Aliran Kredit Ekspor Impor Masih Melaju

Tantangan penyaluran kredit ekspor impor masih besar di tengah tensi perang dagang China-Amerika Serikat (AS) yang masih panas.

Aliran Kredit Ekspor Impor Masih Melaju
Daily Star
Aktivitas ekspor 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Tantangan penyaluran kredit ekspor impor masih besar di tengah tensi perang dagang China-Amerika Serikat (AS) yang masih panas. Meski begitu, sebagian bank masih berhasil mencatat pertumbuhan cukup bagus dari sisi penyaluran kredit di sektor ini.

Baca: Bangunan Telantar RS Ratumbuysang Kecipratan Rp 500 M

Bank BNI misalnya,  mencatat pertumbuhan kredit ekspor impor tumbuh signifikan per Agustus yakni di kisaran 35%-40%. "Kredit ekspor merupakan salah satu  produk unggulan, yang diharapkan akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kredit BNI yang berkualitas dan sustain," kata Direktur Tresuri dan Internasional BNI Bob Tyasika Ananta kepada KONTAN, Rabu (2/10).

Untuk mendukung pertumbuhan ekspor yang berkualitas, BNI berupaya mengoptimalisasikan cabang-cabang luar negeri yang mempunyai akses dan pengetahuan ke pasar setempat di luar negeri.

Baca: Pejabat di Cina Simpan 13 Ton Emas

Sejalan dengan kondisi perekonomian global yg cukup menantang, bank BUMN ini akan lebih selektif dan prudent dalam menyalurkan kredit ekspor impor ke depan. Strateginya, fokus membiayai perusahaan yang bisnisnya berkaitan dengan Indonesia, pemain terkenal di rantai pasok global, serta pada sektor yang masih mempunyai prospek secara global.

Adapun Bank Central Asia  (BCA) telah menyalurkan kredit ekspor impor Rp 7,6 triliun per Juli 2019, itu tumbuh 16% year on year (yoy). Sekretaris Perusahaan BCA Raymon Yonarto, menyatakan, penyaluran kredit di sektor ini akan dilakukan tergantung kebutuhan nasabah.

Sedangkan Bank Rakyat Indonesia  (BRI) telah menyalurkan kredit ekspor impor sebesar Rp 19,5 triliun per Agustus. Realisasi tersebut tumbuh relatif stagnan. Kredit itu paling besar mengalir ke sektor industri kertas, pertambangan, dan perkebunan.

Sekretaris Perusahaan BRI Hary Purnomo, melihat prospek kredit ekspor impor ke depan akan tergantung pada kondisi ekonomi global. "Perang dagang AS-China dan melemahnya pertumbuhan negara tujuan ekspor Indonesia dinilai membuat pelaku usaha wait and see untuk berekspansi," katanya.

Baca: Bamsoet Jadi Ketua MPR usai Prabowo-Mega Bertemu

Jika kondisi ekonomi global membaik dan perang dagang mereda, Hary meyakini kredit ekspor impor akan terdorong. Dalam melakukan pembiayaan ini, BRI concern pada mitigasi risiko, sehingga nasabah tidak terkena dampak penurunan nilai tukar rupiah. Caranya, dengan kasih kredit valas ke debitur yang memiliki cash flow dalam valas juga. (Dina Mirayanti Hutauruk)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved