pokok konsumen, sektor tambang dengan komoditas utama emas dan mencari saham yang rajin membagi dividen. (Benedicta Alvinta Prima)     

 

Baca: Pejabat di Cina Simpan 13 Ton Emas

Kinerja saham LQ45

 
Kinerja terbaik

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved